Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

‘Kirim Rumah’ untuk Arwah Keluarga

Agus AP • Kamis, 7 Januari 2021 | 19:32 WIB
Masyarakat Tionghoa menjalankan tradisi Co Kong Tek dengan mengirim replika rumah berikut isi perabot kepada anggota keluarga yang sudah meninggal. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Masyarakat Tionghoa menjalankan tradisi Co Kong Tek dengan mengirim replika rumah berikut isi perabot kepada anggota keluarga yang sudah meninggal. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Masyarakat Tionghoa masih menjalankan tradisi Co Kong Tek. Tradisi ini dilakukan dengan mengirim replika rumah berikut isi perabot kepada anggota keluarga yang sudah meninggal.

Momen ini biasanya diselenggarakan pada 49 atau 100 hari setelah meninggalnya anggota keluar.

Salah satunya dilakukan keluarga Imam Bintoro kemarin pagi. Ia melakukan ritual didepan rumahnya di Tegalrejo. Ternyata yang dibuat replika tidak hanya rumah, melainkan juga replika para penghuni rumah. "Sebelumnya dilakukan doa. Prosesi doanya bisa dijalankan secara Buddha Mahayana, Taois, Kong Hu Cu atau secara tradisi keluarga masing-masing, " jelas Imam.

Rangkaian acara diawali dengan 'menjamu makan' kepada mendiang. Digambarkan dengan bentuk Hun Sin atau boneka simbol mendiang, yang telah tertata dimeja altar yang telah tersedia. Menjamu makan ini digambarkan dengan adanya nasi yang berada di meja makan. Pemimpin doa mempersilahkan kepada mendiang menikmati hidangan yang ada.

Kemudian dipanjatkan doa yang bertujuan memohonkan pengampunan atas kesalahan yang telah dilakukan semasa mendiang masih hidup.

Selesai menjamu makan, boneka simbolis mendiang yang berada di meja altar kemudian dimasukkan pada sebuah tandu (joli) untuk memasuki replika rumah atau biasa disebut Ling U.

Setelah selesai prosesi kemudian api lilin yang ada di dalamnya digunakan untuk membakar replika. Proses pembakaran sekitar 15 menit. Abu sisa pembakaran kadang dilarung oleh anggota keluarga.

Imam menjelaskan jika biaya pembuatan replika ini sangat variatif. Biaya tergantung bentuk, ukuran dan keinginan pemesan. "Kebetulan saya 20 tahun menjadi perajin Kou Coa. Dan satu - satunya di Salatiga, " imbuh dia. (sas/bas) Editor : Agus AP
#Co Kong Tek #Berita Semarang