RADARSEMARANG.ID - Pernah menjadi andalan untuk berangkat sekolah, bekerja, hingga bepergian bersama keluarga, Honda Supra X 100 dan Yamaha Jupiter Z punya tempat tersendiri di hati penggemar motor bebek Indonesia.
Keduanya sama-sama populer pada era 2000-an, tetapi menawarkan karakter yang berbeda.
Honda Supra X 100 dikenal lewat citra motor harian yang sederhana dan ekonomis.
Sementara itu, Yamaha Jupiter Z memiliki daya tarik tersendiri melalui desain sporty dan karakter berkendara yang lekat dengan dunia anak muda.
Lantas, jika dibandingkan, apa perbedaan Honda Supra X 100 dan Yamaha Jupiter Z? Mana yang lebih menarik untuk dimiliki pada 2026, terutama bagi pencari motor bekas sekaligus penggemar otomotif lawas?
Baca Juga: Honda Supra X 100 Bisa Tembus 46 Km per Liter? Ini Catatan Penggunaannya
Honda Supra X 100, Motor Bebek yang Identik dengan Kepraktisan
Honda Supra X 100 merupakan salah satu motor bebek yang dikenal luas di Indonesia pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Model ini membawa mesin 4-tak satu silinder berkapasitas 97,1 cc, SOHC, berpendingin udara, dan menggunakan karburator.
Konstruksi mesinnya relatif sederhana untuk kebutuhan mobilitas harian. Karakter tersebut membuat Supra X 100 tetap menarik bagi orang yang mencari motor lawas untuk digunakan ke pasar, bekerja, atau menempuh perjalanan dekat.
Salah satu ciri yang membedakan Supra X 100 dari beberapa motor bebek generasi sebelumnya adalah penggunaan rem cakram depan pada varian Supra X. Bagian belakang masih mengandalkan rem tromol.
Bagi penggemar motor klasik, daya tarik Supra X 100 bukan hanya soal spesifikasi. Bentuk bodi, grafis khas zamannya, dan kenangan ketika motor ini banyak digunakan keluarga turut membuatnya tetap dicari.
Yamaha Jupiter Z, Tampil Sporty dan Punya Karakter Berbeda
Yamaha Jupiter Z mulai dikenal pada awal 2000-an dan menjadi salah satu model penting dalam persaingan motor bebek sporty di Indonesia. Nama Jupiter Z digunakan sejak 2003, meneruskan perkembangan keluarga Jupiter.
Pada generasi bermesin 110,3 cc, Jupiter Z mengusung mesin 4-tak SOHC satu silinder berpendingin udara. Dibandingkan Supra X 100, kapasitas mesinnya lebih besar, dengan karakter yang diarahkan untuk memberikan respons berkendara yang lebih sporty.
Desain bodinya yang tajam dan citra sporty membuat Jupiter Z dekat dengan pengendara muda pada masanya. Model ini juga sering dikaitkan dengan budaya modifikasi dan balap motor bebek.
Jupiter Z kemudian mengalami beberapa perubahan desain dan mesin. Karena itu, spesifikasi dan karakter setiap unit bekas perlu diperiksa berdasarkan tahun serta generasinya.
Baca Juga: Honda Supra X 100 vs Supra Fit, Apa Perbedaan Kedua Motor Bebek Legendaris Ini?
Perbandingan Honda Supra X 100 vs Yamaha Jupiter Z
Secara umum, keduanya sama-sama menggunakan mesin 4-tak berpendingin udara dan transmisi empat percepatan. Namun, ada perbedaan kapasitas mesin dan pendekatan desain.
Kapasitas mesin: Supra X 100 sekitar 97,1 cc, sedangkan Jupiter Z generasi 110 menggunakan mesin sekitar 110,3 cc. Karakter desain: Supra X 100 lebih menonjolkan gaya motor bebek harian, sedangkan Jupiter Z tampil lebih sporty.
Pengereman: Supra X 100 memiliki rem cakram depan dan tromol belakang. Pada Jupiter Z, konfigurasi rem perlu disesuaikan dengan tahun serta variannya.
Penggunaan harian: Keduanya dapat digunakan untuk mobilitas sehari-hari selama kondisi mesin, kaki-kaki, dan sistem pengereman masih baik.
Daya tarik nostalgia: Supra X 100 lekat dengan citra motor keluarga, sedangkan Jupiter Z mengingatkan banyak penggemar pada tren motor bebek sporty era 2000-an.
Perbedaan kapasitas mesin saja tidak cukup untuk menentukan motor mana yang lebih kencang atau lebih irit. Kondisi mesin, penyetelan karburator, rasio transmisi, perawatan, dan cara berkendara ikut memengaruhi hasil penggunaan nyata.
Mana yang Lebih Irit untuk Dipakai Sehari-hari?
Honda Supra X 100 memiliki kapasitas mesin lebih kecil sehingga berpotensi menawarkan konsumsi bahan bakar yang ekonomis. Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa Supra X 100 selalu lebih irit daripada Jupiter Z tanpa pengujian dengan kondisi yang setara.
Usia kedua motor juga menjadi pertimbangan penting. Unit yang karburatornya kotor, filter udara tersumbat, kompresinya menurun, atau tekanan bannya tidak sesuai bisa mengonsumsi bahan bakar lebih banyak.
Jika efisiensi menjadi prioritas, calon pembeli sebaiknya memeriksa kondisi mesin dan melakukan pengukuran konsumsi BBM sendiri. Metode pengisian penuh hingga penuh kembali dapat membantu memberikan gambaran yang lebih realistis. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi