SABTU Pon hari ini, genaplah umur Jawa Pos yang ke-74 tahun. Usia yang mengantarkan kami untuk segera menapaki ruang baru di usia ke-75: platinum!
Tahapan perjalanan yang biasa digambarkan sebagai logam langka berwarna putih berkilau dengan nuansa keperakan. Yah, boleh juga dimirip-miripkan kayak warna rambut Ganjar Pranowo atau rambut Profesor Mohammad Nuh yang tidak tersentuh semir.
Seperti halnya kita semua, ketika umur sampai pada titik ini, kesadaran yang muncul adalah betapa semakin sedikit teman seangkatan –sesama koran– yang masih tersisa. Teman-teman lama pergi satu demi satu dengan sebab dan caranya masing-masing. Dan pada akhirnya, waktu jualah yang menjadi alat uji terbaik untuk mengukur daya hidup, kesetiaan, dan komitmen sebuah surat kabar.
Juga, hanya waktu yang akan menjadi ’’proof’’ apakah perusahaan koran sebenarnya perlu mati atau tidak. Karena meskipun usia akan terus bertambah, dia –sebagai perusahaan– sesungguhnya memiliki perangkat untuk terus menjaga keberlangsungan hidupnya agar tetap fit, tidak reumatik, terkapar, lalu pergi menghilang.
Ya, di hari yang membahagiakan ini, kami berterima kasih untuk Kompas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan teman-teman media cetak lain, yang berkomitmen untuk terus menjaga degup industri media cetak.
Tentu, nama-nama lama itu adalah para pemain media digital juga di era sekarang.
Namun, andaikan umur panjang harian Jawa Pos tidak laik untuk disebut prestasi –karena hanya sekadar bertambah usia– pun kami tetap bersyukur. Bersyukur atas daya tahan tim kami dalam memercayai nilai-nilai baik. Daya tahan redaksi dalam menjaga independensi sikap. Bersyukur dalam nikmat hidup dengan ketaatan pada tata laku media. Dan yang pokok, bersyukur karena Jawa Pos terus sehat!
*
Ada peristiwa penting di tahun berjalan. Ada banyak peristiwa sangat penting pada tiga tahun terlewat, yaitu pada masa-masa kita didera pandemi. Serem, tapi ya sudahlah. Sudah lewat. Alangkah baiknya jangan terlalu banyak diingat.
Yang akan datang jauh lebih penting. Karena di sanalah kita dihadapkan pada dua pilihan: serem atau seru! Yang serem akan selalu ada. Yang seru harus kita ciptakan.
Penting buat Jawa Pos untuk punya sikap mudah membentuk diri menghadapi ruang-ruang baru di era serba buatan. Dengan catatan, tetap memegang teguh hal-hal yang fundamental.
Tausiah Profesor Yuval Noah Harari, tak ada satu pun jenis ilmu yang akan betul-betul siap untuk menghadapi –atau melawan– kekuatan dan keberengsekan AI. Dia akan terus merangsek menguasai semua ruang kita.
Nanti, yang bakal tersisa buat kita mungkin tinggal rasa kemanusiaan sebagai manusia. Itu pun kalau kita masih punya. Berpikir cepat, otak cerdas, sudah menjadi hal murah tanpa perlu sekolah. Dan ingat, cita-cita tertinggi AI berikutnya adalah: bisa trenyuh, tersentuh, haru, sedih, geli, iba, memiliki apa itu cinta, dan rasa bahagia.
Fenomena Kadrun-Kecebong, jalan tol versus jalan sesat, tak perlu terlalu dirisaukan. Ia hanya akan menjadi paradoks kesementaraan menuju ke sana. Ke sana yang tidak akan jauh-jauh amat jarak tempuhnya.
Siapa yang akan terus maju dan tidak ketinggalan?
Siapa saja!
Mereka yang terus mengembangkan imajinasi, ide, dan membangun gagasan-gagasan. Bahwa imajinasi itu kemudian menjadi hal empiris lalu dilahap AI, silakan.
*
Tantangan media konvensional seperti koran Jawa Pos pasti sangat seru karena kompleksitasnya. Agar bisa menyuguhkan cetakan yang presisi untuk ukuran zaman sekarang, terpaksa harus ganti mesin cetak baru.
Temprina Media Grafika, grup Jawa Pos, telah memutuskan membeli Solna D388 tahun lalu. Mesin buatan Swedia itu dua tower pertamanya hampir rampung dirangkai. Segera disusul pengapalan kedua untuk melengkapi rangkaian empat towernya.
Dengan rampungnya rangkaian mesin cetak Solna D388 pada September mendatang, kualitas cetak koran Jawa Pos akan semakin bagus mutunya. Mutu cetak adalah hal mendasar yang harus dicapai sebelum melangkah pada tingkat berikutnya: mewujudkan kreasi dari imajinasi. Ya, Jawa Pos harus kaya imajinasi dan eksekusinya harus artistik.
Pencarian nilai artistik di bidang fotografi, ilustrasi, grafis, teks, dan iklan akan terus dilakukan. Pemakaian kata yang maknanya tanpa pemikiran mendalam sudah pasti akan ditinggalkan pembaca. Mencari diksi terbaik untuk narasi sebuah angle peristiwa yang dipilih, harus diniatkan seperti pekerjaan-pekerjaan artistikal pada kesenian lain: ada proses penggodokan, pergulatan pemikiran, untuk memperjuangkan nilai.
*
Cukup panjang rentang perjalanan Jawa Pos. Kesulitan, perubahan zaman, generasi yang terus berganti, dan tantangan baru akan membuat Jawa Pos semakin dewasa dalam beradaptasi dengan zaman baru.
Hari ini, kami tumpengan sederhana, syukuran untuk memaknai bertambahnya usia sekaligus lepas dari seramnya pandemi.
Jawa Pos Koran, JawaPos.Com, dan JawaPos TV akan menyiapkan kado spesial buat pembaca dengan tema Serba 75 pada ultah 1 Juli 2024. Tahun politik, tahun pergantian rezim, era penuh larangan, era reformasi, era euforia, menjadi isi dari perjalanan panjang kami.
Terima kasih buat para pelanggan, pembaca setia, dan seluruh mitra dan relasi. Selanjutnya, tunggu rangkaian acara menyambut ultah platinum Jawa Pos tahun depan. Semoga seru.
Selalu Ada Yang Baru!
*)
Oleh LEAK KUSTIYO
Direktur Jawa Pos Koran, JawaPos.Com, JawaPos TV
Editor : Agus AP