Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Basah oleh Tradisi, Hangat oleh Kebersamaan: Kisah Padusan di Kalitaman Menyambut Ramadan

Dhinar Sasongko • Rabu, 18 Februari 2026 | 19:32 WIB
Warga Salatiga memadati kawasan Kolam Renang Kalitaman, Rabu (18/02/2026) pagi.
Warga Salatiga memadati kawasan Kolam Renang Kalitaman, Rabu (18/02/2026) pagi.

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Langkah-langkah warga mulai memadati kawasan Kolam Renang Kalitaman, Rabu (18/02/2026) pagi. Udara masih basah oleh embun, tetapi suasana telah hangat oleh tawa dan sapa.

Di tepian kolam yang menyimpan jejak sejarah itu, ratusan orang berkumpul dalam satu semangat: menyucikan diri, merawat tradisi, dan menyambut datangnya Ramadan melalui Gebyar Padusan dan Ciblon.

Di bawah rindangnya pepohonan tua, Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, SpOG membuka kegiatan dengan senyum yang tak lepas dari kebanggaan.

Baginya, padusan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan budaya Jawa yang sarat makna.

Tradisi ini, tutur Robby, mengajarkan tentang pembersihan lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci.

“Padusan adalah pengingat bahwa kesiapan menyambut Ramadan bukan hanya soal fisik, tetapi juga hati,” pesannya.

Ia pun menaruh harapan pada generasi muda agar tak sekadar menjadi penonton zaman, melainkan pelaku yang menghidupkan kembali budaya asli Salatiga di tengah arus modernitas.

Di sisi lain, Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishak Palit, mengajak warga memaknai padusan lebih luas.

Air yang mengalir di Kalitaman, katanya, adalah simbol kehidupan yang harus dijaga. Ramadan bukan hanya momentum memperkuat hubungan dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga dengan alam.

“Tempat ini bagian dari kehidupan kita bersama,” ujarnya, menegaskan pentingnya merawat ruang-ruang publik yang menjadi simpul kebersamaan.

Bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kalitaman bukan sekadar kolam. Kepala dinasnya, Henni Mulyani, menyebut kawasan ini sebagai potensi wisata sejarah dan rekreasi yang terus tumbuh.

Sepanjang 2025, puluhan ribu orang datang berkunjung, bahkan wisatawan mancanegara turut menapakkan kaki di sini. Di pagi yang penuh makna itu saja, ratusan pengunjung tercatat hadir—membaur antara niat beribadah dan hasrat menikmati kearifan lokal.

Tradisi padusan di Salatiga memang tak bisa dilepaskan dari Kali Wedok dan Kalitaman. Ketua paguyuban sekaligus panitia, Suryanto, menuturkan bahwa warga secara turun-temurun mengambil air dari tujuh mata air di sekitar kawasan tersebut.

Angka tujuh dipercaya sebagai simbol kesempurnaan dan harapan akan kebersihan diri yang paripurna sebelum berpuasa.

Tak hanya ritual air, Kalitaman juga berdenyut oleh seni. Ciblon—perpaduan gerak tari, musik, dan permainan air—menjadi ekspresi kegembiraan yang khas.

Cipratan air tak sekadar membasahi tubuh, tetapi juga menghadirkan tawa dan kenangan masa kecil yang seakan dihidupkan kembali.

Suasana kian semarak ketika Sanggar Sekar Rinonce menampilkan Tari Gumbregeg Tirta Kalitaman.

Gerak para penari menggambarkan penuangan air dari tujuh sumber ke dalam kolam , sebuah simbol penyucian sekaligus rasa syukur atas limpahan kesegaran alam.

Irama rebana dari kelompok Nababa Pancuran berpadu dengan alunan musik dari Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) Kota Salatiga, menciptakan harmoni antara tradisi dan hiburan rakyat.

Di antara gemericik air dan lantunan doa, Gebyar Padusan dan Ciblon bukan hanya perayaan budaya.

Ia adalah ruang temu—antara masa lalu dan masa kini, antara spiritualitas dan kegembiraan, antara manusia dan alamnya.

Dan ketika matahari mulai meninggi di atas Salatiga, warga pulang dengan tubuh yang basah dan hati yang terasa lebih ringan—siap melangkah memasuki Ramadan dengan jiwa yang diperbarui.(sas)

Editor : Tasropi
#Dance Ishak Palit #Robby Hernawan