Kepada Jawa Pos Radar Magelang Giyanti bercerita budidaya lebah lanceng miliknya dimulai Agustus 2020. Saat itu dia bersama sang suami membeli lebah lanceng di Kecamatan Candimulyo. Modalnya Rp 500.000.
“Dapat 10 kotak. Terus dikasih bonus 1 kotak,” ujar Giyanti, Rabu (1/9/2021) siang.
Muhlisin lantas menata kotak-kotak lebah lanceng di teras rumah. Beberapa juga diletakkan di dinding tembok luar. Kotak kayu itu berukuran sekitar 30 cm x 10 cm.
“Ditata sendiri lagi. Yang tadinya satu kotak, dibagi jadi tiga kotak. Yang penting kan di setiap kotak ada ratunya,” kata ibu tiga anak ini.
Untuk perawatan, Giyanti mengaku tidak menemukan kesulitan. Sebab lebah-lebahnya mencari makan sendiri. Giyanti hanya perlu menanam dan merawat tanaman bunga di rumah sebagai sumber pangan lebah. Tak heran, banyak tanaman bunga air mata pengantin menjuntai di muka teras. Ditemani beberapa tanaman lain di bawahnya.
Setahun beternak, pasangan suami istri ini baru sekali memanen madu. Tepatnya pada bulan Juli kemarin. Ketika kedua anaknya sakit.
“Dapat dua botol vitamin C itu lho, Mbak,” ujar Giyanti. Tangannya menggambarkan botol kaca salah satu produk vitamin C berukuran 140 ml. “Madunya lebih lengket ketimbang madu yang dulu biasa saya beli di toko herbal,” tuturnya.
Menurut Giyanti, madu hasil budidayanya lebih berkhasiat daripada madu kemasan dari toko. Lebih cepat memulihkan kondisi anaknya yang sakit. Bahkan, membantu meningkatkan nafsu makan anak bungsunya yang baru berusia 2 tahun.
Hingga kini, madu lanceng milik Giyanti dan Muhlisin belum dibisniskan. Masih untuk konsumsi pribadi. “Kalau mau dijual harus punya 100 kotak. Ini baru 30-an,” kata Muhlisin. Namun, Giyanti tetap berharap budidaya madu lanceng mereka berkembang, sehinga kelak bisa memenuhi kebutuhan pasar. (rhy/lis)
Editor : Agus AP