RADARSEMARANG.ID - Sore itu, seorang anak membuka celengannya dan menghitung uang tabungan hasil angpau hari raya selama beberapa tahun. Setelah selesai menghitung, dia berkata kepada ayahnya bahwa tahun ini akan membeli seekor kambing untuk qurban. Ayahnya pun menghitung ulang uang tersebut dan berkata kepada anaknya bahwa jika nanti ada kekurangan dana, ayah akan menambahkan dana tersebut sebagai hadiah atas niat anaknya. Sang ayah pun berjanji kepada anaknya untuk mencari kambing qurban di akhir pekan. Menjelang idul adha, permintaan hewan ternak meningkat, sehingga harga hewan ternak mengalami kenaikan. Pembeli biasanya memilih dan melakukan negosiasi dengan penjual, agar dana yang tersedia tetap dapat digunakan untuk mendapatkan hewan ternak yang layak dan baik sesuai syariat islam.
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti akibat krisis geopolitik, perubahan iklim, kenaikan suku bunga, hingga menguatnya dolar AS, maka isu ketahanan pangan menjadi semakin penting. Permasalahan tersebut diakibatkan harga pangan rentan gejolak karena ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan, biaya distribusi meningkat sejalan dengan kenaikan harga bahan bakar, sehingga membuat daya beli masyarakat perlahan melemah. Hal tersebut tercemin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Maret 2026 sebesar 122,9 lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya sebesar 125,2. Dalam kondisi seperti ini, ibadah qurban pada Idul Adha memiliki makna yang besar daripada sekadar ritual keagamaan tahunan.
Qurban berakar dari kisah keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan kepada Allah. Nabi Ibrahim dengan keikhlasan mengorbankan Nabi Ismail dan Nabi Ismail Ikhlas mematuhi ketentuan Allah. Namun di balik nilai spiritual tersebut, qurban juga menghadirkan dampak nyata bagi ekonomi, kesehatan, sosial, hingga ketahanan pangan masyarakat.
Kegiatan qurban yang dilaksanakan setiap tahun pada 10–13 Dzulhijjah menciptakan distribusi pangan terbesar berbasis gotong royong. Dari data Kementerian Pertanian, pada hari raya idul adha 2025 jumlah hewan qurban yang dipotong sebanyak 2.268.764 ekor yang meningkat 12% dari tahun 2024 sebesar 2.021.558 ekor. Jutaan kilogram daging tersebar ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk keluarga yang jarang menikmati protein hewani karena keterbatasan ekonomi. Kementerian Pertanian melalui Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi global, qurban menjadi bentuk nyata pemerataan pangan dan solidaritas sosial.
Momentum Idul Adha dan kegiatan qurban dapat menjadi salah satu upaya penguatan ketahanan pangan dapat berjalan yang diikuti pula dengan pengendalian inflasi. Peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan, hewan ternak, serta distribusi daging qurban menjelang hari raya memerlukan koordinasi yang kuat agar harga tetap stabil dan pasokan terjaga.
Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) tahun 2026 dengan melakukan penguatan komoditas pangan dari hulu ke hilir secara berkelanjutan. GPIPS 2026 memiliki 7 program utama yaitu optimalisasi produktivitas melalui Good Agricultural Practices (GAP), hilirasi pangan dan penguatan kelembagaan petani/offtaker, optimalisasi Kerjasama Antar Daerah (KAD), Penguatan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), Operasi Pasar dan Pasar Murah, Penguatan Neraca Pangan, Penguatan koordinasi dan komunikasi pengendalian inflasi. Melalui program GPIPS 2026, berbagai upaya seperti peningkatan produktivitas peternakan, penguatan distribusi pangan, kerja sama antar daerah, hingga operasi pasar menjadi sangat relevan untuk memastikan ketersediaan pangan dan ternak qurban yang cukup, berkualitas, serta terjangkau bagi masyarakat. Pada momen Idul Adha, program GPIPS semakin bermakna karena mengintegrasikan kegiatan ekonomi yang bernilai tambah, ketahanan pangan dan pemerataan untuk mendukung program pengendalian inflasi.
Secara ekonomi, qurban menggerakkan sektor peternakan rakyat. Permintaan hewan qurban meningkatkan pendapatan peternak lokal, pedagang pakan, jasa transportasi, hingga pelaku UMKM pengolahan pangan. Ketika rupiah melemah akibat tekanan global dan impor semakin mahal, penguatan ekonomi lokal berbasis peternakan rakyat menjadi sangat penting. Membeli hewan qurban lokal sejatinya adalah bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan nasional. Selain itu, keterbatasan modal peternak menyebabkan peternak terlibat permainan tengkulak. Untuk itu, dibutuhkan penguatan modal agar baik melalui koperasi maupun pembiayan perbankan yang tepat. Program peternakan berbasis masjid atau komunitas, koperasi ternak desa, hingga digitalisasi distribusi qurban juga dapat memperkuat ekosistem pangan nasional.
Dari sisi kesehatan, daging qurban menyediakan protein, zat besi, zinc, dan vitamin B12 yang penting bagi pertumbuhan anak, daya tahan tubuh, serta pencegahan stunting dan anemia. Momentum ini dapat menjadi pendukung gizi masyarakat, terutama bagi keluarga rentan pangan. Jika distribusi dilakukan lebih terarah, qurban bahkan dapat membantu memperbaiki kualitas gizi ibu hamil, lansia, dan anak-anak di daerah rawan pangan.
Di sisi lain, qurban memiliki dampak psikologis dan sosial yang besar. Dalam situasi ekonomi sulit, rasa berbagi mampu menumbuhkan optimisme, empati, dan rasa kebersamaan. Nilai gotong royong yang lahir dari qurban menjadi modal sosial penting bagi bangsa dalam menghadapi berbagai krisis.
Penyembelihan hewan secara massal yang tidak terstandar memunculkan masalah, antara lain bau tidak sedap, pencemaran saluran air, penumpukan limbah darah, dan peningkatan sampah plastik pembungkus daging. Hal itu perlu dilakukan antisipasi dengan memastikan lokasi penyembelihan yang higienis, memastikan tersedia sistem sanitasi, pengolahan limbah menjadi kompos, dan penggunaan wadah yang ramah lingkungan.
Stok daging qurban yang melimpah menimbulkan potensi mubazir karena pemborosan makanan yang belum sempat diproses, keterbatasan tempat penyimpanan, sehingga daging terbuang. Untuk itu, sebagian daging dapat diolah menjadi makanan tahan lama seperti rendang kemasan, abon, atau frozen food untuk cadangan pangan masyarakat. Proses tersebut pun dapat dilakukan secara gotong royong ataupun memanfaatkan UMKM makanan, sehingga daging tidak sia-sia.
Ketahanan pangan sejatinya bukan hanya tentang ketersediaan bahan makanan, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat saling menguatkan. Qurban membuktikan bahwa nilai spiritual dapat menjadi kekuatan ekonomi dan sosial yang nyata. Di tengah krisis global dan melemahnya daya beli masyarakat, semangat berbagi dan gotong royong menjadi fondasi penting agar bangsa tetap kuat, tangguh, dan sejahtera. (EY)
Editor : Baskoro Septiadi