RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN - Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mulai intensif sosialisasi bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada masyarakat.
Hal ini imbas, sudah mulai ada laporan beberapa rumah sakit terkait peningkatan pasien yang terkena DBD.
“Mengingat fenomena DBD yang dulunya muncul dan meningkat pada waktu-waktu tertentu, maka kami cegah sejak dini. Dengan sosialisasi kepada petugas Kesehatan kami,” ucap Sekretaris Dinkes Kota Pekalongan dr Junaedi Wibawa, Kamis (12/10).
Dijelaskan, untuk tahun 2023 ini terjadi peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mengingat, faktor cuaca panas seperti saat ini menjadi salah satu penyebaran wabah DBD.
Untuk itu, Dinkes mengumpulkan petugas Kelurahan dan Puskesmas se-Kota Pekalongan, di Aula Kantor Dinkes setempat.
Petugas tersebut, diharapkan mampu meyakinkan kepada semua lapisan masyarakat di wilayahnya masing-masing, bahwa penyakit DBD yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, bisa dicegah dengan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Selain itu, agar bisa menjelaskan bahwa di Kota Pekalongan termasuk daerah yang sumber airnya kurang lancar.
Sehingga berpotensi adanya peningkatan wabah DBD pada waktu kapan saja. Untuk itu, warga diminta memperhatikan faktor lingkungan.
“Petugas kami harus mengingatkan masyarakat agar concern dalam pencegahan DBD,” ucapnya.
Sebab, lanjut Junaedi, diketahui bersama penyakit DBD ini penyebarannya karena faktor lingkungan. Yang mana jika tidak bersih, akan memberikan kemudahan kepada nyamuk untuk berkembangbiak.
Sementara itu, masyarakat merasa adanya kepercayaan bahwa salah satu penanggulangan DBD adalah dengan fogging atau pengasapan dengan bahan insektisida.
Memang hal ini bisa bertujuan untuk membunuh nyamuk khususnya pembawa (vektor) penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Namun faktanya tindakan ini hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Tidak bisa membunuh larva, telur, ataupun jentik nyamuk, selanjutnya telur, larva atau jentik akan tetap berkembang menjadi nyamuk dewasa.
"Padahal, fogging tidak bisa serta merta dilakukan, ada aturan tertentu yang harus diketahui masyarakat terutama petugas Kesehatan,” jelasnya.
Kembali disebut dr Junaedi, saat ini salah satu terapi terbaru dari pencegahan DBD ini, dengan vaksin DBD. Namun dengan syarat apabila orang tersebut terkena tidak sampai terjadi DBD, tetapi pada level Demam Berdarah (DB) saja.
Vaksin ini, cukup bisa memberikan kekebalan secara permanen kepada semua masyarakat. Namun, yang menjadi permasalahan, sampai sekarang belum spesifik, vaksin DBD itu digunakan untuk masyarakat Indonesia, dikarenakan begitu cepatnya virus itu berkembang biak dan melakukan mutasi. Sehingga vaksin ini belum ada izin resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. (han)
Editor : Agus AP