Penyuluh Pertanian Madya Disperpa Kota Magelang Among Wibowo akui tikus adalah hama utama yang kerap menyebabkan petani alami kerugian. Hewan pengerat itu menyerang pada saat tumbuhan memasuki fase vegetatif. Maupun generatif. Fase ini dianggap paling rawan dari amukan tikus. Karena tanaman siap dipanen. Kerugian yang timbul mulai dari 25 persen, sampai yang terparah mengalami puso. Alias total gagal panen. Ia ingat, puso pernah terjadi sekitar lima tahun lalu. Sekitar 0,5 hektare lahan tidak menghasilkan apa-apa. Jumlah itu kumulatif dari beberapa titik sawah.
“Pasa fase vegetatif, tikus biasanya memotong batangnya. Tapi kalau sudah fase generatif, tikus memotong pangkal buah,” kata Among di sela pemantauan tanaman hidroponik yang dikembangkan Disperpa Rabu (10/2).
Memusnahkan tikus memang sulit dilakukan. Paling tidak, petani menggunakan sistem gropyokan untuk menurunkan jumlah populasinya. Berdasarkan riset, sepasang tikus beranak pinak sekitar 5.000 ekor tikus dalam setahun. Satu tikus betina bisa mengandung 6-8 kali selama setahun. Dengan masa kehamilan tiga minggu. Tiap kelahiran bisa 8-10 ekor. Sedangkan tikus yang berusia 60 hari sudah siap kawin.
Serangan tikus tidak bisa nol. Apalagi persawahan masih dekat dengan rumah warga. Dari pemukiman penduduk tikus-tikus itu diusir, lari ke sawah. Sebaliknya. Tikus yang pergi dari sawah, kembali ke permukiman. Solusinya harus menerapkan tanam serempak. Ini akan mengakibatkan migrasi tikus.
Namun di Kota Magelang tanam serempak sulit dilakukan. “Petani di sini merupakan penggarap, bekerja secara kelompok. Kalau mengerjakan lokasi lainnya, harus menunggu lokasi yang sedang dikerjakan kelompok itu selesai,” ungkapnya.
Model tanaman hidroponik diyakini paling aman dari serangan hama tikus. Hanya ulat, dan jamur. Pengawasannya mudah. Lingkungan terkendali. Tapi boros di ongkos.
Menurut Among, hidroponik itu luwesan. Bisa diterapkan di sawah. Juga di pekarangan sempit, seperti depan rumah. “Kita sedang mengarahkan warga, khususnya yang punya lahan terbatas untuk melakukan urban farming,”imbuhnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Magelang, luas lahan sawah capai 142,83 hektare. Tegalannya 18,53 hektare. “Namun pekarangan ada 1.234 hektare, atau delapan kali luas sawah yang belum tergarap maksimal,” imbuhnya. (put/lis) Editor : Agus AP