RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - “Perkaderan adalah jantung organisasi. Tanpa inovasi, kita kehilangan relevansi,” tegas Prof. Dr. Rasimin, M.Pd.
Pernyataan lugas dari Dekan FTIK UIN Salatiga tersebut menjadi pembuka diskusi dalam forum Training Senior Course (SC) Tingkat Nasional Tahun 2026 yang dihelat oleh Badan Pengelola Latihan (BPL) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga.
Agenda yang dipusatkan di DPRD Salatiga pada Rabu (1/4) ini merupakan upaya nyata organisasi untuk merumuskan ulang nakhoda perkaderan di tengah badai disrupsi digital.
Baca Juga: Generasi Z dan Alpha Perlu Literasi Digital, Prof Rasimin: “Saring Dulu Sebelum Share”
Sesi bertajuk "Menjawab Tantangan Zaman dan Merawat Identitas Perkaderan HMI di Era Modern" ini menjadi ajang diagnosis mendalam terhadap tiga pilar tantangan utama, yakni aspek ideologi intelektual, adaptasi teknologi, serta hambatan struktural organisasi.
Prof. Rasimin mengurai anjloknya tradisi literasi di kalangan kader akibat gempuran budaya instan yang menggerus nalar kritis.
Data empiris menunjukkan tren memprihatinkan, di mana porsi waktu untuk diskusi dan membaca yang pada era kejayaan mencapai 80 persen, kini terjun bebas ke angka 15 persen.
Sebaliknya, porsi waktu layar untuk hiburan dan aktivitas media sosial justru membengkak drastis hingga menyentuh angka 85 persen.
Baca Juga: Masih Ada Tempat Hiburan di Bandungan dan Kopeng yang Nekat Buka saat Ramadhan
“Ruang diskusi kini banyak dialihkan menjadi ajang perang komentar yang membunuh nalar kritis,” ungkap Prof. Rasimin di hadapan para peserta pelatihan.
Sebagai solusi konkret untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mendorong rekonstruksi kurikulum yang mengintegrasikan kompetensi global, seperti Kecerdasan Buatan (AI), SDGs, hingga keterampilan 4C guna mencetak instruktur yang adaptif di abad ke-21.
Menanggapi visi tersebut, Ketua Umum BPL HMI Cabang Salatiga, Muhammad Darrun, menjelaskan bahwa pelatihan berskala nasional ini adalah ikhtiar untuk memutus rantai aktivisme pragmatis dan fokus pada pematangan spiritual serta pemikiran.
Ia menekankan bahwa kualitas instruktur tidak boleh hanya diukur dari formalitas kelulusan administratif, melainkan harus memiliki integritas serta pandangan ke depan yang luas.
“Kami menargetkan terbinanya instruktur yang memiliki kepribadian Muslim, intelegensi tinggi, adaptif, serta visioner,” ujar Muhammad Darrun merujuk pada sasaran utama kegiatan tersebut.
Baca Juga: Ketua HMI Unissula Semarang Dianiaya, Diduga Buntut Pengawalan Kasus Kekerasan Seksual
Menutup rangkaian agenda tersebut, Sekretaris Umum BPL HMI Cabang Salatiga, Derby Pratama, menambahkan bahwa standardisasi metodologi melalui E-Learning HMI dan literasi digital menjadi prioritas dalam periode kepengurusan 2025-2026.
“Melalui revitalisasi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) secara kontekstual, kami optimis HMI akan tetap konsisten menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin umat dan bangsa di masa depan,” pungkas Derby.(sas)
Editor : Tasropi