Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Asal-Usul dan Makna Skena yang Kini Populer di Media Sosial, Ternyata Singkatan dari Tiga Kata Ini

Magang Radar Semarang • Minggu, 12 November 2023 | 18:09 WIB
Sejumlah anak muda yang berkumpul bareng untuk mengekspresikan diri bersama dengan teman-temannya.
Sejumlah anak muda yang berkumpul bareng untuk mengekspresikan diri bersama dengan teman-temannya.
RADARSEMARANG.ID - Skena menjadi istilah populer di media sosial (medsos) sekarang. Dalam bahasa gaul, skena adalah singkatan dari Sua, cengkErama, kelaNA.

Menggambarkan perkumpulan kolektif, menciptakan suasana untuk berbincang dan berkelana bersama saat berkumpul.

 Baca Juga: Custom Diecast Karya Ditya Square Project Diburu Pasar Eropa hingga Amerika

Misalnya, perkumpulan penggemar musik punk. Mereka disebut Skena Punk.  Awalnya, ini adalah cara positif untuk meningkatkan pengetahuan tentang dunia musik.

Sayangnya, akhir-akhir ini, istilah skena cenderung memiliki konotasi negatif di medsos. Skena sering dianggap sebagai komunitas penggemar musik yang seringkali lebih suka mengkritik musik yang lain, daripada menikmatinya. 

Anak-anak dari komunitas skena mengekspresikan identitas mereka dengan memilih pakaian yang sesuai dengan genre musik favorit.

Sebelumnya, anggota skena sering dikaitkan dengan penggemar musik punk, dan gaya berpakaian mereka biasanya mencakup warna hitam dan penampilan rambut yang mencolok. 

Biasanya, mereka memakai baju oversized (baju kebesaran), menggunakan sepatu docmart, mengenakan airpods, menggunakan kacamata tebal, casing macbook yang dipenuhi stiker, dan punya tato kecil di badan. 

Dalam beberapa tahun terakhir, musik yang dianggap "indie" (meskipun tidak selalu merupakan musik independen) dianggap keren oleh masyarakat.

Ini berarti bahwa orang yang mendengarkan musik ini sering dianggap sebagai yang paling keren di kalangan teman-temannya karena mendengarkan musik yang dianggap "alternatif." 

Akhdan, 21, sebagai penyuka skena dalam hal musik juga senang dengan tren ini. Karena menurut dia skena adalah bagaimana orang orang yang menyukai industri musik, bukan karena outfit-nya saja.

Akhdan senang dengan fenomena skena musik yang akhir ini sedang ramai karena industri musik di Kota Semarang semakin berkembang. Band-band lokal Semarang sudah mendapat apresiasi dari penikmat musik lain.

Akhdan tidak terlalu memikirkan dengan orang yang selalu mengecap dia sebagai 'anak skena' karena outfit yang selalu dia pakai akan membuat dia percaya diri.

"Jangan sering give a hate, just appreciate what people wear," cetus Akhdan saat ditanyai soal pakaian yang identik dengan anak skena.

Sementara Hanif, 22, sebagai penyuka musik aliran punk dan hardcore kerap dicap skena oleh teman-temannya.

Namun Hanif kurang suka dengan anggapan tersebut karena skena itu bukan hanya tentang orang yang tiba-tiba suka dengan suatu hal melainkan suatu kumpulan orang yang melakukan hobi secara bersamaan.

"Skena yang bener menurutku itu ya sekumpulan orang yang melakukan hobinya bareng-bareng dan skena itu bukan cuma soal orang yang selalu pake sepatu boots atau tentang musik yang lagi ramai akhir-akhir ini," jelas Hanif. (mg20/mg21/lis)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#punk #bahasa gaul #Medsos #skena