RADARSEMARANG.ID — Siapa sih yang tidak kenal dengan beliau, yang setiap acara pengajian dan sholawatan selalu dibanjiri oleh puluhan ribu jamaah dari berbagai kota dan daerah mana saja.
Ada Magnet Mahabbah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang membuat para jamaah berduyun-duyun untuk menghadiri acara tersebut.
Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf atau sering disapa Habib Syech lahir 20 September 1961.
Merupakan putra seorang ulama Habib Abdul Qodir bin Abdurrahman As Segaf, pendidikan yang pertama adalah ayah kandungnya.
Selain dari itu beliau juga pernah berguru dan mengambil berkah terhadap sejumlah habaib di Kota Surakarta di antaranya yaitu Habib Anis bin Alwi Al Habsyi.
Habib Syech selain pembawa sholawat bersama grup Hadroh Ahbaabul Musthofa.
Ia juga menjabat sebagai A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada masa khidmat 2022-2027.
Isu aksi penolakan menyelimuti agenda sholawat bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf dan Abah Anza atau KH Anwar Zahid di Masjid Al-Birru Pertiwi Bojonegoro hari ini (16/5).
Namun, agenda tersebut dipastikan tetap berlangsung sesuai jadwal.
Sementara, Polres Bojonegoro telah melakukan rapat koordinasi atas izin acara tersebut.
Direktur Masjid Al-Birru Pertiwi Agus Sholahuddin Shiddiq menyampaikan, bahwa acara tetap akan digelar sebagaimana telah dijadwalkan.
Meski tak menampik adanya sejumlah penolakan dari kelompok masyarakat.
Menurutnya, kegiatan itu membawa manfaat spiritual bagi melalui syiar cinta Nabi Muhammad SAW.
’’Insyaallah acara Munajat Cinta bersama Habib Syech tetap dilaksanakan,” ujarnya.
Su’udin Aziz, tokoh masyarakat Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander mengungkapkan, penolakan terhadap suatu kegiatan publik seharusnya punya dasar hukum yang kuat.
Namun, jika tidak ada indikasi kuat, maka penolakan seperti itu tidak perlu ditanggapi secara serius. ’’Kami percayakan sepenuhnya pada aparat keamanan,” ujarnya.
Kapolres Bojonegoro AKBP Mario Prahatinto menyampaikan, bahwa terkait adanya isu penolakan tersebut, pihaknya mengaku belum ada laporan.
Sementara itu, terkait izin acara tersebut, telah dilakukan koordinasi yakni agenda rutin sebelum dilakukannya pengamanan acara.
’’Belum ada (penolakan), untuk izin masih dilakukan rapat koordinasi,” terangnya kemarin (14/5).
Namun, saat bersamaan muncul juga adanya surat keberatan yang dilayangkan oleh kelompok masyarakat yang atas kehadiran Habib Syech di Bojonegoro.
Yakni, dari Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Bojonegoro.
’’Bagi kami Habib Syech sama seperti habib-habib lainnya yang sering menarasikan sesuatu hal yang di luar akidah dan Syariah. Jadi, cenderung menyesatkan,” tegas Wakil Ketua PWI LS Bojonegoro Ainun Naim.
Menurutnya, jarang sekali menceritakan kisah sahabat nabi atau wali-wali.
’’Justru lebih sering menceritakan tentang leluhur-leluhur habib,” katanya.
PWI-LS Bojonegoro juga telah mengirim surat penolakan atau keberatan itu ke Gubernur Jawa Timur higga Bupati Bojonegoro.
’’Bahkan, status habib ini masih menjadi polemik tersendiri. Bisa dibilang mereka hanya sekadar klaim sebagai keturunan atau dzuriyyah Rasulullah SAW,” katanya.
Namun, Naim menegaskan, pihaknya tidak menolak kegiatan sholawat tersebut.
’Kami hanya khawatir kegiatan itu digunakan untuk menyampaikan ajaran yang menyimpang,” ujarnya. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi