Ika Ismayasari, salah satu warga mengaku acara mooncake festival ini sangat menarik dan inspiratif. Menurutnya bagus lagi kalau event seperti ini bisa digelar secara rutin setiap tahunnya dan digelar setidaknya dua sampai tiga hari. “Kalau hanya satu hari terasa kurang puas. Selain itu, kalau bisa dikembangkan menjadi event rutin setiap tahun. Ini bisa menjadi destinasi baru di Kota Magelang dan menjadi wadah bagi UMKM serta budaya,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, Wali Kota Magelang Muchamad Nur Aziz menyambut baik gelaran tradisi ini. Pemkot Magelang akan mengkaji dan mengevaluasi terlebih dahulu terkait Mooncake Festival. “Saya juga berharap dan ingin festival ini menjadi agenda rutin di Kota Magelang. Apalagi melihat antusias UMKM dan masyarakat sangat bagus,” jelasnya kepada wartawan Radar Magelang.
Aziz mengungkapkan Kota Magelang menjadi rumah bersama untuk menjalin toleransi bagi semua golongan, dari kaum Tionghoa, Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan Katolik. Oleh sebab itu, kegiatan ini bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Magelang dan sekitarnya, sehingga masyarakatnya semakin sejahtera.
Hujan rintik-rintik yang mengguyur Kota Magelang saat berlangsungnya festival di kawasan Chinatown atau kompleks permukiman warga keturunan Tionghoa, tidak menyurutkan minat pengunjung untuk menyusuri deretan stan kuliner di Mooncake Festival tersebut.
Tokoh Tionghoa Kota Magelang David Hermanjaya menjelaskan Festival Kue Bulan merupakan perayaan terbesar kedua bagi masyarakat Tionghoa setelah Tahun Baru Imlek. Tradisi ini diperingati sebagai festival pertengahan pada musim gugur. Festival Kue Bulan disebut juga Tiong Chiu Pia, 'Tiong' adalah tengah, 'ciu' artinya adalah musim gugur, sedangkan 'pia' adalah kue dengan isian macam-macam. (rfk/ton) Editor : Agus AP