Bagaimana sebenarnya potensi gempa yang ada di Jateng?
Jateng merupakan daerah aktif gempa. Walau karakteristiknya berbeda dengan daerah lain. Sumbernya pun bermacam-macam. Ada yang bersumber dari pergeseran sesar aktif, ada pula yang bersumber dari pergeseran lempeng tektonik dan aktivitas vulkanologi.
Mengapa Jateng memiliki sumber gempa yang bermacam-macam?
Dalam kasus gempa sesar aktif, Jateng memang memiliki 7 sesar yang masih aktif bergerak dan dapat menimbulkan gempa. Itu yang sudah terindentifikasi. Kami perkirakan masih banyak sesar aktif yang belum diketahui letaknya. Selain itu, terkait lempeng tektonik, pantai selatan Jateng memang dilintasi lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik yang memang masih aktif. Hal ini bisa mengakibatkan tsunami jika terjadi tumbukan besar (megathrust). Sementara gempa vulkanik diakibatkan dari aktivitas vulkanis gunung berapi di Jateng.
Lantas bagaimana upaya BMKG untuk mendeteksi ketika gempa terjadi?
Kami sudah memasang peralatan warning receiver system (EWS) di 16 kabupaten/kota. Kalau terjadi gempa, alat tersebut dapat berbunyi untuk memberitahu warga agar segera melakukan evakuasi.
Warga yang di dekat EWS, kemungkinan besar akan mengetahui sinyal gempa yang terjadi. Tapi bagaimana warga yang jauh dari EWS bisa mengetahui terjadi gempa?
Kami terus meng-upadate secara real time data yang ada di website kami. Warga bisa mengecek langsung kesana. Jika warga ada di lokasi terpencil, tidak ada sinyal, juga bisa menggunakan radio. Karena kami memiliki saluran radio sehingga tidak memerlukan sinyal gadget. Pastinya, informasi kami pastikan bisa di-update oleh BPBD dan badan terkait lainnya. Sehingga mereka bisa segera melakukan evakuasi warga.
Terkait potensi tsunami, bagaimana BMKG mengantisipasi agar warga pesisir bisa segera dievakuasi?
Tsunami datang kan tidak tiba-tiba. Biasanya didahului gempa tektonik atau aktivitas vulkanik dahulu. Kami siapkan peringatan dini di Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri. Jika terjadi tsunami, bisa memberitahukan warga pesisir untuk evakuaasi. Sehingga meminimalisir risiko dan korban. (*/ida) Editor : Agus AP