RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Menjelang pergantian tahun, perguruan tinggi memanfaatkan pekan terakhir Desember untuk mengevaluasi program dan menyusun langkah kerja.
Dalam konteks itu, FTIK UIN Salatiga berkunjung ke FTK UIN Sunan Ampel Surabaya untuk agenda Benchmarking Pengelolaan PPG Dalam Jabatan (Daljab), Selasa (30/12), di ruang rapat FTK UINSA.
Forum berlangsung hangat sejak sesi pembuka.
Setelah paparan singkat dari tuan rumah, diskusi bergerak ke sesi tanya jawab yang mengerucut pada hal-hal teknis, mulai alur layanan PPG, pembagian peran tim, hingga penyiapan perangkat pendukung seperti SOP dan data kinerja.
Perwakilan kedua kampus saling bertukar pengalaman, lalu membedah titik-titik yang dinilai efektif untuk diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing.
Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof Dr Rasimin, M.Pd, menilai pembelajaran antarlembaga penting untuk menjaga kualitas PPG.
“Benchmarking perlu dilakukan berkelanjutan agar mutu program tetap tinggi dan relevan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pertemuan ini membantu penyelenggara PPG menyelaraskan kurikulum, pembelajaran praktik, asesmen, serta layanan akademik dengan standar kompetensi guru, kebutuhan sekolah, dan dinamika kebijakan pendidikan.
Rasimin menyebut, hasil pertukaran praktik itu berpengaruh pada penguatan tata kelola.
“Dampaknya, akuntabilitas kepada pemerintah, sekolah mitra, dan masyarakat menjadi lebih kuat, reputasi institusi meningkat, serta lulusan lebih siap menjadi guru profesional,” katanya.
Menurutnya, praktik pengelolaan yang efektif dan efisien lebih mudah dikenali, sekaligus memperkuat inovasi serta perbaikan berkelanjutan.
Rombongan FTIK UIN Salatiga dipimpin Rasimin dan didampingi jajaran pimpinan serta tim pengelola PPG, termasuk wakil dekan, ketua dan sekretaris jurusan, serta pengelola inti program.
Dekan FTK UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. KH. Muhammad Thohir, S.Ag., M.Pd, menyebut kunjungan seperti ini membantu institusi memeriksa kesiapan sistem layanan.
“Menjadi pihak yang didatangi benchmarking itu seperti uji jalan tanpa harus menunggu audit. Dari situ terlihat apakah sistem benar-benar berjalan dan dapat dijelaskan secara runtut,” ujarnya.
Ia menambahkan, forum tersebut ikut menguatkan posisi institusi sebagai rujukan pengelolaan PPG.
“Kunjungan benchmarking adalah cara cepat menaikkan nilai strategis institusi. Dari situ peluang kerja sama terbuka, mulai pertukaran dosen dan pamong, riset terapan, sampai penguatan jejaring sekolah mitra,” kata Thohir.
Pada sesi yang sama, Thohir memaparkan pola induksi mahasiswa PPG di FTK UINSA.
“Strategi induksi mahasiswa PPG FTK UIN Sunan Ampel Surabaya perlu diposisikan sebagai fase penguncian arah sejak hari pertama. Induksi dimulai dengan kontrak akademik dan profesional yang jelas, disertai peta jalan PPG secara konkret,” jelasnya.
Ia menambahkan, induksi dijalankan melalui uji diagnostik kompetensi awal, simulasi mini-PPL dan microteaching, serta internalisasi kultur FTK UINSA melalui etika akademik, nilai keislaman, dan disiplin kerja.
“Dengan pola ini, mahasiswa lebih siap beradaptasi dan bertanggung jawab sebagai calon guru profesional,” tambahnya.(sas)
Editor : Tasropi