Kelenteng tersebut memiliki hiolo (tempat abu dupa) terbesar se-Asia Tenggara. Selain itu terdapat ruangan khusus terpampang foto KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bapak pluralisme yang dianggap juga bapak kaum Tionghoa.
Kamis (19/1) sore wartawan ini singgah ke Jalan Pemuda No.100, Dusun Balerejo, Desa Muntilan. Jalan ini adalah rute menuju Kelenteng Hok An Kiong yang bersejarah. Berdiri sejak 1878.
Sepanjang jalan masuk terlukis garis merah bertepian kuning terbentang dari gerbang menuju kelenteng. Terpampang papan kayu beraksara China. Tampak pula ornamen lampion dan patung naga.
Budi Raharjo duduk santai berbaju biru muda dan celana jeans. Pemilik nama Tionghoa Wong Kim Tjong itu mempersilakan wartawan menuju kediamannya. Masuk melalui pintu kanan bersimbol naga dan ketika keluar nanti melalui pintu bersimbol harimau.
Sehari-hari, Pak Budi -sapaan akrabnya- berdagang. Mengurus toko besi yang tak jauh dari kelenteng sekaligus menjadi rumahnya. Rutinitas itu telah dijalani puluhan tahun. Panggilan dan kesadaran sosial membuatnya rela mengabdi memajukan kelenteng.
"Pertama ya kepilih aja. Lama-lama jiwa pengabdian itu tumbuh," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Imlek tahun lalu baginya sangat berkesan. Karena mendapat kado istimewa foto Gus Dur dari MWC NU Kecamatan Muntilan. Akhirnya disediakan ruangan khusus. Diberikan altar khusus dan karpet hijau khas ormas NU.
Menurutnya menjadi pemimpin tidak boleh seenaknya. Harus menjadi teladan. Ditambah tanggung jawab memperbaiki sesuatu yang dianggap salah. "Ketika ada umat yang kurang sopan atau pas kita luruskan dan perbaiki," ujarnya.
Saat pandemi pula pihaknya juga berkegiatan sosial dengan membagikan beras 30 ton kepada masyarakat. "Agenda tahunan itu penuh, terutama kegiatan sosial. Tidak pernah kekurangan dan selalu ada yang ngasih" tandasnya.
Perawatan kelenteng pun banyak. Biasanya dana berasal dari umatnya. Mulai dari kebersihan hingga minyak untuk lentera penerangan. Setiap altar terdapat dua penerangan. Menyala nonstop seharian.
Selama memimpin kelenteng, ia jalankan tanpa merasa terbebani. Pelayanan kepada jamaah selalu menjadi prioritas. Umatnya juga tidak dibebankan biaya perawatan dan peribadatan.
Pengunjung kelenteng tidak hanya umat Konghucu. Bahkan dari kalangan pejabat seperti menteri, gubernur sering berkunjung ke Kelenteng Hok An Kiong.
"Petani tembakau juga ke sini. Tanya hari apa tanggal berapa nanamnya. Bahkan untuk kenduri kita welcome, mau pakai doa agama masing-masing tidak masalah," ungkapnya.
Selain konsentrasi kegiatan di kelenteng, pihaknya juga rajin menguatkan hubungan dengan agama lain. Berkunjung ke pondok pesantren menemui kiai, ke pendeta, bhante, dan pemuka agama lain.
"Kita juga pernah memfasilitasi tempat untuk gelar wayangan, buka puasa, tirakatan hari kemerdekaan," papar Budi.
Hal yang agak menyulitkan ialah regenerasi umatnya. Tak banyak anak muda Konghucu yang jiwanya terpaut beribadah ke kelenteng. Mayoritas yang datang ke kelenteng dari kalangan orang tua.
"Biasanya kalau anak muda malah dari luar kota. Tapi kita optimistis hal ini harus tetap dilestarikan," tegas Budi. (mia/lis) Editor : Agus AP