RADARSEMARANG.ID - Idul Adha juga dikenal sebagai "Idul Nahr" yang berarti Hari Raya Qurban.
Perayaan Hari Raya Idul Adha ini juga identik dengan menyembelih hewan qurban.
Saat merenungkan sejarah Hari Raya Idul Adha, maka akan mengingatkan kita pada kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Tujuannya untuk mengenang mereka dari ujian berat dan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT di bulan Dzulhijah.
Karena kesabaran dan ketabahan mereka, Allah memberikan kepadanya sebuah anugerah yang luar biasa, yaitu gelar "Khalilullah" (kekasih Allah).
Setelah Nabi Ibrahim mendapatkan gelar tersebut, Malaikat bertanya kepada Allah mengapa Ibrahim dipilih sebagai kekasih-Nya.
Sementara Nabi Ibrahim AS sangat sibuk dengan urusan kekayaan dan keluarganya.
Kemudian Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal baktinya!”
Dalam memenuhi janji-Nya, Allah SWT memberikan izin kepada para malaikat untuk menguji keimanan dan ketaqwaan Nabi Ibrahim AS.
Terbukti bahwa kekayaan dan keluarganya tidak membuatnya terlena dan tetap taat kepada Allah.
Menurut kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa, Nabi Ibrahim AS konon memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta.
Sedangkan pada Hadis Riwayat lain menyebutkan kekayaan Nabi Ibrahim AS mencapai 12.000 ekor ternak.
Pada masa itu, jumlah tersebut sangat besar dan yang memilikinya dianggap sebagai seorang milyuner.
Suatu hari, seseorang bertanya kepada Nabi Ibrahim AS, "Siapa pemilik ternak sebanyak ini?" Ibrahim menjawab, "Ternak ini adalah milik Allah, tetapi saat ini masih menjadi milikku”.
“Jika suatu saat Allah menghendaki, aku akan menyerahkan semuanya. Bahkan jika Allah meminta anak kesayanganku, Ismail, aku juga akan menyerahkannya,” lanjutnya.
Menurut Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim memaparkan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim AS tersebut jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian.
Ketika itu, Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim AS melalui mimpi yang haq, agar ia mengorbankan putranya saat masih berusia 7 tahun
Peristiwa tersebut dinyatakan dalam Al Qur’an surat As-saffat ayat 102 yang artinya “Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnay aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu?”.
“Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Nabi Ibrahim AS sudah mempunya tekad meski di tengah persiapannya diganggu oleh bisikan setan.
Kemudian Ia mengambil batu lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Lalu batu itu dilempar.
Nabi Ismail AS menganggap ayahnya ragu untuk mengayunkan pisau di lehernya, sehingga ia melepaskan tali pengikat dan tangannya agar tidak terlihat bahwa ia menurut untuk dibunuh secara paksa.
Nabi Ismail AS sudah pasrah kepada keputusan sang ayah, dan meminta ayahnya untuk segera mengayunkan pisau sambil berpaling.
Hal itu dilakukannya agar tidak tercipta kesan dipaksa dan ekspresi wajahnya yang penuh ketakutan tidak terlihat.
Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dengan mantap dan sepenuh hati telah menyerahkan diri kepada Allah.
Saat pisau sudah digerakkan hampir menyentuh lehernya, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya.
Allah menyuruh menghentikan perbuatannya untuk tidak diteruskan pengorbanan terhadap anaknya.
Kemudian Allah telah meridloi keduanya, dan memasrahkan tawakkal kepada mereka yang telah berserah diri kepada-Nya.
Sebagai bentuk balasan atas keikhlasan mereka, Allah memberikan cukup dengan menyembelih seekor kambing sebagai qurban.
Hal itu seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surat As-Saffat ayat 107-110 yang artinya “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.
“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian. Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Malaikat Jibril kagum menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia ini.
Seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”
Nabi Ibrahim AS menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian disambung oleh Nabi Ismail AS “Allahu Akbar Walillahil Hamdu”.
Editor : Baskoro Septiadi