Dokter, Ilmu, dan Empati yang Hilang

Iskandar • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:44 WIB
Iskandar.
Iskandar.

RADARSEMARANG.ID - SELAMA 24 jam terakhir, jagat media sosial dihebohkan oleh sikap nir-empati yang ditunjukkan sejumlah dokter dan tenaga kesehatan (nakes) di Threads. Mereka menjadi sorotan warganet karena diksi yang mereka sampaikan saat menanggapi keluhan seorang pasien, justru melukai perasaan.

Sulit dipercaya, mereka yang selama bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi, mengucapkan sumpah profesi, dan sehari-hari berhadapan dengan pasien, justru menuliskan komentar nir-empati, Ada yang menyuruh pasien "memotong nadi", ada yang menyebutnya "goblok", "banyak bacot", bahkan ada yang menyarankan agar masuk ke ruang jenazah jika ingin cepat mendapat tempat.

Kegaduhan ini bermula dari unggahan seorang pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan melalui akun Threads miliknya: @yurizaltrich pada 22 Juli 2026. Dalam unggahannya, Yurizal menceritakan pengalaman pahitnya ketika harus menunggu selama delapan jam tanpa kunjung mendapatkan ruangan perawatan di rumah sakit. "8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS."

Kalimat Yurizal sangat sederhana. Ia tidak menyebut nama rumah sakit. Ia juga tidak memaki tenaga kesehatan. Ia hanya menyampaikan pengalaman yang dialaminya. Namun, unggahan Yurizal justru dibalas dengan komentar-komentar bernada sinis oleh sejumlah akun yang belakangan diketahui merupakan dokter dan tenaga kesehatan.

Baca Juga: Keserakahan yang Kehilangan Batas

Dan, beberapa hari kemudian, kabar duka itu datang. Sepupu Yurizal, Hilda Aprianti Perdana, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, mengungah postingan di media sosial. Hilda mengabarkan bahwa Yurizal telah meninggal dunia sehari sebelumnya, pada 31 Juli 2026. "Selamat jalan ya, Wi. Semoga husnul khotimah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi Allah."

Unggahan Hilda mengubah seluruh percakapan di Threads. Yang semula hanya dianggap keluhan biasa, berubah menjadi duka yang berlapis. Publik kembali membaca komentar-komentar yang sebelumnya dilontarkan kepada Yurizal. Kali ini dengan kesadaran bahwa orang yang mereka olok-olok ternyata telah meninggal dunia.

Ironisnya, sebagian komentar itu berasal dari mereka yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Salah satu yang banyak disorot adalah akun @bennychrstn. Akun ini memang memberikan penjelasan mengenai prosedur pemberian ruangan di rumah sakit. Namun, cara penyampaiannya justru dianggap merendahkan.

"Kalo full, mau dipindahkan ke mana? Mau di lantai? Gak ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yang make banyak, otomatis yang dirawat juga banyak, gak cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah...."

Berdasarkan informasi terbuka yang kemudian ditelusuri warganet, pemilik akun tersebut merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan pernah menjadi mahasiswa Departemen Kardiologi UI. Komentar lain datang dari akun @erudarahaadini. Alih-alih memberikan penjelasan, akun tersebut justru menulis: "PP-nya kayak orang have tapi aslinya haven't kah? Haven't some brain cells." Kalimat itu dianggap sebagai ejekan yang menyebut Yurizal tidak memiliki sel otak yang lengkap hanya karena mengeluhkan pengalamannya di media sosial.Warganet kemudian menemukan bahwa akun tersebut diduga milik dr. Elda Putri Rahardini, alumni Universitas Gadjah Mada sekaligus penerima beasiswa LPDP.

Komentar bernada serupa juga datang dari akun @1amdika, yang diduga merupakan lulusan Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan profesi Ners di universitas yang sama. Ia menulis: "Serangan jantung mas nek pingin cepet, IGD langsung Cathlab terus budal ICU."

Kalimat itu dianggap sebagai olok-olok yang menyarankan agar Yurizal mengalami serangan jantung jika ingin segera mendapatkan penanganan. Sementara itu, akun @nandafadyla_ juga ikut mencemooh Yurizal tanpa memberikan penjelasan mengenai prosedur medis. Komentar tersebut semakin memperkuat kesan bahwa keluhan pasien justru dijadikan bahan olok-olok.

Akibatnya, gelombang kemarahan publik tidak terbendung. Akun-akun tersebut dibanjiri kritik. Tidak sedikit warganet yang juga mendatangi akun media sosial rumah sakit tempat mereka bekerja dan meminta adanya evaluasi serta sanksi etik. Berdasarkan informasi terbuka yang beredar dan penelusuran warganet, sebagian pemilik akun telah menyampaikan permintaan maaf. Sejumlah pemilik akun yang saya sebut di atas pun sudah menyampaikan penyesalannya dan perrmintaan maaf secara terbuka. Beberapa rumah sakit yang menjadi tempat sejumlah nakes itu bekerja, juga sudah menyampaikan klarifikasi.

Baca Juga: Buzzer, Demokrasi, dan Pemerintahan yang Kehilangan Cermin

Hanya saja, sesungguhnya, yang sedang diadili publik bukan persoalan pelayanan rumah sakit. Melainkan cara tenaga kesehatan itu berkomunikasi. Di era media sosial, reputasi seseorang tidak lagi hanya dibangun oleh kompetensi profesional. Tetapi juga oleh jejak digital dan empati yang ia tampilkan di ruang publik.

Di sinilah teori komunikasi menjadi sangat relevan. Pakar komunikasi Paul Watzlawick, dalam bukunya Pragmatics of Human Communication (1967), mengemukakan prinsip yang sangat terkenal: "One cannot not communicate."

Artinya, manusia tidak mungkin tidak berkomunikasi. Emoji adalah komunikasi. Nada sinis bentuk komunikasi. Candaan adalah komunikasi. Bahkan, diam pun adalah bentuk komunikasi.

Saya percaya, komentar sejumlah dokter di Threads yang dianggap publik nir-empati, merupakan pendapat pribadi. Namun, tak semudah itu memaknainya. Publik justru membacanya secara berbeda. Masyarakat melihat komentar itu sebagai representasi profesi dokter. Ketika seorang dokter berkata dengan nada meremehkan, yang ditangkap publik bukan sekadar isi kalimatnya. Pesan yang sampai— jangan-jangan—justru bermakna: "Kalau sakit, ternyata kami dianggap beban."

Padahal, boleh jadi, itu sama sekali bukan maksud pesan si dokter. Di sinilah terjadi communication gap, yaitu kesenjangan antara pesan yang ingin disampaikan dengan makna yang diterima oleh publik. Fenomena lain yang juga menarik adalah mengapa orang yang sangat berilmu, justru bisa kehilangan empati. Psikolog Daniel Goleman, melalui bukunya Emotional Intelligence (1995), menjelaskan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya diukur dari IQ, tetapi juga dari Emotional Intelligence atau kecerdasan emosional.

Empati merupakan salah satu unsur utama kecerdasan emosional. Kata Goleman, orang yang benar-benar matang bukan hanya mampu berpikir cerdas, tetapi juga mampu mendengar, memahami emosi orang lain, dan mengendalikan emosinya sendiri. Tanpa kemampuan itu, kepintaran justru bisa berubah menjadi kesombongan intelektual.

Kasus ini juga dapat dijelaskan melalui konsep Empathy Gap yang dikenalkan oleh psikolog George Loewenstein. Empathy Gap menjelaskan bahwa seseorang yang berada dalam kondisi nyaman. sering kali gagal memahami penderitaan orang yang sedang berada dalam kondisi sulit.

Tenaga kesehatan, misalnya, setiap hari berhadapan dengan pasien kritis, kematian, dan situasi darurat. Bisa jadi, karena terlalu sering melihat penderitaan, mereka dapat mengalami apa yang disebut habituation, yakni kondisi ketika otak menjadi terbiasa sehingga respons emosional perlahan menurun. Artinya, bukan karena mereka jahat. Melainkan karena otak berusaha melindungi diri dari tekanan emosional yang terus-menerus. Meski begitu, masyarakat tentu tidak melihat proses psikologis tersebut. Yang mereka lihat hanya satu kesan sederhana: "Mengapa dokter tidak memiliki empati?"

Fenomena itu berkaitan erat dengan konsep Compassion Fatigue. Penelusuran literatur yang saya baca, konsep ini dikembangkan oleh psikolog Charles Figley. Bukunya, kalau tidak salah berjudul: Compassion Fatigue: Coping with Secondary Traumatic Stress Disorder (1995). Compassion fatigue sendiri dimaknai sebagai kelelahan emosional yang dialami profesi-profesi penolong, termasuk dokter dan perawat, akibat terus-menerus menghadapi penderitaan orang lain. Sederhananya begini: jam kerja panjang, pasien yang tidak ada habisnya, tekanan administrasi, hingga menghadapi keluarga pasien yang emosional, yang terjadi bisa membuat empati seseorang perlahan menjadi tumpul. Akibatnya, respons yang muncul menjadi lebih mekanis dan dingin.

Namun, penting untuk dipahami bahwa compassion fatigue dapat menjelaskan sebuah perilaku, tetapi tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkannya. Apapun itu, profesi yang bersentuhan langsung dengan manusia, tetap dituntut menjaga empati dan cara berkomunikasi.

Baca Juga: Kopi, Cicilan, dan Pura-Pura Bahagia

Kasus ini juga menjadi pengingat penting mengenai etika bermedia sosial. Dalam literatur etika digital dikenal prinsip sederhana yang disebut THINK Test. Sebelum mengunggah sesuatu, seseorang sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri: T — Is it True? Apakah benar? H — Is it Helpful? Apakah bermanfaat?I — Is it Inspiring? Apakah memberi inspirasi? N — Is it Necessary? Apakah memang perlu disampaikan? K — Is it Kind? Apakah disampaikan dengan baik dan penuh penghormatan?

Pesannya adalah tidak semua hal yang benar harus diucapkan. Dan, tidak semua hal yang boleh diucapkan layak dipublikasikan. Bagi profesi yang memegang amanah publik, seperti dokter, perawat, guru, hakim, polisi, maupun jurnalis, jejak digital bukan lagi urusan pribadi. Melainkan telah menjadi bagian dari profesionalisme itu sendiri.

Toh, pada akhirnya, kasus ini mengingatkan kita pada sebuah ungkapan lama yang sangat relevan hingga hari ini: adab. "Adab sebelum ilmu." Adab di atas ilmu. Ungkapan yang hidup dalam tradisi pendidikan Islam ini mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan kehilangan kemanfaatannya. Ilmu mengajarkan apa yang benar. Empati mengajarkan bagaimana menyampaikan kebenaran. Seorang dokter mungkin sangat ahli mendiagnosis penyakit. Namun tanpa empati, pasien bisa pulang dengan luka batin yang sama besarnya dengan luka fisiknya.

Profesi tenaga kesehatan pada akhirnya bukan hanya soal menyembuhkan tubuh. Lebih dari itu, ini profesi yang seharusnya mampu menjaga martabat manusia. Kasus Yurizal menjadi pengingat bahwa di era media sosial, kompetensi tanpa empati tidak lagi cukup. Pengetahuan memang melahirkan keahlian, tetapi empatilah yang melahirkan kepercayaan. Dalam pelayanan kesehatan, komunikasi bukan pelengkap tindakan medis, melainkan bagian dari tindakan medis itu sendiri.

Seorang dokter mungkin tidak selalu mampu menyembuhkan semua pasien. Sistem rumah sakit bisa penuh, sumber daya bisa terbatas, dan kondisi medis tidak selalu dapat dikendalikan. Namun, dalam situasi apa pun, seorang tenaga kesehatan selalu bisa punya pilihan untuk menjelaskan dengan hormat, menunjukkan kepedulian, dan menjaga martabat orang yang sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya. (*)

Editor : Baskoro Septiadi
DOKTER Nakes