Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

7 Tradisi Unik Hari Raya Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Alwi Al Affan • Jumat, 6 Juni 2025 | 01:47 WIB
Tips dan Trik Memilih Sapi Kurban yang Dagingnya Banyak Untuk Hari Raya Idul Adha Lebaran Haji
Tips dan Trik Memilih Sapi Kurban yang Dagingnya Banyak Untuk Hari Raya Idul Adha Lebaran Haji

RADARSEMARANG.ID - Hari Raya Idul Adha bukan sekadar peristiwa keagamaan yang penting bagi umat Islam, tetapi juga merupakan cerminan beragam budaya yang hidup di berbagai belahan Indonesia.

Selain melakukan penyembelihan hewan kurban seperti sapi dan kambing, masyarakat Indonesia merayakan Idul Adha dengan berbagai tradisi yang unik, disesuaikan dengan latar belakang budaya dan suku mereka masing-masing.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, berikut adalah beberapa tradisi Idul Adha yang ada di Indonesia:

Kurban Kerbau di Kudus
Di Kudus, Jawa Tengah, ada tradisi yang telah bertahan lama, yaitu larangan untuk menyembelih sapi sebagai hewan kurban.

Larangan ini muncul dari sejarah penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Kudus pada abad ke-16.

Sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang memandang sapi sebagai hewan suci, Sunan Kudus melarang pengikutnya untuk melakukan penyembelihan sapi.

Sebagai alternatif, masyarakat Kudus memilih kerbau sebagai hewan kurban, dan praktik ini terus dilanjutkan hingga saat ini.

Selain menjadi simbol toleransi, daging kerbau juga diolah menjadi hidangan khas Kudus saat Idul Adha.

Kaul Negeri dan Abda’u di Maluku Tengah

Di Tulehu, Maluku Tengah, ada tradisi kuno bernama Kaul Negeri dan Abda’u yang masih tetap dilestarikan hingga sekarang.

Tradisi ini melibatkan penyembelihan tiga kambing, di mana satu merupakan kambing utama dan dua lainnya menjadi pendamping yang diarak menuju Masjid Negeri Tulehu oleh tokoh adat dan tokoh agama.

Arak-arakan ini disertai dengan lantunan sholawat dan takbir. Tradisi ini dianggap sebagai wujud permohonan perlindungan dari bencana sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Meugang di Aceh

Di Aceh, masyarakat menyambut Idul Adha dengan tradisi Meugang, yang melibatkan memasak serta makan daging bersama keluarga dan kerabat sebagai simbol rasa syukur.

Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat dan kaum dhuafa, namun tak sedikit pula yang membeli daging langsung dari pasar.

Meugang bukan hanya sekadar perayaan makan, tetapi juga menjadi saat yang mempererat ikatan keluarga dan solidaritas sosial.

Gamelan Sekaten di Cirebon
Di Cirebon, perayaan Idul Adha diramaikan dengan penampilan Gamelan Sekaten, sebuah warisan dakwah dari Sunan Gunung Jati.

Gamelan kuno ini hanya dimainkan pada hari-hari besar Islam, termasuk Idul Fitri dan Idul Adha.

Tradisi ini berlangsung di Keraton Kesepuhan, dengan penyucian gamelan yang dianggap suci dan harus diperlakukan dengan hormat.

Keberadaan gamelan ini menjadi simbol spiritual sekaligus menunjukkan keberlangsungan budaya Islam di Cirebon.

Grebeg Gunungan di Yogyakarta

Yogyakarta merayakan Idul Adha dengan prosesi Grebeg Gunungan, di mana tujuh gunungan yang berisi hasil pertanian diarak dari Keraton menuju Masjid Gede Kauman.

Masyarakat berebut hasil dari gunungan tersebut, yang dipercaya membawa berkah.

Tradisi ini tidak hanya diadakan pada Idul Adha, tetapi juga saat Idul Fitri, yang disebut sebagai Grebeg Syawal.

Perayaan ini mencerminkan hubungan yang erat antara kerajaan, agama, dan masyarakat.

Apitan di Semarang Di Semarang dan daerah lain di Jawa

Masyarakatnya menjalankan tradisi Apitan, yang berlangsung pada bulan Apit menurut kalender Jawa.

Mirip dengan adat sedekah tanah, praktik ini diawali dengan doa bersama yang diikuti dengan pawai hasil pertanian dan ternak yang nantinya akan diperebutkan oleh warga.

Apitan dianggap sebagai warisan dari ajaran Wali Songo, yang menekankan rasa syukur dan persatuan selama perayaan Idul Adha.

Toron dan Nyalase di Madura Di Pulau Madura

Idul Adha menjadi momen penting bagi para perantau untuk kembali ke kampung halaman, menandai tradisi Toron.

Selain kembali ke kampung halaman, masyarakat juga melakukan Nyalase, yaitu berziarah ke makam leluhur setelah salat Idul Adha.

Tradisi ini berfungsi sebagai sarana untuk mendoakan orang tua dan leluhur yang telah meninggal, sekaligus mempererat ikatan keluarga dan hubungan spiritual dalam masyarakat Madura.

Editor : Baskoro Septiadi
#hari raya idul adha #IDUL ADHA #hari raya kurban