Djika pake saroeng model Samarinda,
Lantas badjoenja kebaja renda,
Hingga menondjol ia poenja dada,
Mirip seperti njainja Blanda.
Dia sering pergi ka Pasar Djohar,
Dari romahnja menaek kahar,
Beli tjita atawa berdahar,
Di tempatnja bapa Moekahar.
Kaloe djoestroe ia ada oewang,
Djoega dia brani memboewang,
Plesir ke Pontjol dan station Tawang,
Doeitnja djadi seperti ditoewang.
Mentrik memang seneng plesiran,
Dia membilang boeat hiboeran,
Ilangken soesah poenja pikiran,
Lagian harta barang sampiran.
(bersambung)
Sair Tjerita Kerontjong : M. Adjeng Mentrik alias Sedep Denger atawa Pemboenoean jang seram adalah sebuah cerita roman Melayu Tionghoa yang terbit pada 1929.
Buku ini ditulis oleh seseorang dengan nama samaran ‘Hantoe Brothers, - Himalaja’.
Nama asli penulis ini belum diketahui.
Sair Tjerita Kerontjong diterbitkan oleh Boek- en Commissiehandel ‘Kamadjoean’ yang beralamat di Ambengan 126, Semarang.
Ambengan saat ini merupakan salah satu ruas Jalan MT Haryono, tepatnya dari Jalan Jagalan sampai dengan Jalan Petudungan.
Roman ini ditulis dengan gaya berupa baris syair dengan rima a-a-a-a.
Setiap paragraf terdiri dari 4 kalimat dengan akhiran yang sama.
Bahasa yang digunakan merupakan bahasa Indonesia/Melayu dengan ejaan Van Ophuijsen.
Ejaan Van Ophuijsen atau Ejaan Lama adalah jenis ejaan yang pernah digunakan untuk bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia pada zaman kolonialisme Belanda.
Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata bahasa Indonesia menurut model yang dipahami orang Belanda, yaitu menggunakan alfabet Latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda.
Ada beberapa ciri penanda lingual dalam Ejaan van Ophuijsen, yaitu:
penggunaan huruf j untuk huruf konsonan y,
penggunaan huruf tj untuk huruf konsonan c,
penggunaan huruf dj untuk huruf konsonan j,
penggunaan huruf oe untuk huruf vokal u,
penggunaan huruf sj untuk huruf sy,
penggunaan huruf nj untuk huruf ny,
penggunaan huruf ch untuk huruf kh,
Sair Tjerita Kerontjong terdiri dari 62 halaman, termasuk halaman foto dan pariwara.
Sair Tjerita Kerontjong rencananya akan diterbitkan secara berseri di https://radarsemarang.jawapos.com/ setiap Selasa, Kamis dan Sabtu.
Selamat membaca!
Editor : Pratono