RADARSEMARANG.ID, Semarang — Ada-ada saja gebrakan Gubernur Dedi Mulyadi ini.
Sejumlah pelajar resmi mengikuti pendidikan Militer di Kodim 0619 Siliwangi Purwakarta.
Langkah ini diambil sesuai kebijakan yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bagi pelajar yang tergolong kategori nakal.
Dalam pemberangkatannya siswa tersebut diantar langsung oleh Dedi Mulyadi ke barak militer di Purwakarta.
Sejumlah orang tua dan wali siswa tampak hadir dan sempat ditanya Dedi Mulyadi.
Salah satu orang tua ditanya Dedi Mulyadi terkait alasan mengizinkan anak mengikukti pendidikan.
“Biar orang tahu, oleh ibu sendiri menangani bisa engga?” tanya KDM sapaan akrab Dedi Mulyadi, dikutip dari Instagram resminya.
“Engga Pak, mangkanya saya mempercayakan untuk anak saya mudah-mudahan menjadi lebih baik,” tutur salah satu orang tua.
Dedi kembali menanyakan kesanggupan orang tua mengurus anaknya.
”Akhirnya tinggal sama neneknya. Neneknya engga sanggup juga?” tanyanya.
Pertanyaan KDM dijawab dengan gelengan kepala oleh salah satu orang tua.
Dedi menyampaikan, status anak yang menjalani pendidikan Militer tetap sama.
“Status anak ibu nanti tetap sekolah. Cuma sekolahnya pindah ke Komplek Resimen I Sthira Yudha,” ujarnya.
Terkait makanan, Dedi mengungkapkan, akan disiapkan.
“Nanti makannya disiapin, jangan kasih jajan. Jangan dikasih hape, jangan dijenguk,” perintahnya.
KDM juga menanyakan kepada orang tua mengenai siswa yang kebanyakan terlibat dalam perkelahian antar kelompok.
“Anak ibu kenapa?” tanyanya.”Tawuran,” jawab sang ibu.
Kepada sang ibu, KDM menanyakan lokasi perkelahian antar kelompok yang melibatkan sang anak.
“Di mana tawurannya?” tanya Dedi.”Di Bojong,” tutur sang ibu.
Dedi beralih ke orang tua lainnya dan menanyakan tempat tinggal sang anak.
“Tinggalnya sama Ibu?” tanya Dedi”Sama neneknya,” jawab sang ibu.
Gubernur Jawa Barat menanyakan alasan sang anak tinggal bersama neneknya.
“Ibu, kenapa anaknya tinggal sama neneknya?” tanyanya.”Karena perceraian,” jawab ibu lainnya.
KDM kembali bertanya mengenai alasan sang anak tidak tinggal dengan ibu kandungnya, “Kenapa engga dibawa sama Ibu?” tanyanya.
”Engga boleh sama orang tuanya,” jelas ibu lainnya.
Mantan Bupati Purwakarta dua periode itu juga bertanya terkait pemberian izin.
“Sekarang neneknya mengizinkan, ibu mengizinkan?” tanyanya.
”Mengizinkan,” tegas sang ibu.
Politisi Partai Gerindra itu juga menyebutkan, surat yang harus diteken orang tua.
“Bersedia menandatangai surat pernyataan?” tanyanya.”Siap,” ucap sang ibu.
KDM juga sempat berbincang dengan salah satu orang tua, yang anaknya mengikuti Paskibraka.
“Kan udah ikut paskibra, masalahnya apa?” tanyanya.
”Kebawa-bawa teman, tawuran,” jawab ibu yang lain lagi.
KDM menekankan, pendidikan yang dilakukan tanpa menggunakan telepon seluler.
“Mulai sekarang dengan pola pendidikan ketat tanpa hape, tiap hari makannya bergizi, tidurnya jam 8 malam, bangunnya jam 4,” tegasnya.
Sebagai informasi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah memulai program pendidikan di komplek militer untuk anak-anak yang tidak bisa diatur oleh orang tua.
Program ini pertama kali dilakukan oleh Kabupaten Purwakarta yang bekerja sama dengan Kodim 0619 Siliwangi Purwakarta.
Setidaknya ada 30 siswa bermasalah di Kota Bandung yang mulai menjalani pendidikan disiplin di Rindam III Siliwangi, Jalan Menado, Kota Bandung, Jawa Barat.
Menurut gubernur Jabar, Dedi Mulyadi pendidikan disiplin tersebut akan dilaksanakan di dua daerah, Kabupaten Purwakarta dan Kota Bandung.
Di Kabupaten Purwakarta, program ini sudah digulirkan pada Kamis (1/5/2025) dengan jumlah 39 siswa.
Sedangkan di Kota Bandung, program ini dimulai hari jumat.
“Di sini (Rindam III Siliwangi) ada 30 siswa,” kata Dedi usai kegiatan upacara Hari Pendidikan Nasional di Rindam III Siliwangi.
Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengirim anak nakal ke barak TNI tak akan ditiru Pemprov Jateng.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengusulkan agar mereka anak nakal dikirim ke pondok pesantren.
Usulan itu disampaikannya dalam acara Halalbihalal dan Harlah ke-79 Muslimat NU Kota Semarang.
Di kesempatan itu, ia mengatakan, pemerintah bisa bekerja sama dengan organisasi seperti Muslimat, Aisyiyah, atau pondok pesantren.
”Kita fasilitasi mereka ke pesantren (atau boarding school), bukan sekadar untuk disiplin, tapi juga agar mereka paham nilai-nilai keagamaan, apapun agamanya,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, kolaborasi lintas organisasi dalam upaya membina generasi muda dan menjaga ketahanan sosial masyarakat sangat penting dilakukan.
”Kami rangkul semua elemen, termasuk Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, Aisyiyah, semua kami beri ruang,” tuturnya.
Dalam acara itu, Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin Maimoen menyebut kenalakan remaja merupakan fenomena yang kumat-kumatan atau timbul-tenggelam.
Fenomena sekarang ini, banyak anak-anak di bawah umur yang sekadar ikut-ikutan. Pembinaan berbasis karakter pada generasi muda pun penting dilakukan.
Menurutnya, ketika pendekatan kreatif tak lagi mempan, anak-anak yang bermasalah itu bisa difasilitasi untuk belajar di pesantren atau boarding school.
Pemprov Jateng sendiri telah memiliki program Kecamatan Berdaya yang telah berjalan.
Program itu tak hanya menyasar perempuan, anak, dan penyandang disabilitas, namun juga anak-anak zilenial.
Menurut wagub, program Kecamatan Berdaya bisa menjadi pintu masuk untuk menjangkau mereka, dengan membentuk karakter yang lebih baik melalui kegiatan positif berbasis komunitas.
”Sekarang ini banyak kasus gangster yang pelakunya anak-anak muda, generasi zilenial. Kenapa mereka tidak kita arahkan ke kegiatan yang lebih kreatif dan positif saja,” ujarnya. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi