RADARSEMARANG.ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini ternyata belum memberikan dampak signifikan terhadap geliat pasar mobil listrik bekas di Indonesia. Di tengah dorongan kuat menuju kendaraan ramah lingkungan, adopsi electric vehicle (EV) di segmen mobil bekas justru masih tergolong lambat dan belum menunjukkan lonjakan yang berarti.
Fenomena ini menarik perhatian, mengingat secara logika, mahalnya BBM seharusnya menjadi pemicu masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Namun realitas di lapangan berkata lain. Hingga saat ini, jumlah showroom mobil bekas yang berani menjual unit EV masih terbatas.
Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena pelaku usaha masih mempertimbangkan berbagai risiko yang melekat pada kendaraan listrik, terutama dalam konteks pasar sekunder.
Founder sekaligus CEO Otospector, Jeffrey Andika, mengungkapkan bahwa populasi mobil listrik bekas di Indonesia memang masih sangat minim.
Baca Juga: Daftar 9 Motor Bekas Murah di Bawah Rp10 Juta Paling Bandel 2026, Irit dan Awet!
“Memang sudah mulai ada beberapa showroom yang jual EV bekas, tapi jumlahnya masih sedikit. Secara populasi belum terlalu banyak,” ujarnya dalam sebuah kesempatan di Jakarta Utara. Pernyataan ini menegaskan bahwa pasar mobil listrik bekas masih berada dalam tahap awal perkembangan.
Salah satu faktor utama yang menjadi penghambat adalah aspek pembiayaan. Tidak semua perusahaan leasing atau pembiayaan bersedia memberikan kredit untuk mobil listrik bekas.
Hal ini tentu menjadi kendala besar, mengingat sebagian besar transaksi kendaraan di Indonesia masih mengandalkan skema kredit. “Salah satu kendalanya itu di pembiayaan. Masih ada leasing yang belum mau biayai mobil EV. Mereka juga hati-hati karena harga EV ini cenderung cepat berubah,” jelas Jeffrey.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Nilai jual kembali mobil listrik masih dianggap belum stabil dan cenderung sulit diprediksi. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat harga kendaraan listrik bisa mengalami penurunan signifikan dalam waktu relatif singkat. Hal ini tentu menjadi risiko besar bagi perusahaan pembiayaan.
Baca Juga: Mobil Listrik Bergaya Offroad Chery J6 Meluncur di Semarang, Segini Harganya
“Leasing takut, misalnya mereka biayai sekarang, lalu dalam dua tahun unitnya ditarik, nilainya sudah turun jauh dan tidak sesuai prediksi. Itu yang bikin mereka masih wait and see,” lanjutnya.
Dampak dari kondisi ini cukup terasa di pasar. Ketersediaan unit mobil listrik bekas menjadi terbatas, meskipun minat masyarakat terhadap kendaraan listrik terus meningkat.
Ekosistem pendukung, khususnya di sektor pembiayaan, dinilai masih membutuhkan waktu untuk berkembang dan beradaptasi dengan karakteristik kendaraan listrik.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, penetrasi mobil listrik di pasar mobil bekas diprediksi belum akan terjadi secara masif dalam waktu dekat.
“Jadi walaupun trennya sudah kelihatan, tapi di mobil bekas masih akan terbatas dulu. Pelaku usaha dan pembiayaan sama-sama masih mengukur risiko,” tutup Jeffrey.
Meski demikian, mobil listrik bekas tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen, terutama dari sisi harga yang lebih terjangkau dibandingkan unit baru.
Baca Juga: Desil Bansos Adalah Penentu PKH dan BPNT, Ini Cara Cek dan Mengubahnya
Bagi sebagian orang, ini menjadi peluang untuk memiliki kendaraan listrik dengan biaya yang lebih hemat. Namun, membeli mobil listrik bekas tidak bisa disamakan dengan membeli mobil konvensional.
Jika pada mobil berbahan bakar bensin atau diesel fokus utama ada pada kondisi mesin, maka pada mobil listrik perhatian terbesar harus diberikan pada baterai.
Komponen ini merupakan jantung sekaligus bagian paling mahal dari sebuah EV. Oleh karena itu, pengecekan kondisi baterai menjadi langkah paling krusial yang tidak boleh diabaikan.
Salah satu indikator penting yang harus diperiksa adalah State of Health (SoH) baterai. SoH menggambarkan tingkat kesehatan baterai dibandingkan dengan kondisi saat masih baru.
Untuk mengetahui data ini secara akurat, calon pembeli disarankan menggunakan alat OBD (On-Board Diagnostics) Scanner yang kompatibel dengan aplikasi khusus kendaraan listrik.
Melalui perangkat tersebut, berbagai informasi penting dapat diakses secara real-time dari Battery Management System (BMS). Data yang bisa diperoleh antara lain tingkat degradasi baterai, jumlah siklus pengisian daya (charge cycles), hingga suhu rata-rata baterai selama digunakan oleh pemilik sebelumnya.
Informasi ini sangat penting untuk menilai apakah baterai masih dalam kondisi optimal atau sudah mengalami penurunan performa yang signifikan.
Selain pengecekan teknis secara mandiri, riwayat servis kendaraan juga menjadi aspek yang tidak kalah penting. Mobil listrik sangat bergantung pada pembaruan perangkat lunak atau software update yang dilakukan secara berkala oleh pabrikan. Update ini biasanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, serta performa kendaraan.
Riwayat servis yang lengkap dan tercatat dengan baik dapat memberikan gambaran jelas mengenai bagaimana kendaraan dirawat oleh pemilik sebelumnya.
Baca Juga: TPG Saat Cuti Tetap Cair! Ini Aturan dan Detail Lengkap Sesuai Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2025
Hal ini termasuk pengecekan sistem pendingin baterai atau coolant yang berfungsi menjaga suhu baterai tetap stabil. Overheating merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempercepat kerusakan sel baterai, sehingga sistem pendingin harus dipastikan bekerja dengan baik.
Aspek lain yang tidak boleh diabaikan adalah garansi baterai. Sebagian besar pabrikan mobil listrik di Indonesia menawarkan garansi baterai dalam jangka waktu yang cukup panjang, umumnya antara 8 hingga 10 tahun atau hingga jarak tempuh 160.000 kilometer. Garansi ini menjadi salah satu nilai tambah yang dapat meningkatkan rasa aman bagi pembeli.
Namun, penting untuk memastikan apakah sisa garansi tersebut masih berlaku dan apakah dapat dipindahtangankan ke pemilik berikutnya. Kejelasan mengenai hal ini sangat penting, karena jika terjadi penurunan performa baterai di bawah standar yang ditentukan pabrikan, biaya penggantian baterai bisa sangat mahal.
Baca Juga: Suzuki Karimun 2026 Resmi Rilis! City Car Murah Irit BBM dengan Fitur Modern
Selain baterai, komponen pendukung lainnya juga perlu diperiksa dengan teliti. Kabel pengisi daya portabel (portable charger) dan wall-mount charger, jika termasuk dalam paket penjualan, harus dipastikan dalam kondisi baik.
Periksa juga konektor pengisian daya atau charging port pada mobil untuk memastikan tidak ada korosi atau bekas terbakar yang dapat mengganggu proses pengisian listrik.
Melakukan uji jalan atau test drive juga menjadi langkah penting sebelum memutuskan untuk membeli. Dalam proses ini, calon pembeli dapat merasakan langsung performa kendaraan, termasuk sistem pengereman regeneratif (regenerative braking) yang menjadi ciri khas mobil listrik.
Pastikan tidak ada suara aneh dari motor listrik, karena hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya masalah pada sistem penggerak atau transmisi reduksi.
Baca Juga: Harga BBM Naik 4 Mei 2026, Pertamax Turbo Tembus Rp19.900 per Liter
Selain itu, perhatikan juga kondisi kaki-kaki kendaraan, seperti suspensi dan keausan ban. Mobil listrik umumnya memiliki bobot lebih berat dibandingkan mobil konvensional karena baterai, sehingga ban cenderung lebih cepat aus. Pemeriksaan menyeluruh pada bagian ini akan membantu menghindari biaya tambahan setelah pembelian.
Untuk meminimalkan risiko, disarankan membeli mobil listrik bekas dari dealer terpercaya yang menyediakan layanan inspeksi menyeluruh atau bahkan sertifikasi khusus untuk kendaraan listrik. Saat ini, sudah mulai bermunculan jasa inspeksi independen yang memiliki standar pengujian khusus untuk EV, sehingga dapat memberikan penilaian objektif terhadap kondisi kendaraan.
Dengan melakukan riset yang matang dan pengecekan yang teliti, membeli mobil listrik bekas sebenarnya bukan hal yang sulit. Justru, ini bisa menjadi langkah cerdas untuk mendapatkan kendaraan ramah lingkungan dengan biaya yang lebih ekonomis.
Di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat, konsumen dituntut untuk lebih cermat dan memahami karakteristik kendaraan listrik secara menyeluruh.
Ke depan, seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik dan berkembangnya ekosistem pendukung seperti pembiayaan dan infrastruktur pengisian daya, pasar mobil listrik bekas diprediksi akan semakin berkembang. Namun untuk saat ini, pendekatan yang hati-hati masih menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha maupun lembaga pembiayaan.
Bagi konsumen, kondisi ini justru bisa menjadi peluang. Dengan persaingan yang belum terlalu ketat dan harga yang relatif lebih rendah, mobil listrik bekas dapat menjadi alternatif menarik, asalkan dibeli dengan pertimbangan yang matang.
Pada akhirnya, keputusan terbaik tetap berada di tangan konsumen yang mampu menyeimbangkan antara harga, risiko, dan manfaat jangka panjang.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi