Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Lika-Liku Komunitas Kartunis di Tengah Gempuran Teknologi AI, Harus Mampu Beradaptasi

Budi Setiyawan • Minggu, 9 Juni 2024 | 17:48 WIB
Suyono, anggota Kokkang menunjukkan karyanya yang berhasil menang dalam perlombaan. Budi Setiawan/Jawa Pos Radar Semarang
Suyono, anggota Kokkang menunjukkan karyanya yang berhasil menang dalam perlombaan. Budi Setiawan/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID - Tak dipungkiri, berkembangnya teknologi AI (Artificial Intelligence) semakin menggerus ‘sawah’ seniman gambar konvensional. Salah satunya kartunis.

Butuh inovasi dan adaptasi dengan perkembangan teknologi jika ingin tetap eksis. Seperti yang dilakukan para seniman yang tergabung dalam Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang).

Di tengah gempuran AI, seniman Kokkang semakin eksis. Mereka memanfaatkan berbagai media dan media sosial. Termasuk mengikuti perlombaan kartun tingkat nasional maupun internasional.

Kokkang merupakan salah satu komunitas kartunis tertua di Kaliwungu. Saat ini sudah masuk usia 43 tahun. Banyak jebolan maupun anggota Kokkang yang menjadi kartunis kondang tanah air.

Bahkan Kokkang paling banyak mengisi rubrik kartun di media massa. Seperti Kartunis Jawa Pos, Wahyu Kokkang.

Ada juga Djoko Susilo (Suara Merdeka), Budi Setyo Widodo alis Tiyok (Media Indonesia), Tyud dan Wawan Bastian (Sindo), Ifoed dan Muktafin (Indopos), Hertanto Soebijoto (Warta Kota), dan M Nasir (tabloid Bola).

Wahyu Kokkang mengaku, meski saat ini banyak koran telah tutup, namun hal tersebut tak membuat anggota Kokkang kehilangan ruang ekspresi.

Pihaknya kini lebih memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memampang karya-karyanya. Bahkan jangkauannya lebih luas.

“Banyaknya koran yang tutup itu berpengaruh, hanya bagi kartunis yang tidak mau membuka diri dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Tapi bagi saya pribadi, justru sekarang ini banyak ruang media untuk mengekspresikan karya-karya,” katanya.

Mereka biasanya beralih ke media online sebagai illustrator. Terjun di perusahaan sebagai desain grafis dan mengikuti lomba-lomba kartun nasional maupun internasional.

“Salah satu contoh lomba pembuatan maskot KPU di Jawa Timur, itu banyak sekali kartunis yang terlibat,” tandasnya.

Jaga Orisinalitas dan Ruh Karya

Berkembangnya teknologi AI, diakuinya juga tidak berpengaruh banyak. Karena AI tidak bisa menjadi karya orisinal seseorang. Sehingga ketika diikutkan dalam lomba, akan banyak kesamaan dan kemiripan.

“Itu pengalaman saya beberapa kali menjadi juri lomba kartun,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Suyono, salah satu anggota Kokkang. Sekarang anggota Kokkang yang masih aktif lebih didorong untuk mengikuti perlombaan kartun.

“Itupun, kebanyakan lomba tingkat internasional. Karena untuk lomba kartun tingkat nasional nyaris jarang ada,” katanya.

Selain itu, mereka juga aktif jual jasa karikatur atau sketsa di medsos. Termasuk dirinya yang kerap mendapatkan pesanan untuk membuat karikatur sebagai hadiah.

“Ada juga desain kaos ataupun lainnya. Ya, mau nggak mau harus menyesuaikan zaman,” akunya.

Muslih, anggota lain Kokkang mengaku banyaknya koran yang tidak terbit sangat berpengaruh.

Terlebih adanya AI. Tidak memerlukan keahlian menggambar untuk bisa menghasilkan gambar bagus.

“Rata-rata kartunis sekarang bermain media sosial. Itupun dengan biaya jasa minim, karena harus bersaing dengan teknologi AI yang bisa menghasilkan gambar bagus dengan waktu singkat,” tandasnya.

Tapi sebagai kartunis ia lebih suka orisinalitas karya. Sebab lebih memiliki ruh ketimbang AI.  Selain itu, sebagai Kartunis Kokkang, ia ingin tetap mempertahankan Kaliwungu sebagai Kota Kartun.

“Makanya, kami berkomitmen memfasilitasi anggota Kokkang yang ingin berkarya dengan menyediakan alat-alat gambar sampai pada pengirimannya,” tandasnya. (bud/zal)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#kartunis #Kokkang #ai