RADARSEMARANG.ID - Keong sawah menjadi salah satu kuliner jadul yang masih banyak dijumpai. Salah satunya keong sawah milik Mbah Suro Kabupaten Pekalongan.
Cara mengolah dan bumbu rempah melimpah, menjadikan keong sawah menu favorit.
Warung Mbah Suro ini terletak di Desa Kalijoyo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Lokasinya cukup tersembunyi.
Warungnya menyatu dengan rumah. Dari Alun-Alun Kajen masih terpaut 6 kilometer atau 15 menit.
Jika sudah melintasi perkebunan karet, berarti hampir sampai. Titik tepatnya sudah ada di peta google (google maps).
Sebenarnya ini warung pecel yang menyediakan berbagai menu. Namun keong sawah menjadi menu andalan dan yang paling laris.
Penasaran dengan cita rasanya, koran ini datang langsung ke warung Mbah Suro sekitar pukul 12.30.
Menu keong sudah habis. Datang hari berikutnya, juga nyaris kehabisan. Beruntung Mbak Kus, cucu Mbah Suro, menyisakan. "Tinggal dua porsi ini saya sisakan buat sampean," kata Mbak Kus.
Mbak Kus ini kini yang mengelola warung bersama suaminya, Dalari. Mereka generasi ketiga yang dipercaya memegang tongkat estafet Mbah Suro sekarang.
Rasa keong sawah resep Mbah Suro ini tidak ada amisnya. Baik daging keongnya maupun kuahnya.
Cangkangnya juga bersih, tak ada lendir maupun lumpur yang tersisa. Kuahnya segar, sedikit pedas, dan kentara rempah-rempahnya.
"Rempah-rempahnya masuk semua. Ada jahe, lengkuas, serai, kencur, sampai kunci. Kalau pedasnya itu dari cabai memang, itu salah satu bumbunya juga. Terus kasih parutan kelapa juga," ujarnya.
Kus mengatakan, keong tidak amis karena melalui proses dua kali perebusan. Sebelum perebusan, ada proses pembersihan permukaan cangkang.
Bagian belakang dihancurkan agar air rebusan masuk ke dalam cangkang. Ini juga agar daging keong matang sempurna dan empuk.
"Perebusan pertama itu 15-20 menit. Itu buat agar lendir keluar dan tutup cangkang terlepas. Air rebusan dibuang, ganti baru buat perebusan kedua. Nah, yang kedua baru bumbu masuk," tambahnya.
Sehari, warung Mbah Suro menjual kurang lebih 10 kilogram keong. Seporsi harganya Rp 15 ribu.
Keong didapat dari pengepul di daerah Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan yang dipasok dari Kabupaten Demak.
"Kalau daerah sini tidak ada. Adanya keong emas, itu beda dengan keong yang kami jual ini," ucapnya.
Istianah, salah seorang pembeli mengaku baru kali pertama menjajal keong Mbah Suro. Ia terkesan dengan cita rasa pedas segar makanan itu.
"Sebelumnya sudah pernah coba di tempat lain dan pernah juga bikin sendiri. Tapi ini yang terenak sih sejauh ini. Warungnya juga bersih dan adem, nyaman," akunya. (nra/fth)
Editor : Baskoro Septiadi