RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Pelanggan Perumda Tirtayasa Pekalongan kaget tiba-tiba tagihan air membengkak.
Padahal merasa penggunaan air standar, tidak berlebihan. Kemarin (31/7), warga Binagriya, Pekalongan Timur itu, mendatangi kantor Perumda Tirtayasa untuk meminta kejelasan.
“Tagihan saya normal tidak sampai ratusan ribu, tiba-tiba beberapa bulan ini naik drastis jadi Rp 500 ribu,” ucap Didik Pramono saat ditemui di kantor Perumda Tirtayasa.
Menurutnya tagihan tersebut tidak wajar. Sebab penggunaan air di rumahnya selama ini juga tidak berlebihan.
Namun dari hitungan Tirtayasa penggunakan air mencapai ratusan kubik.
“Saya juga baru tahu, ternyata ada tambahan biaya perawatan jaringan meter. Apakah ini, sudah ada Perwalnya atau aturan sendiri,” ujarnya.
Selama ini, lanjut Didik, tidak ada perawatan fisik mengenai jaringan meter miliknya. Tidak ada perubahan sejak awal berlangganan air. Sehingga hal ini menjadi pertanyaan.
“Jika uang Rp 10 ribu dikalikan seluruh pelanggan Perumda setiap bulan, ada uang ratusan juta yang didapat cuma-cuma, tanpa layanan kepada pelanggan,” katanya.
Hal senada juga menimpa Hendro Figola, pemilik warung nasi Padang yang sebelumnya menyewa ruko di Jalan Kurinci, Pekalongan Barat.
Dia dipaksa untuk melunasi tagihan layanan air dari Perumda Tirtayasa Kota Pekalongan hingga jutaan rupiah.
Bahkan diancam pemilik ruko akan dilaporkan polisi jika tidak segera membayar tagihan.
“Padahal selama ini tagihan air saya hanya berkisar ratusan ribu, tiba-tiba jadi jutaan rupiah,” sesalnya.
Hendro mengungkapkan, berjualan di ruko kecil tersebut sejak 2018 hingga Mei 2023. Kini ia sudah pindah.
Sejak awal berlanggan air, dirinya kenal seseorang dari Perumda yang membantu pemasangan, termasuk mengatur meteran air.
“Sejak langganan tagihan air saya tidak sampai Rp 200 ribu,” ucapnya sambil menunjukkan bukti nota pembayaran.
Namun karena usaha sudah mulai turun, sejak awal Juni 2022 hingga Mei 2023 dirinya belum membayar tagihan air.
Dirinya sudah niat membayar sisa tanggungan, karena diancam pemilik ruko akan dilaporkan ke polisi jika tidak membayar tagihan tersebut.
“Saya tadi niat tanya total tagihan air, ternyata membengkak. Rata rata di atas Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta lebih, total ada Rp 9 jutaan,” ucapnya.
Pihaknya pun ingin meminta penjelasan tagihannya yang cukup besar tersebut. Karena selama ini air hanya untuk sekadar masak, cuci peralatan dapur, kamar mandi dan wastafel saja.
Bukan untuk usaha yang membutuhkan air cukup melimpah sampai ratusan kubik.
“Kalaupun terpaksa harus membayar, saya cuma minta keringan agar bisa diangsur, tidak sekaligus. Karena saya takut dipenjara,” ujarnya.
Sementara itu, Perumda Tirtayasa sendiri, menolak memberi keterangan kepada awak media yang datang langsung minta konfirmasi.
Mereka hanya menanggapi komplain pelanggannya untuk ditampung manajemen. (han/zal)
Editor : Baskoro Septiadi