RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu’ti, memperkenalkan model pembelajaran deep learning sebagai alternatif dalam pembaruan pendidikan Indonesia.
Gagasan ini menitikberatkan pada pengembangan daya nalar kritis dan pemahaman reflektif siswa.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, saat menjadi narasumber utama dalam Orasi Ilmiah Pendidikan bertema “Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermakna dan Reflektif” yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Barru, Rabu (25/6), di Gedung Pelayanan Terpadu Lantai 5, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Dalam orasinya, Rasimin menyebut bahwa secara konsep, deep learning menawarkan pandangan yang manusiawi dan relevan terhadap proses belajar. Namun, masih terdapat hambatan dalam implementasinya di lapangan.
“Model ini mengajak siswa berpikir lebih dalam, tidak sekadar menghafal. Namun di banyak sekolah, guru belum cukup terlatih, kurikulumnya padat, dan budaya belajar belum mendukung proses reflektif,” ujar Rasimin.
“Instrumen evaluasi juga belum menyentuh aspek berpikir kritis secara utuh, dan fasilitas di sejumlah daerah belum memadai,” lanjutnya.
Untuk mendorong perubahan, Rasimin menawarkan konsep Festival Guru Belajar, sebuah kegiatan kolaboratif berbasis komunitas yang memfasilitasi interaksi antarpendidik lintas daerah.
“Festival ini menjadi ruang untuk berbagi praktik pengajaran, menyusun prototipe pembelajaran, serta memperkuat dialog lintas budaya pendidikan. Formatnya dapat menampilkan karya siswa, laboratorium ide, dan sesi ‘Belajar dari Daerah’,” jelasnya.
Ia juga mengusulkan pembentukan Koalisi Sekolah Merdeka Berpikir, jaringan sukarela antar sekolah yang mengembangkan sistem belajar reflektif dan saling terhubung melalui platform digital.
“Inisiatif ini membentuk ruang pertumbuhan bersama. Guru, siswa, dan kepala sekolah tumbuh sebagai komunitas belajar yang saling menginspirasi,” tambahnya.
Rasimin juga memaparkan neurodidaktik sebagai pendekatan yang relevan dalam membentuk pembelajaran yang sejalan dengan mekanisme kerja otak.
Strategi ini mengedepankan suasana belajar yang aman secara emosional, menyenangkan, dan bermakna.
“Penggunaan emosi positif, stimulus multisensorik, dan keterhubungan materi dengan pengalaman hidup, membantu siswa menyerap dan menyimpan informasi lebih baik,” terangnya.
Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara FTIK UIN Salatiga dan Pemerintah Kabupaten Barru. Prof. Rasimin hadir bersama Wakil Dekan II, Dr. Norwanto, Ph.D., serta Ketua Jurusan Pendidikan Guru Kelas, Mufiq, M.Phil.
Wakil Bupati Barru, Dr. Ir. Abustan Andi Bintang, M.Si., menyampaikan apresiasi atas gagasan-gagasan transformatif yang diusung dalam kegiatan ini.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menindaklanjuti forum ini dengan langkah konkret.
“Kami mendukung sepenuhnya pengembangan model pendidikan yang lebih relevan dan manusiawi seperti yang disampaikan Prof. Rasimin. Dalam waktu dekat, Dinas Pendidikan akan kami arahkan menyusun program pelatihan guru berbasis deep learning dan neurodidaktik, serta menjajaki pembentukan jaringan sekolah inspiratif di Barru,” ujarnya.
Salah satu peserta, Hj. Aisyah, S.Pd., guru dari Kecamatan Tanete Rilau, mengungkapkan kesan positifnya terhadap forum ini.
“Saya merasa tercerahkan. Biasanya kami hanya mengikuti pelatihan teknis, tapi hari ini kami diajak berpikir tentang filosofi pendidikan dan masa depan siswa secara lebih dalam. Ini pengalaman yang menyentuh dan mendorong refleksi pribadi sebagai guru,” tuturnya.
Lebih dari 500 peserta menghadiri kegiatan ini, yang terdiri atas guru, mahasiswa, kepala sekolah, dan budayawan.
Melalui tema “Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermakna dan Reflektif”, acara ini memperkuat tekad bersama membangun pendidikan yang relevan, kontekstual, dan bertumpu pada kekuatan komunitas lokal.(sas)
Editor : Tasropi