RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Tangan Anjani Rianti tampak telaten merawat suaminya, Muhammad Nur, yang menjalani hemodialisis di Ruang Hemodialisa RSUD Bendan Kota Pekalongan, Kamis 1 Oktober 2026.
Di tengah deretan pasien yang menjalani cuci darah, perempuan itu setia mendampingi suaminya melewati satu lagi rangkaian pengobatan yang harus dijalani secara rutin.
Muhammad Nur merupakan warga Noyontaan, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. Sebelum kondisi kesehatannya menurun, ia bekerja sebagai buruh jahit.
Pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga itu, kini tak lagi bisa dijalani seperti sebelumnya.
Penyakit membuat tubuhnya tidak lagi cukup kuat untuk bekerja. Usia yang semakin bertambah juga membuat aktivitas fisik menjadi semakin terbatas.
Namun, ada satu hal yang membuat keluarga ini tetap bisa menjalani pengobatan dengan lebih tenang. Muhammad Nur dan istrinya merupakan peserta BPJS Kesehatan.
Bagi Anjani, kepesertaan JKN bukan sekadar kartu untuk mendapatkan layanan kesehatan. Program tersebut menjadi penopang penting ketika suaminya harus menjalani cuci darah secara rutin.
“Terbantu, terbantu sekali. Sangat bermanfaat,” kata Anjani ketika menceritakan manfaat kepesertaan BPJS Kesehatan bagi keluarganya.
Muhammad Nur telah menjalani cuci darah hampir satu tahun. Dalam sepekan, ia harus datang ke rumah sakit sebanyak dua kali untuk menjalani hemodialisis.
Rutinitas tersebut tentu bukan perkara ringan bagi keluarga yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sebagai buruh jahit.
Kondisi kesehatan Muhammad Nur mulai mengalami persoalan serius setelah memiliki riwayat diabetes yang sudah berlangsung sekitar 15 tahun.
Ia juga pernah mengalami komplikasi hingga harus menjalani pengobatan untuk gangguan paru-paru.
Setelah sempat membaik, beberapa tahun kemudian kondisi kesehatannya kembali menurun.
Tekanan darah tinggi dan gangguan ginjal kemudian membuatnya harus menjalani cuci darah secara berkala.
Di tengah perjalanan pengobatan itulah, BPJS Kesehatan menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga tersebut.
Anjani mengatakan, keluarganya sudah mengenal kepesertaan BPJS Kesehatan sejak sekitar 2018. Saat itu, keputusan untuk menjadi peserta justru muncul dari inisiatif keluarga sendiri.
Suaminya yang ketika itu masih aktif bekerja sebagai buruh jahit merasa perlu memiliki perlindungan kesehatan.
Usia yang semakin bertambah membuat mereka mulai sering melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Bapak dan saya sering sakit, terus saya punya inisiatif sendiri untuk daftar,” tuturnya.
Awalnya, keluarga Muhammad Nur menjadi peserta mandiri. Mereka sempat membayar iuran sendiri selama beberapa bulan.
Namun, saat pandemi Covid-19, kepesertaan mereka kemudian mendapatkan dukungan melalui program pemerintah sehingga keluarga tersebut tidak lagi harus membayar iuran secara mandiri seperti sebelumnya.
Perubahan status tersebut menjadi sangat berarti bagi keluarga Muhammad Nur. Sebab, kebutuhan pengobatan semakin besar ketika kondisi kesehatannya memburuk.
Saat pertama kali mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan, Muhammad Nur belum menjalani cuci darah.
Kepesertaan tersebut awalnya dimanfaatkan untuk pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ketika sakit.
Perlahan, perjalanan penyakitnya berubah. Riwayat diabetes yang sudah bertahun-tahun dimiliki kemudian berkembang menjadi berbagai komplikasi.
Hingga akhirnya, gangguan pada ginjal membuat Muhammad Nur harus menjalani hemodialisis secara rutin. Kini, dua kali dalam sepekan, ia kembali ke ruang Hemodialisa RSUD Bendan.
Bagi keluarga dengan latar belakang pekerjaan sebagai buruh jahit, biaya kesehatan tentu menjadi persoalan tersendiri.
Apalagi saat kemampuan bekerja sudah menurun dan kebutuhan pengobatan justru meningkat.
Karena itu, Anjani merasakan langsung bagaimana kepesertaan JKN membantu keluarganya. “Manfaatnya sekali. Bisa terbantu. Perekonomian juga sangat terbantu sekali,” katanya.
Selama mendampingi suaminya menjalani pengobatan, Anjani mengaku tidak mengalami persoalan berarti terkait pelayanan kesehatan yang diterimanya. “Pelayanannya bagus, memuaskan. Tidak ada masalah,” ujarnya.
Bagi Anjani, pelayanan kesehatan bukan hanya soal pengobatan yang diterima suaminya. Kepastian bisa mengakses layanan secara berkelanjutan juga memberikan rasa aman bagi keluarga.
Kini, kehidupan Muhammad Nur memang sudah jauh berbeda dibandingkan ketika masih aktif bekerja sebagai buruh jahit.
Tubuh yang tak lagi sekuat dulu membuatnya harus mengurangi aktivitas dan bergantung pada pengobatan rutin.
Namun di ruang Hemodialisa RSUD Bendan, ia tetap menjalani proses pengobatan tersebut bersama istrinya. Anjani pun terus berada di sisinya.
Di tengah rutinitas dua kali cuci darah setiap pekan, perjalanan keluarga ini memperlihatkan bagaimana perlindungan kesehatan menjadi semakin penting ketika seseorang memasuki usia yang lebih tua dan kondisi tubuh mulai membatasi kemampuan untuk bekerja. (han/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Radar Semarang