RADARSEMARANG.ID – Ford Everest dan Mitsubishi Pajero Sport sama-sama menawarkan karakter SUV diesel ladder frame yang cocok untuk konsumen yang membutuhkan mobil keluarga berukuran besar, nyaman dibawa perjalanan jauh, sekaligus cukup tangguh ketika berhadapan dengan jalan rusak.
Menariknya, keduanya sama-sama hadir di Indonesia pada era 2009 dan kini masuk kategori mobil bekas yang harganya jauh lebih terjangkau dibanding ketika masih baru. Namun, pertanyaannya bukan sekadar mana yang lebih gagah atau lebih bertenaga.
Untuk konsumen yang benar-benar ingin membeli dan menggunakan mobil tersebut, faktor konsumsi bahan bakar, kenyamanan, performa, ketersediaan suku cadang, bengkel, biaya perawatan, durability, hingga harga jual kembali justru lebih penting.
Jika dibandingkan secara langsung, Mitsubishi Pajero Sport 2009 mempunyai keunggulan besar dalam hal jaringan purna jual dan kemudahan kepemilikan.
Sementara Ford Everest 2009 menawarkan harga masuk yang umumnya lebih rendah dan karakter berkendara yang menarik, tetapi calon pembeli harus lebih serius memperhatikan riwayat perawatan serta akses bengkel dan suku cadangnya.
Untuk pasar Indonesia, Ford Everest 2009 umumnya menggunakan mesin diesel 2.5 liter TDCi, sedangkan Pajero Sport 2009 mengandalkan mesin diesel 2.5 liter 4D56 common rail turbo intercooler.
Baca Juga: Sama-Sama Diesel, Panther Grand Touring atau Innova yang Lebih Layak Dibeli?
Pajero Sport generasi awal yang masuk Indonesia pada 2009 menggunakan mesin 2.477 cc dengan tenaga sekitar 136-138 PS, tergantung sumber dan spesifikasi varian, serta torsi sekitar 314 Nm. Transmisinya tersedia manual 5-percepatan maupun otomatis 4-percepatan.
Ford Everest juga mempunyai mesin diesel 2.5 liter TDCi dengan karakter torsi yang kuat pada putaran bawah dan menengah. Di jalan sehari-hari, karakter seperti ini sangat terasa ketika mobil membawa tujuh penumpang atau melibas tanjakan.
Dibandingkan mobil bensin berkapasitas kecil, kedua SUV diesel ini tidak membutuhkan putaran mesin tinggi untuk mulai bergerak dengan kuat.
Dalam urusan performa, Pajero Sport memiliki respons mesin yang cukup kuat dan karakter yang terasa lebih modern untuk ukuran SUV diesel era tersebut.
Torsi besar membuat mobil relatif mudah diajak berakselerasi dari kecepatan rendah. Saat membawa keluarga lengkap, mesin 2.5 liter tersebut masih mampu memberikan tenaga yang memadai selama kondisi turbo, injektor, sistem bahan bakar, dan transmisi berada dalam kondisi sehat.
Everest 2.5 TDCi juga bukan SUV yang bisa dianggap lemah. Justru salah satu daya tariknya adalah karakter mesin diesel yang kuat untuk perjalanan antarkota. Suspensi dan sasisnya membuat Everest terasa kokoh.
Untuk konsumen yang sering melewati jalan bergelombang atau membutuhkan mobil dengan karakter SUV tradisional, Everest masih menarik.
Namun, jika ukuran performa yang digunakan adalah respons mesin, kemudahan mencari bengkel, dan pengalaman penggunaan secara keseluruhan, Pajero Sport lebih aman untuk mayoritas konsumen.
Everest lebih cocok bagi pembeli yang memang sudah menemukan unit dengan kondisi sangat baik dan memiliki akses bengkel yang memahami Ford.
Berbicara konsumsi bahan bakar, jangan berharap salah satu mobil ini memiliki efisiensi seperti MPV diesel berukuran kecil. Keduanya merupakan SUV besar dengan bobot relatif tinggi dan konstruksi ladder frame.
Dalam kondisi normal, konsumsi bahan bakar sangat bergantung pada transmisi, kondisi mesin, tekanan ban, muatan, rute dan gaya mengemudi.
Pajero Sport 2009 diesel dilaporkan mampu berada di sekitar 9-10 km/liter untuk penggunaan dalam kota dan sekitar 10,5-13 km/liter di luar kota atau jalan tol dalam kondisi tertentu. Angka tersebut bukan angka mutlak karena kondisi unit berusia lebih dari 15 tahun dapat membuat konsumsi aktual berbeda jauh.
Baca Juga: Banyak yang Keliru! Ternyata Toyota Kijang Diesel Pertama Bukan Innova, Melainkan Mobil Ini
Everest 2009 juga dapat memberikan konsumsi yang cukup masuk akal untuk ukuran SUV diesel. Namun, konsumen sebaiknya jangan membeli hanya berdasarkan klaim angka konsumsi BBM dari penjual.
Pada mobil berusia lebih dari satu dekade, kondisi injektor, turbo, filter udara, filter bahan bakar, sistem EGR, ban dan transmisi bisa memberikan perbedaan besar terhadap konsumsi solar.
Untuk pemakaian keluarga, Pajero Sport dan Everest sama-sama menawarkan kapasitas tujuh penumpang. Dimensi keduanya juga membuat kabin terasa lebih besar daripada SUV kompak.
Everest mempunyai keunggulan berupa karakter kabin yang cukup lapang dan posisi duduk tinggi. Pajero Sport juga menawarkan ruang kabin yang cukup untuk perjalanan keluarga, dengan posisi duduk yang memberikan visibilitas baik ke depan.
Namun, ketika seluruh tujuh kursi digunakan, ruang baris ketiga pada kedua kendaraan tentu tidak bisa disamakan dengan MPV besar modern. Kursi belakang lebih cocok untuk anak-anak atau perjalanan dalam jarak tertentu. Jika digunakan dengan lima penumpang, ruang bagasi menjadi jauh lebih fleksibel.
Dari sisi kenyamanan, karakter keduanya cukup berbeda. Everest memiliki nuansa SUV Amerika yang terasa kokoh dengan posisi berkendara tinggi. Suspensinya cocok untuk menghadapi jalan yang tidak selalu mulus.
Pajero Sport juga menggunakan konstruksi ladder frame dan mempunyai ground clearance yang tinggi sehingga lebih percaya diri melewati jalan rusak, genangan dan permukaan tidak rata.
Untuk penggunaan dalam kota, Pajero Sport cenderung terasa lebih mudah diterima karena karakter pengendalian dan dukungan jaringan servisnya. Everest tetap nyaman, tetapi usia kendaraan membuat kondisi kaki-kaki menjadi faktor yang sangat menentukan. Mobil yang sudah berumur belasan tahun bisa terasa berbeda jauh antara satu unit dan unit lainnya.
Pada aspek handling, keduanya bukan SUV yang dibuat untuk mengejar karakter sedan. Dimensi besar dan posisi bodi tinggi membuat pengemudi harus memahami karakter body roll ketika bermanuver. Pajero Sport memberikan rasa berkendara yang cukup stabil untuk perjalanan luar kota, sementara Everest terasa solid dan kokoh.
Konsumen yang membeli mobil bekas sebaiknya tidak hanya melakukan test drive di jalan mulus. Justru jalan bergelombang, polisi tidur dan tikungan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi kaki-kaki. Bunyi dari suspensi, setir yang tidak presisi atau getaran saat pengereman bisa menjadi tanda bahwa mobil membutuhkan perhatian.
Soal fitur, Pajero Sport 2009 memiliki sejumlah perlengkapan yang cukup menarik untuk zamannya. Varian tertentu mendapatkan transmisi otomatis, sistem penggerak 4x4, fitur keselamatan dan perlengkapan kenyamanan yang lebih lengkap. Tipe Exceed menjadi salah satu varian yang banyak dicari karena menawarkan kombinasi kenyamanan dan perlengkapan yang cukup baik.
Everest juga tersedia dalam beberapa varian dan konfigurasi penggerak. Beberapa unit mempunyai fitur kenyamanan seperti AC dengan ventilasi untuk baris belakang, yang menjadi nilai tambah untuk kendaraan tujuh penumpang. Kondisi fitur pada mobil berusia 17 tahun tentu harus diperiksa satu per satu karena kelistrikan, motor power window, AC, central lock dan perangkat elektronik dapat mengalami penurunan fungsi akibat usia.
Kemudian masuk ke persoalan yang sering menjadi penentu utama ketika membeli mobil bekas: harga.
Harga Ford Everest 2009 saat ini cenderung lebih murah dibanding Pajero Sport 2009. Data listing pasar menunjukkan Everest 2009 dapat ditemukan pada rentang sekitar Rp118 juta sampai Rp158 juta pada sejumlah iklan, sementara harga sangat bergantung pada kondisi, tipe, lokasi dan kilometer.
Mobil123 juga mencantumkan kisaran Ford Everest 2009 sekitar Rp125 juta-Rp135 juta sebagai gambaran pasar, meskipun harga aktual di iklan dapat berada di atas atau di bawah kisaran tersebut.
Pajero Sport 2009 berada pada level harga lebih tinggi. Sejumlah sumber pasar pada 2026 menempatkan Pajero Sport 2009 sekitar Rp160 juta-Rp220 juta tergantung varian dan kondisi. Varian Exceed 4x4 otomatis dapat berada di kisaran Rp195 juta-Rp220 jutaan, sementara varian 4x2 dan GLX memiliki rentang berbeda.
Baca Juga: Banyak yang Keliru! Ternyata Toyota Kijang Diesel Pertama Bukan Innova, Melainkan Mobil Ini
Artinya, selisih harga pembelian bisa cukup besar. Bagi konsumen dengan dana terbatas, Everest menawarkan tiket masuk yang lebih murah. Bahkan dengan anggaran sekitar Rp120 juta-Rp150 juta, pilihan Everest 2009 cukup banyak ditemukan di pasar. Tetapi jangan langsung menganggap harga murah berarti biaya kepemilikan pasti murah.
Pada mobil tua, harga beli hanyalah biaya pertama. Kondisi mesin, turbo, injektor, transmisi, kaki-kaki, AC, sistem pendingin dan kelistrikan jauh lebih penting daripada selisih harga Rp10 juta-Rp20 juta.
Purna jual menjadi salah satu bagian paling penting dalam duel Everest vs Pajero Sport 2009. Mitsubishi mempunyai keunggulan jelas karena jaringan layanan resminya masih sangat luas. Mitsubishi Motors Indonesia menyebut mempunyai sekitar 300 bengkel resmi di Indonesia dan menyediakan dukungan suku cadang melalui jaringan resminya.
Mitsubishi juga menyediakan katalog suku cadang resmi yang mencakup komponen mesin, transmisi, elektrikal hingga bodi. Kondisi Ford berbeda.
Ford memang masih mempunyai layanan resmi di Indonesia melalui jaringan servis yang ditangani mitra, dengan teknisi berpengalaman dan dukungan suku cadang Ford asli. Ford Indonesia mencantumkan pusat servis resmi serta layanan bantuan pelanggan pada laman resminya.
Namun bagi pengguna mobil berusia 17 tahun, jaringan bengkel yang lebih luas tetap menjadi pertimbangan penting. Tidak semua bengkel umum memiliki pengalaman yang sama dalam menangani sistem elektronik dan mesin diesel Ford. Karena itu, sebelum membeli Everest, calon pengguna sebaiknya sudah mengetahui bengkel yang benar-benar memahami model tersebut di wilayah tempat tinggalnya.
Untuk suku cadang, Pajero Sport kembali mempunyai keuntungan. Banyak komponen mesin dan mekanisnya memiliki ekosistem aftermarket yang cukup luas karena basis mesin dan platform Mitsubishi yang populer. Ini membuat pengguna mempunyai lebih banyak pilihan antara suku cadang genuine, OEM dan aftermarket.
Everest juga masih memiliki suku cadang, tetapi tidak semua komponen memiliki tingkat ketersediaan yang sama. Komponen fast moving biasanya lebih mudah dicari, sementara komponen tertentu mungkin membutuhkan pencarian lebih lama atau pemesanan khusus. Inilah alasan mengapa kondisi unit sangat penting.
Bagaimana dengan durability? Dua mobil ini sama-sama bisa memiliki umur panjang jika perawatannya benar. Jangan menganggap mobil diesel otomatis tidak bisa rusak. Justru pada kendaraan yang sudah berumur lebih dari 15 tahun, riwayat perawatan menjadi faktor utama.
Baca Juga: Mitsubishi Kuda Diesel Lawan Innova 2KD, Mana yang Lebih Bandel dan Layak Diburu?
Pajero Sport dengan mesin 4D56 terkenal mempunyai karakter mesin yang kuat, tetapi kondisi sistem common rail, turbo, pendinginan dan transmisi tetap harus diperiksa. Mesin yang sehat bukan hanya ditandai suara halus. Kondisi oli, asap, respons turbo, temperatur kerja, kebocoran dan performa saat tanjakan perlu diperhatikan.
Everest juga mempunyai potensi durability yang baik apabila mendapatkan perawatan rutin. Mesin diesel TDCi bisa menjadi sangat menyenangkan ketika kondisinya sehat. Tetapi jika sebelumnya diabaikan, biaya untuk mengembalikan sistem mesin diesel modern ke kondisi optimal dapat menjadi cukup besar.
Karena itu, untuk konsumen yang mencari mobil bekas 2009, istilah "mesin bandel" tidak boleh menjadi satu-satunya alasan membeli. Kondisi aktual unit jauh lebih penting daripada reputasi merek.
Untuk penggunaan keluarga sehari-hari, Pajero Sport 2009 lebih mudah direkomendasikan. Harga memang lebih mahal, tetapi jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, popularitas model dan pasar bekas membuatnya lebih praktis untuk dimiliki dalam jangka panjang.
Everest 2009 menjadi pilihan menarik apabila prioritas utama adalah harga pembelian yang lebih murah, kabin besar, karakter SUV yang kokoh dan menemukan unit yang benar-benar terawat. Dengan kondisi yang tepat, Everest bisa menjadi mobil keluarga yang sangat menarik tanpa harus mengeluarkan dana sebesar Pajero Sport.
Jika dana berada di sekitar Rp120 juta-Rp150 juta, Everest bisa menjadi pilihan yang realistis. Tetapi jika tersedia dana sekitar Rp170 juta-Rp200 juta dan ingin mendapatkan SUV diesel yang lebih mudah dipertahankan nilai jualnya, Pajero Sport 2009 menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Harga tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi unit karena mobil bekas tidak mempunyai harga tunggal.
Pada akhirnya, jangan membeli Everest atau Pajero Sport 2009 hanya karena bodinya masih terlihat gagah. Mobil dengan usia seperti ini harus dibeli berdasarkan kondisi mesin, transmisi, kaki-kaki, sistem pendingin, kelistrikan dan riwayat servis. Unit yang terawat dengan kilometer tinggi bisa jauh lebih baik daripada unit berkilometer rendah tetapi perawatannya tidak jelas.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi