Silaturahmi atau Inspeksi?

Iskandar • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 18:03 WIB
Iskandar.
Iskandar.

 

Oleh: Iskandar

Jurnalis Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID - SEPEKAN lalu, sebuah pesan singkat mampir ke ponsel saya. Sekilas saya baca pengiriminya. Teman lama. Puluhan tahun tak jumpa. Puluhan tahun juga gak ngobrol. Ini pasti penting, pikirku. Karena waktu itu saya lagi nyetir, saya janji akan hubungi dia setelah sampai ke lokasi tujuan. Singkatnya, saya hubungi dia. Via text. Tak perlu saya sebut namanya, demi menjaga ruang personalnya. Melalui serangkaian baris kalimat via WA, ia menumpahkan keresahan yang selama ini mengganjal hatinya dan perlu POV penilaian dari seseorang.

Alurnya bermula ketika ia berulang tahun. Tiba-tiba saja, puluhan teman lama masa sekolahnya, menyambangi rumahnya. Mereka datang atas inisiatif sendiri. Tidak diundang, Yang pasti, mereka membawa senyum, juga mengucapkan selamat. Padahal, sebagian dari mereka, tidak intens berinteraksi. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti kejutan yang manis. Namun, bagi teman saya, kedatangan mereka justru memicu tanda tanya besar. Dia meragukan sebuah ketulusan. Apakah mereka datang murni untuk merayakan ulang tahunnya. Atau ada misi tersembunyi? 

Pertanyaan teman saya cukup menarik. Sebab, dalam kehidupan sosial, sebuah tindakan yang sama, bisa menghasilkan makna yang berbeda bagi orang yang menerimanya. Seseorang datang membawa kue dan menyampaikan ucapan ulang tahun. Bagi orang lain, mungkin itu bentuk perhatian. Tapi belum tentu bagi teman saya, Ia justu merasa seperti tengah diinspeksi. Apalagi, jika ada sejarah yang membuat pertemuan itu menjadi tidak sederhana.

Baca Juga: Negara, Kekerasan Kelompok Sipil, dan Tangan Ketiga

Teman saya ini bukan sosok biasa di masa sekolah dulu. Dia paket lengkap: cantik, lahir dari keluarga berada, populer, dan selalu menonjol di kalangan teman-temannya. Sebuah ikon yang selalu dilirik. Jalinan rumah tangganya memang kurang beruntung. Statusnya kini single parents. Di sinilah persoalannya.

Teman saya yakin betul, kedatangan mereka yang tiba-tiba ini didorong oleh rasa kepo yang membuncah. Mereka ingin melihat langsung bagaimana kondisi sang "bintang sekolah" setelah hidupnya tidak lagi sama. Dan, tebakan terbesarnya adalah statusnya yang membuat rasa penasaran teman-temannya. Bisa jadi benar. Bisa juga tidak. Tetapi perasaan tidak nyaman itu tetap nyata. Sebab, manusia tidak hanya membaca apa yang dilakukan orang lain. Kita juga membaca kemungkinan alasan di balik tindakan itu.

Dalam psikologi sosial, ada teori social comparison yang diperkenalkan Leon Festinger. Secara sederhana, manusia memiliki kecenderungan membandingkan dirinya dengan orang lain untuk memahami posisi dirinya sendiri. Dulu, ketika mereka masih sekolah, teman saya mungkin menjadi salah satu titik pembanding itu. Cantik, popular, the have.

Lalu waktu berjalan dan semua orang menjalani kehidupannya masing-masing. Ketika seseorang yang dulu berada di posisi "atas" tiba-tiba mengalami perubahan besar dalam hidupnya, sangat mungkin muncul rasa ingin tahu dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Bukan selalu karena iri. Bukan pula selalu karena niat buruk. Kadang hanya karena manusia memang penasaran terhadap perubahan. "Bagaimana kabarnya sekarang?" "Seperti apa kehidupannya setelah sekian lama?" "Benarkah yang saya dengar?" 

Dalam konteks ini, teori stigma Erving Goffman menjadi relevan. Goffman menjelaskan bagaimana masyarakat kadang memberi label tertentu kepada seseorang berdasarkan atribut yang dianggap berbeda atau tidak sesuai dengan ekspektasi sosial. Menjadi single mom, misalnya, seharusnya hanyalah sebuah fakta kehidupan. Namun dalam masyarakat tertentu, status itu bisa saja dibebani oleh berbagai asumsi. Seolah-olah ada cerita yang harus dicari. Ada sebab yang harus diketahui. Ada kesalahan yang harus ditemukan. Ada kehidupan pribadi yang merasa berhak dibongkar hanya karena seseorang pernah dikenal sebagai "bintang". 

Padahal, seseorang tidak kehilangan hak atas privasinya, hanya karena hidupnya berubah. Justru mungkin di situlah kita sering keliru. Kita menganggap karena pernah dekat, pernah satu sekolah, pernah berada dalam lingkaran pertemanan yang sama, maka kita memiliki semacam tiket untuk mengetahui kehidupan seseorang sampai ke ruang paling personal. NO!. Kedekatan masa lalu, tidak otomatis menjadi izin untuk memasuki kehidupan seseorang hari ini. Dan rasa ingin tahu tidak selalu merupakan bentuk kepedulian. Kadang rasa ingin tahu hanya ingin memuaskan dirinya sendiri.

Baca Juga: Cancel Culture, Ingatan Politik, dan Kita yang Pernah Memilih

Ada perbedaan tipis tapi penting antara care dan curiosity. Kepedulian bertanya karena ingin memastikan seseorang baik-baik saja. Keingintahuan bertanya karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari luar, keduanya bisa terlihat sama. Sama-sama datang. Sama-sama tersenyum. Sama-sama bertanya, "Apa kabar?" Tetapi niatlah yang membuat sebuah tindakan memiliki makna berbeda. 

Tentu saja, kita tidak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa teman-teman lama itu datang dengan niat buruk. Bisa saja mereka benar-benar ingin memberikan ucapan ulang tahun. Bisa saja mereka mendengar kabar tentang temannya dan ingin memastikan keadaannya. Itu semua mungkin. Namun perasaan tidak nyaman teman saya juga tidak bisa begitu saja dianggap berlebihan. Sebab, persepsi manusia dibentuk oleh pengalaman.

Ketika seseorang merasa pernah kehilangan rasa aman, ia akan lebih sensitif terhadap tanda tanda yang dianggap mengancam ruang pribadinya. Dalam situasi seperti ini, barangkali persoalan terpenting bukan lagi siapa yang benar dan siapa yang salah? Melainkan, mengapa kehadiran teman-teman lama yang seharusnya membawa kebahagiaan, justru terasa seperti pemeriksaan?

Tidak semua perubahan hidup seseorang perlu kita selidiki. Tidak semua pintu yang terbuka, berarti kita dipersilakan masuk lebih jauh. Dan, tidak setiap senyum di depan pintu, berarti seseorang ingin kita mengetahui seluruh isi rumahnya. Kadang, bentuk kepedulian yang paling dewasa justru bukan datang membawa banyak pertanyaan. Cukup memastikan dia baik-baik saja, lalu pulang dengan membawa kembali rasa ingin tahu kita sendiri. Sebab, setiap orang punya ruang yang tidak perlu diketahui dunia. Ada bagian dari hidup yang cukup menjadi miliknya sendiri. Dan barangkali, di situlah kedewasaan dalam berteman diuji; bukan pada seberapa banyak rahasia yang berhasil kita ketahui tentang seseorang, tetapi pada seberapa banyak rahasia yang mampu kita jaga ketika seseorang mempercayakannya kepada kita. 

Oh ya, sebenarnya teman saya ini bukan tipe orang yang sulit diajak berteman. Justru sebaliknya. Dia orang yang menyenangkan, terbuka, dan enak diajak berbagi cerita. Asal satu syaratnya sederhana: pertemanan itu tulus. Dia tidak membutuhkan banyak teman. Tidak juga membutuhkan orang-orang yang datang dengan rasa ingin tahu yang dibungkus senyum dan ucapan selamat. Dia hanya butuh teman yang datang karena memang ingin datang. Bertanya karena memang peduli. Mendengar tanpa merasa perlu membawa pulang cerita untuk dibagikan kepada orang lain. Mungkin itu sebabnya, dia lebih menghargai satu teman yang benar-benar tulus daripada sepuluh teman yang hanya ramai ketika ada sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. 

Bagi dia, pertemanan adalah tentang ketulusan. Sebab teman yang tulus tidak datang untuk melihat seberapa jauh kita berubah. Ia datang untuk memastikan, di tengah segala perubahan itu, kita masih baik-baik saja. Dan, kalau pun suatu hari ia tahu ada bagian hidup kita yang sedang tidak baik-baik saja, ia tidak menjadikannya cerita. Ia cukup duduk di sebelah kita. Diam. Menemani. Sebab begitulah mestinya sebuah pertemanan bekerja. Bukan membuat kita merasa sedang diawasi, tetapi membuat kita merasa aman menjadi diri sendiri. (*)

Editor : Baskoro Septiadi
Pov