Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026: Mengembalikan Marwah "Pendidikan" di Tengah Dominasi "Pengajaran"

Dhinar Sasongko • Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:14 WIB
Agus Hermawan
Agus Hermawan
 
Agus Hermawan, Mahasiswa Pascasarjana Doktoral PAI UIN Salatiga

RADARSEMARANG.ID - Tepat hari ini, 2 Mei 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Momentum ini bukan sekadar seremoni mengenang Ki Hadjar Dewantara, melainkan titik balik krusial untuk mengevaluasi satu penyakit menahun dalam sistem kita yaitu Pendidikan yang terjebak dalam bingkai sekadar pengajaran.

Di tengah pesatnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini telah terintegrasi di ruang kelas, kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa sekolah seringkali hanya menjadi pabrik transfer informasi, bukan bengkel pembentukan karakter.
Akar permasalahan “pengajaran” vs “Pendidikan” ini secara esensial, terdapat jurang perbedaan antara mengajar dan mendidik.

Pengajaran (instruction) berfokus pada transfer kognitif, penyelesaian kurikulum, dan pencapaian angka-angka di atas kertas dengan target hasil akhirnya adalah kemahiran teknis.

Berbeda dengan Pendidikan (education) yang berfokus pada penanaman nilai (moral), kemandirian berpikir, dan pembentukan adab dengan hasil akhirnya adalah kedewasaan budi pekerti.

Evaluasi kondisi Pendidikan Nasional kita saat ini menurut Analisa penulis diantaranya (1) berorientasi skor. Sistem pendidikan kita masih sangat terobsesi dengan data statistik dan nilai kuantitatif.

Akibatnya, guru terbebani menuntaskan materi (pengajaran) daripada memastikan siswa memahami makna dari ilmu tersebut (2) Berkesan formalitas administratif. Beban administrasi guru yang tinggi seringkali mengalihkan energi mereka dari peran sebagai "pamong" menjadi sekadar "petugas administrasi kelas" (3) Munculnya kesenjangan empati. Di era digital 2026, interaksi manusiawi di sekolah mulai terkikis oleh efisiensi layar. Siswa mungkin pintar secara logika, namun rapuh secara mental dan etika.

Dunia pendidikan tahun 2026 tidak lagi kekurangan informasi. Google dan AI bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik. Jika sekolah hanya mengandalkan "pengajaran" materi yang bisa ditemukan di internet, maka peran sekolah akan segera menjadi using maka akan menjadi benarlah kata Aristoteles bahwa "Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali."

Untuk membedah kebuntuan ini, diperlukan langkah strategis yang tidak hanya bersifat teknis, tapi juga filosofis. Untuk itu diperlukan beberapa langkah  taktis diantaranya (1) Redefinisi peran guru sebagai coach dan role model. Guru tidak boleh lagi memposisikan diri sebagai satu-satunya sumber ilmu. Di tahun 2026, guru harus bertransformasi menjadi fasilitator emosional dan inspirator moral.

Fokus utama bukan pada "apa yang dipelajari", tapi "mengapa kita mempelajari ini" dan "bagaimana ilmu ini bermanfaat bagi sesama". (2) Integrasi kurikulum berbasis proyek karakter. Kurikulum tidak boleh hanya berisi daftar kompetensi dasar yang kaku. Perlu diperbanyak proyek sosial yang mewajibkan siswa berinteraksi langsung dengan masalah masyarakat. Ini akan mengasah empati dan tanggung jawab sosial, yang merupakan inti dari Pendidikan (3) Sistem penilaian harus mulai memberikan bobot besar pada aspek sikap, integritas, dan kolaborasi. Rapor tidak boleh hanya berisi deretan angka, tapi juga narasi perkembangan karakter anak yang asli bukan rekayasa (4) Pendidikan bukan tanggung jawab tunggal sekolah. Solusi jangka panjang adalah membangun sinergi antara orang tua dan guru agar nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tetap konsisten dipraktikkan di rumah.

Peringatan Hardiknas 2 Mei 2026 harus menjadi momentum mengembalikan Marwah dan pengingat bahwa tujuan akhir pendidikan adalah memanusiakan manusia. Kita tidak membutuhkan robot-robot cerdas yang tidak punya nurani; kita membutuhkan generasi yang tidak hanya "tahu", tapi juga "paham" dan "peduli". Mari kita ubah wajah kelas-kelas kita: dari tempat transfer instruksi menjadi ruang persemaian pekerti. Selamat Hari Pendidikan Nasional!
(Agus Hermawan, Mahasiswa Pascasarjana Doktoral PAI UIN Salatiga).

Editor : Baskoro Septiadi
#hari pendidikan nasional #agus hermawan #Hari Pendidikan #UIN Salatiga #Kecerdasan Buatan