RADARSEMARANG.ID — Perjalanan Suzuki RGR 150 di Indonesia tidak berhenti pada generasi Sprinter dan Crystal. Setelah dua model tersebut, Suzuki menghadirkan generasi ketiga yang dikenal sebagai Suzuki RGR 150 Tornado.
Bagi pencinta motor 2-tak, Tornado menjadi salah satu bagian penting dari sejarah RGR 150. Tampilannya dibuat lebih membulat dibandingkan dua generasi sebelumnya, sementara bagian belakang mendapat desain lampu yang lebih modern.
Suzuki Indonesia mencatat RGR 150 Tornado hadir menggantikan RGR 150 Crystal pada 1995 dan produksinya berlangsung hingga 1997.
Kehadirannya sekaligus menjadi babak terakhir perjalanan RGR 150 sebagai salah satu motor sport 2-tak yang pernah mencuri perhatian anak muda Indonesia.
Desain RGR 150 Tornado Berubah Total
Jika RGR 150 Sprinter identik dengan bentuk bodi yang lebih mengotak dan Crystal tampil dengan desain full fairing yang khas, RGR 150 Tornado membawa pendekatan desain berbeda.
Bentuk bodinya terlihat lebih bulat dan berisi. Perubahan tersebut membuat generasi terakhir RGR 150 tampak lebih modern dibandingkan pendahulunya.
Bagian belakang menjadi salah satu ciri paling mudah dikenali. Desain lampunya dibuat lebih modern dan menjadi salah satu alasan motor ini kemudian populer dengan sebutan Tornado.
Suzuki Indonesia juga menyebut bentuk lampu belakangnya memiliki kemiripan dengan model Suzuki Tornado. Bagi ukuran motor sport era 1990-an, perubahan desain tersebut membuat RGR 150 Tornado terlihat cukup futuristis pada masanya.
Tetap Mengusung Karakter Mesin 2-Tak 147 cc
Di balik desain yang berubah, daya tarik utama RGR 150 tetap berada pada karakter mesin 2-taknya. Keluarga RGR 150 menggunakan mesin 2-tak berkapasitas 147 cc dengan bore dan stroke 59,0 x 54,0 mm.
Data spesifikasi yang dihimpun mencatat tenaga maksimum sekitar 24,2 dk pada 10.000 rpm dan torsi 17,2 Nm pada 8.500 rpm.
Mesin tersebut dipadukan dengan transmisi enam percepatan, sehingga karakter RGR 150 memang diarahkan untuk memberikan sensasi berkendara yang berbeda dari motor harian biasa.
Kombinasi mesin 2-tak, bobot yang relatif ringan, dan transmisi enam percepatan menjadi salah satu alasan RGR 150 memiliki reputasi sebagai motor sport yang menarik pada zamannya.
Baca Juga: Suzuki RGR 150 Sprinter, Generasi Pertama yang Jadi Ikon Motor Sport 2-Tak Era 1990-an
Teknologi SIPC dan SSS Tetap Jadi Identitas
RGR 150 juga terkenal karena teknologi mesinnya. Salah satu teknologi yang digunakan adalah SIPC (Suzuki Intake Pulse Control). Teknologi ini berfungsi mengontrol masuknya bahan bakar sesuai kebutuhan mesin.
Selain itu terdapat SSS (Suzuki Super Scavenging System) yang dirancang untuk memberikan asupan udara lebih besar ketika mesin bekerja pada putaran tinggi.
Kehadiran teknologi tersebut membuat RGR 150 memiliki daya tarik tersendiri di tengah persaingan motor sport 2-tak pada dekade 1990-an.
Generasi Ketiga Setelah Sprinter dan Crystal
Untuk memahami posisi RGR 150 Tornado, perjalanan keluarga RGR bisa dibagi menjadi tiga generasi utama.
Pertama, RGR 150 Sprinter.
Generasi awal ini memiliki ciri half fairing, bodi mengotak, under cowl, serta desain lampu belakang dan sein yang terpisah.
Kedua, RGR 150 Crystal.
Generasi ini tampil lebih modern dengan penggunaan full fairing dan perubahan desain lampu belakang.
Ketiga, RGR 150 Tornado.
Inilah generasi terakhir dengan desain bodi yang lebih bulat serta tampilan belakang yang menjadi ciri khasnya. Suzuki Indonesia mencatat Tornado menggantikan Crystal pada 1995.
Perubahan dari Sprinter ke Crystal lalu Tornado menunjukkan bagaimana Suzuki terus memperbarui tampilan RGR 150 mengikuti perkembangan tren motor sport pada era tersebut.
Baca Juga: Mengenal Suzuki RGR 150, Motor Sport 2-Tak yang Pernah Jadi Idola Anak Muda Era 1990-an
Mengapa RGR 150 Tornado Begitu Menarik?
Salah satu daya tarik terbesar RGR 150 Tornado saat ini justru berasal dari usianya.
Motor tersebut sudah tidak lagi diproduksi. Suzuki Indonesia mencatat RGR 150 sebagai salah satu motor yang pernah diproduksi dalam sejarah Suzuki di Indonesia, dengan periode keseluruhan yang tercatat 1991–1998.
Sementara itu, Tornado sendiri merupakan generasi terakhir dalam rangkaian RGR 150. Kondisi tersebut membuat unit yang masih bertahan menjadi bagian dari sejarah motor sport 2-tak Indonesia.
Bagi kolektor, bukan hanya kondisi mesin yang menjadi perhatian. Keaslian bodi, kelengkapan komponen, kondisi fairing, serta detail-detail bawaan juga dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Pernah Jadi Idola Anak Muda Era 1990-an
Pada era 1990-an, motor sport memiliki daya tarik yang berbeda. RGR 150 hadir dengan desain fairing, mesin 2-tak 147 cc, transmisi enam percepatan, serta teknologi seperti SIPC dan SSS.
Kombinasi tersebut membuatnya menjadi salah satu motor yang dikenang oleh generasi yang tumbuh pada masa kejayaan mesin 2-tak.
Suzuki sendiri menyebut RGR 150 sebagai motor yang langsung menyedot perhatian penggemar motor sport ketika hadir di Indonesia pada awal 1990-an. Tidak mengherankan apabila nama RGR 150 masih muncul dalam berbagai pembahasan mengenai motor klasik hingga sekarang.
Penutup Perjalanan Sang Legenda 2-Tak
Suzuki RGR 150 Tornado bukan sekadar model terakhir dari keluarga RGR 150. Motor ini menjadi penanda berakhirnya sebuah perjalanan Suzuki di kelas sport 150 cc 2-tak yang pernah menarik perhatian besar pada era 1990-an.
Sprinter membawa karakter klasik, Crystal menawarkan desain full fairing yang lebih modern, sedangkan Tornado hadir dengan bentuk yang lebih membulat dan futuristis untuk zamannya.
Baca Juga: Honda NS150GX 2027 Resmi Rilis, Bawa Kamera Dashcam dan Layar Mobil Mewah!
Puluhan tahun kemudian, ketiganya justru menjadi bagian dari nostalgia otomotif Indonesia. Bagi generasi 1990-an, RGR 150 Tornado mungkin mengingatkan pada suara mesin 2-tak dan gaya motor sport masa muda.
Bagi generasi sekarang, motor ini menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan: karakter mesin 2-tak, desain khas era 1990-an, dan nilai sejarah sebagai generasi terakhir Suzuki RGR 150.
RGR 150 Tornado boleh menjadi penutup perjalanan keluarga RGR, tetapi namanya tetap menjadi salah satu legenda motor sport 2-tak Suzuki yang sulit dilupakan. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi