Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Menjaga Eksistensi Musik Tradisional di Kota Semarang

Figur Ronggo Wassalim • Minggu, 7 Januari 2024 | 17:08 WIB
Keroncong Swadesi saat menghibur para pecinta musik keroncong di Kedai Kang Putu, Kamis (28/12) malam. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG   
Keroncong Swadesi saat menghibur para pecinta musik keroncong di Kedai Kang Putu, Kamis (28/12) malam. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG  

Keroncong Swadesi, 73 Tahun Bertahan Menjaga Musik Tradisional

RADARSEMARANG.ID - Di tengah gempuran modernisasi, di Kota Semarang masih banyak musik tradisional yang tetap eksis. Salah satunya adalah Keroncong Swadesi. Kelompok musik ini tetap eksis sejak berdiri tahun 1950.

Vokalis Keroncong Swadesi Semarang, Sri Haryani, mengatakan, kelompok keroncongnya memiliki sejarah panjang. Mencerminkan warisan musik tradisional yang kuat.

Sejak tahun 1950-an, grup musik ini telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari dan terus mewariskan keroncong dari generasi ke generasi. “Saat ini kami di generasi ketiga,” kata

Ia mewarisi darah musisi dari ibu dan neneknya. Untuk menjaga eksistensinya, Keroncong Swadesi rutin berlatih di kelurahan Gajah Mungkur setiap hari Selasa.

Sri Haryani bergabung sejak 1983. Ada 10 personel dari berbagai kelompok usia. Keistimewaan mereka terletak pada perhatian khusus pada lagu-lagu berontak.

Meskipun mereka fleksibel untuk memenuhi permintaan lagu-lagu tertentu dalam acara-acara khusus, latihan mereka selalu memfokuskan pada lagu-lagu berontak yang menjadi identitas musik mereka.

"Kami selalu bersemangat dan dedikasi yang terpancar dalam setiap latihan untuk menjaga esensi keroncong yang otentik," ujarnya.

Ia mengakui banyak tantangan yang dihadap. Terutama harus menjaga eksistensi dan menarik perhatian generasi muda.

Meskipun sebagian besar tertarik pada keroncong, beberapa generasi muda lebih menyukai lagu-lagu modern. "Hal ini membuat menjaga keaslian keroncong semakin menantang," akunya.

Sri Haryani menekankan pentingnya meneruskan tradisi keroncong. Karena merupakan warisan leluhur dan harus terus dijaga.

Kunci untuk mempertahankan minat dan apresiasi generasi muda terhadap warisan budaya ini adalah dengan menggabungkan elemen-elemen modern tanpa kehilangan esensi keroncong yang berharga.

"Jadi eksistensi keroncong harus dijaga, anak-anak muda harus terus melestarikannya," tambahnya.

Orkes Keroncong Gudeg Mbak Tum sedang menghibur pengunjung. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Orkes Keroncong Gudeg Mbak Tum sedang menghibur pengunjung. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Bernostalgia Keroncong sambil Menikmati Gudeg

Ada yang unik di warung Makan Gudeg Mbak Tum di Jalan MT Haryono, Semarang. Pengunjung bisa menikmati gudeg sambil mendengarkan musik tradisional keroncong.

Warung makan ini memfasilitasi pelanggan dengan live musik keroncong ala musik jalanan.  Uniknya, live musik mengusung nama Orkes Keroncong Gudeg Mbak Tum. Dibentuk tahun 2016 dengan empat personel.

Mereka merupakan orkes pindahan dari Stasiun Tawang yang dulunya sempat menghibur calon penumpang kereta api.

"Grupnya pecah menjadi dua, tiga orang ke Mbak Tum. Sehingga kami menjadi tempat bagi kami," kata vokalis, Wawan.

Grup orkes keroncong ini berada di area warung Gudeg Mbak Tum ini mulai membawakan lagu dari maghrib hingga jam 1 pagi.  

Personel Orkes Keroncong Gudeg Mbak Tum, Tri Kuncoro mengatakan, dasar orkes ini adalah musik keroncong. Namun, biasa membawakan lagu pop, barat, bahkan dangdut sekalipun.  

"Lagu-lagunya bisa barat, kadang lagu latin, lagu kekinian seperti Deny Caknan. Kalo di rumah makan pada minta request lagu," ujarnya

Kuncoro dan personil orkes lainnya mendapat uang hasil saweran dari pembeli dan penonton di sekitar warung makan Mbak Tum. "Sehari kadang kalo pas rezekinya bisa 200-250 ribu per orang." Imbuh Kuncoro.

Orkes Keroncong Gudeg Mbak Tum juga mendapat fasilitas makan, minum, dan listrik dari warung makan.  "Malah kalo Bu Tum lagi ada rezeki, beliau yang ngasih tambahan (uang)," ujarnya.

Keroncong Orkes New Cahaya Hati yang sempat vakum akhirnya bangkit. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
Keroncong Orkes New Cahaya Hati yang sempat vakum akhirnya bangkit. FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Sempat Vakum, Keroncong Orkes New Cahaya Hati Kembali Bangkit

Keroncong Orkes New Cahaya Hati berdiri sejak tahun 2019. Sempat vakum selama pandemi, kelompok yang semula bernama Cahaya Hati 19 ini akhirnya bangkit.

Bahkan, setiap Sabtu dan Minggu grup kroncong ini sering manggung di Warung Bebek dan Ayam kampung Mas Budi dari tahun 2021 sampai sekarang.

Grup ini beranggotakan sembilan orang, dengan tujuh pemain musik dan dua penyanyi dan sudah terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang

Ketua grup Keroncong Orkes New Cahaya Hati, Budi mengatakan, salah satu bukti masih eksis dengan bukti telah terdaftar pada surat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

"Kita ikut komunitas KPKS dengan nama Orkes keroncong New Cahaya Hati, sampai sekarang kita tetap eksis dan kita sudah punya surat keterangan terdaftar di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan," ujarnya.

Menurutnya keroncong bukan musik tua dan bisa dinikmati pada segala usia, karena lagu pada zaman sekarang bisa dinyanyikan oleh musik keroncong. Anak muda taunya musik keroncong adalah musik tua dan lagu-lagunya.

"Setau mereka adalah lagu membuat ngantuk dan lagu-lagu sekarang dikeroncongkan pun bisa," ujarnya.

Ia berharap agar musik Keroncong tetap eksis, dilestarikan, dan anak muda ikut andil dalam melestarikan kesenian musik keroncong.

"Harapan ke depan musik keroncong tetap eksis tetap dilestarikan, kalau bisa anak-anak muda sekarang ikut melestarikan musik yang asli dari peninggalan nenek moyang kita," ujarnya. (mg2/mg4/mg5/fgr/fth)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #Keroncong #tradisional #gudeg #musik