Oleh: ISKANDAR
Jurnalis Jawa Pos Radar Semarang
RADARSEMARANG.ID, Belakangan ini saya cukup intens memantau akun Instagram Badan Perwakilan Netizen. Entah siapa di baliknya. Bisa satu orang, bisa juga sekelompok anak muda. Tapi, jujur saja, ada satu hal yang langsung terasa: keberanian dan kepedulian mereka itu nyata.
Jagat media sosial memang sedang ramai oleh akun ini. Konten-konten yang diunggahnya konsisten: satu garis lurus: memerangi peredaran obat keras ilegal. Sasaran mereka jelas, toko-toko yang oleh mereka disebut “madol”.
Istilah yang mungkin belum lama kita dengar, tapi praktiknya sudah lama ada. Toko kamuflase. Kadang berkedok warung kelontong, kadang toko kosmetik, tapi diam-diam menjual tramadol tanpa izin, tanpa resep. Obat yang seharusnya diawasi ketat, tapi di lapangan justru seperti barang biasa. Mudah dibeli. Mudah disalahgunakan.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Terjunkan Dokter Speling di Wilayah Bencana, Jamin Obat-Obatan Hingga Logistik
Ini sebenarnya lanjutan dari tulisan saya beberapa hari lalu. Waktu itu saya menulis soal “Tramadol dan Petasan di Tengah Sunyi Hukum”. Dan sekarang, setelah mengikuti lebih jauh, perasaan saya masih sama: ada sisi dari gerakan ini yang layak diapresiasi.
Setidaknya, dalam konteks membuka informasi. Mereka membeberkan lokasi toko, wajah penjual, pengedar, bahkan yang diduga menjadi beking, tanpa sensor.
Ada yang disebut oknum aparat, bahkan nama-nama yang selama ini mungkin tak pernah tersentuh. Di titik ini, sulit untuk tidak mengakui: ada keberanian di sana.
Baca Juga: 4 Obat Sembelit Paling Ampuh di Apotek, Aman dan Terbukti Cepat Atasi BAB Seret
Tentu saja ini tidak muncul begitu saja. Ada akumulasi kekecewaan. Peredaran obat keras ini bukan hal baru.
Banyak yang tahu. Lokasinya pun sering kali bukan di tempat tersembunyi. Justru di tengah keramaian, bahkan dekat kantor aparat. Tapi penindakannya seperti jauh. Atau terasa jauh. Atau memang sengaja dibikin jauh.
Padahal, dampaknya jelas. Yang mengonsumsi, sebagian besar anak-anak muda. Generasi yang seharusnya dijaga, malah dibiarkan terpapar. Di sinilah, saya melihat kenapa gerakan seperti ini muncul.
Mereka tidak sekadar mengutuk. Mereka bergerak. Mereka mendesak. Bahkan, sesekali, mengancam, jika tidak ada tindakan, mereka yang akan turun tangan. Dan ketika ancaman itu benar-benar terjadi, efeknya terasa. Kasus di Kota Tegal, misalnya.
Aksi pelemparan petasan ke toko madol di dekat RSUD Kardinah, yang kemudian di-tag ke berbagai akun resmi: polisi, BNN, hingga kepala daerah, berujung pada respons cepat. Razia dilakukan. Warung-warung dibongkar.
Dari situ, muncul temuan yang cukup mencengangkan: buku catatan berisi nama-nama instansi dan oknum wartawan yang diduga menerima setoran. Bayangkan. Hal-hal yang selama ini hanya jadi bisik-bisik, tiba-tiba muncul ke permukaan.
Baca Juga: UKSW dan Wanadri Bersatu Hijaukan Kampus dan Negeri, Trembesi Jadi Simbol Aksi Nyata
Aksi-aksi lain juga punya efek serupa. Ketika akun ini mengunggah video oknum tentara yang diduga terlibat narkoba, respons dari institusi si tentara langsung muncul. Diakui, diproses. Kita tentu berharap tidak berhenti di situ. Bahwa ini benar-benar jadi pintu masuk untuk bersih-bersih, bukan sekadar meredam situasi.
Menariknya, fenomena ini seperti menemukan momentumnya sendiri. Meluas. Tidak lagi hanya satu akun, tapi mulai diikuti oleh gerakan serupa di tempat lain. Ada semacam energi kolektif; kegelisahan yang akhirnya menemukan bentuknya.
Saya sempat mendiskusikan ini dengan anak saya. Ia menyebutnya sederhana: ini akumulasi ketidakpercayaan. Ketika aparat yang seharusnya menindak justru dicurigai melindungi, maka wajar kalau kepercayaan itu runtuh. Dan ketika itu terjadi, orang akan mencari cara lain.
Anak saya, Bagas, bahkan menganalogikan dengan tokoh fiksi: Batman. Sosok yang muncul di kota yang gelap, korup, penuh kejahatan: Gotham City. Kota di mana hukum ada, tapi tidak cukup bekerja. Sehingga keadilan, pada akhirnya, diambil alih oleh sosok di luar sistem.
Baca Juga: Mutasi 22 Pegawai, Bank Salatiga Perkuat SDM dan Pilar Hukum
Analogi yang mungkin terasa berlebihan. Tapi kalau dipikir-pikir, ada irisan yang tidak bisa diabaikan. Ketika orang sudah lelah berharap, ketika kejahatan terasa dekat dan nyata, sementara hukum terasa jauh, maka yang muncul bukan lagi kesabaran, melainkan letupan.
Dan apa yang terjadi belakangan ini, serangan ke toko-toko obat ilegal itu, menurut saya tidak bisa dianggap angin lalu. Memang, caranya salah. Tidak bisa dibenarkan. Tapi kalau kita hanya berhenti di situ, dengan menyalahkan caranya, maka kita akan kehilangan akar persoalannya.
Ini bukan soal petasan. Ini soal kepercayaan yang retak. Negara harus melihat ini sebagai peringatan. Masyarakat sekarang tidak lagi pasif. Mereka melihat, merekam, menyebarkan. Dan ketika merasa tidak dilindungi, mereka bisa bergerak sendiri.
Secara pribadi, saya kurang sreg ketika Indonesia diibaratkan sebagai “Konoha” atau “Wakanda”, istilah yang sering dipakai netizen di media sosial. Dua-duanya, dalam konteks tertentu, justru terasa terlalu “ringan” untuk menggambarkan situasi yang kita hadapi saat ini.
Kalau harus memilih analogi, saya justru lebih dekat ke Gotham City. Sebuah kota fiksi, memang. Tapi penuh dengan gambaran tentang kekuasaan yang korup, kejahatan yang merajalela, dan masyarakat yang menjadi korban.
Di titik jenuh seperti itu, selalu ada satu hal yang muncul: pengadil dari luar sistem. Pertanyaannya, apakah yang kita lihat sekarang; maraknya aksi warga terhadap toko madol, sebagai bentuk dari itu?
Saya tidak ingin menjawabnya secara mutlak. Mari kita tafsirkan masing-masing. Yang jelas, ini bukan sekadar fenomena sesaat. Ini tanda. Dan seperti semua tanda, ia bisa diabaikan; atau dibaca dengan serius. Waspada! Wassalam. (isk)
Editor : Tasropi