RADARSEMARANG.ID, SUHRAWARDI seorang filsuf Islam di zaman Ayyubiyah yang cerdas, kreatif, dan dinamis.
Pemikir dengan nama lengkap Abu al-Futuh Yahya bin Habasy bin ‘Amirak as-Suhrawardi al-Kurdi ini termasuk dalam jajaran para filsuf sekaligus sufi yang sangat produktif.
Dalam usianya yang relatif pendek itu ia mampu melahirkan banyak karya kurang lebih 50 karya.
Hal ini menunjukkan kedalaman pengetahuannya dalam bidang filsafat dan tasawuf yang ia tekuni.
Hingga ia banyak dikenal dan membuat lawan-lawannya atau pihak yang tidak menyukainya semakin iri dan dendam.
Para fuqaha yang dengki berkirim surat langsung pada Sultan Shalahuddin Al Ayyubi dalam memperingati tentang bahaya kemungkinan tersesatnya akidah sang pangeran Zahir jika terus bersahabat dengan Suhrawardi.
Shalahuddin sendiri yang terpengaruh isi surat segera memerintahkan putranya untuk menghukum mati Suhrawardi.
Karena kepiawaian Suhrawardi mengeluarkan pernyataan doktrin esoteris yang tandas, dan kritik yang tajam terhadap ahli-ahli fiqih menimbulkan reaksi keras yang dimotori oleh Abu al-Barakat al-Baghdadi yang anti Aristetolian.
Akhirnya pada tahun 587 H/1191 M di Halb (Aleppo) Suhrawrdi di eksekusi atas desakan fuqaha kepada pangeran Malik al-Zhahir Syah anak dari sultan Shalahuddin al-Ayyubi al-Kurdi.
Setelah putranya meminta pendapat para fuqaha Halb, mereka menyetujui agar Suhrawardi di bunuh, al-Zhahir pun memutuskan agar al-Suhrawardi dihukum gantung.
Penggantungan ini berlangsung pada tahun 587 H di Halb, ketika al-Suhrawardi baru berusia 38 tahun.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa; Proses kematian itu diawali dengan permintaan para ulama yang meminta Malik al-Zahir agar menjatuhkan hukuman mati kepada al-Suhrawardi, namun permintaan itu ditolak.
Para ulama kemudian menemui Sultan Saladdin (Sultan Salahuddin al-Ayyubi) untuk menyampaikan dakwaan itu.
Sultan Saladdin lalu mengancam putranya (Pangeran Malik al-Zahir Ghazi) akan diturunkan dari tahta apabila tidak menghukum al-Suhrawardi.
Berkat turun tangannya Sultan Saladin, al-Suhrawardi kemudian dimasukkan ke dalam penjara pada tahun 1191 M.
Dalam penjara itulah, al-Suhrawardi wafat. Dalam hal ini yang mengatakan bahwa ia wafat karena lehernya dicekik dan ada pula yang mengatakan bahwa ia wafat karena tidak diberi makan hingga kelaparan.
Ia wafat secara tragis melalui eksekusi atas perintah Shalahuddin Al-Ayubi. oleh sebab itu ia di beri gelar al-Maqtul (yang dibunuh).
Gelar ini sebagai pembedaan dengan dua sufi lainnya, yaitu Abu al-Najib al-Suhrawardi (meninggal tahun 563 H) dan Abu Hafah Syihabuddin al-Suhrawardi al-Baghdadi (meninggal tahun 632 H), penyusun kitab Awarif al-Ma’arif.
Karya-karya Suhrawardi
Suhrawardi yang lahir pada tahun 1153 M./549 H., di Persia (Iran saat ini) mempunyai banyak karya.
Karya-karya Suhrawardi ini kemudian mempengaruhi pemikir islam selanjutnya salah satunya Mulla Sadra.
Sayyed Hussein Nasr mengklasifikasikan karya-karyanya menjadi lima kategori:
1. Memberi interpretasi dan memodifikasi kembali ajaran peripatetik serta hikmah isyraqinya, dalam kelompok ini antara lain kitab: al-Talwihat, al-Muqawamat, al-Mutharahat, Hikmahal-Ishraq.
2. Membahas tentang filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami baik yang berbahasa arab ataupun yang berbhasa persi: al-Lamhat, Hayakil al-Nur, Risalah fi al-Ishraq.
3. Karya yang bermuatan sufistik dan menggunakan lambang-lambang yang sulit dipahami, dalam hal ini menggunakan bahasa persi walaupun ada sebagian yang berbahasa arab: al-Aql al-Ahmar, al-Gharb al-Gharbiyah, yaumun ma’a jama’at as-sufiyyin dan lain-lain.
4. Karya yang merupakan ulasan dan terjemahan dari filsafat klasik: Risalah al-Thair, dan risalah fi haqiqah al-ishq, ini semua karya Ibn sina yang kemudaian di terjemahkan oleh Suhrawardi kedalam bahasa Persia.
5. Karya yang berupa serangkaian doa-doa, yang dikenal dengan kitab al-Waridat wa al-Taqdisat.
Banyaknya karya ini menunjukkan bahwa Suhrawardi benar-benar menguasai ke ilmuan yang mendalam tentang filsafat kuno dan filsafat Islam.
Ia juga memahami dan menghayati doktrin-doktrin tasawuf, khususnya doktrin-doktrin sufi sebelumnya.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila ia mampu menghasilkan karya besar serta memunculkan sebuah corak pemikiran baru, yang kemudian dikenal dengan corak pemikiran mistis-filosofis (teosofi).
Al-Suhrawardi merupakan seorang penulis, walaupun usianya muda, tetapi banyak juga karya-karya dari hasil ciptaannya.
Ia juga dikenal sebagai salah satu seorang filsuf muslim yang handal dalam membuat sebuah ungkapan-ungkapan dari pikirannya sendiri.
Di samping itu, al-Suhrawardi juga mampu memadukan antara filsafat Aristoteles dan filsafat iluminasi yang ia kembangkan sebagai basis ulama filsafat dan tasawufnya.
Dengan paduan ini, Suhrawardi menganggap bahwa seorang pengkaji teologi lebih unggul daripada seorang pencinta Tuhan saja.
Hal ini dapat kita lihat dalam ungkapannya, ”jika dalam waktu yang sama seseorang menjadi pencinta Tuhan dan pengkaji teologi, dirinya telah menduduki derajat kepemimpinan (riyasah).
Jika tidak dapat memadukannya, derajatnya hanyalah seorang pengkaji teologi atau seorang pencita Tuhan, tetapi tidak mengkaji-Nya."
Pemikiran inilah yang menggambarkan bahwa Suhrawardi bukanlah seorang sufi murni, melainkan seorang sufi dan sekaligus filsuf, bahkan sangat dekat dengan para filsuf peripatetik yang sering diserangnya.
Karya utama dan pertama Suhrawardi yaitu Hikmah al-Ishraq memuat tiga subyek yang mendasari bangunan filsafat iluminasinya, yaitu:
1. Mengenai alasan-alasan Suhrawardi menyusun Hikmat al-Ishraq.
2. Metodologi Hikmat al-Ishraq, yang terdiri atas empat tahap, yaitu:
- Aktifitas-aktifitas diri seperti menasingkan diri, berhenti makan daging, dan mempersiapkan diri untuk menerima ilham.
- Dalam hal ini filosof dengan kekuatan intuisinya dapat merasakan “Cahaya Tuhan” dan “Penyikapan Diri”.
- Tahap dimana Tuhan memasuki wujud manusia.
- Tahap pembangunan suatu ilmu yang benar.
- Tahap penulisan atau menurunkan hal-hal yang mendasari bangunan filsafat iluminasi.
3. Memuat hal-hal yang mendasari bangunan filsafat iluminasi, yaitu pandangan Suhrawardi tentang sejarah filsafat.
Pemikiran Suhrawardi
Suhrawardi hidup pada masa yang sangat tidak kondusif untuk terjadinya pemikiran bebas, ia hidup pada abad ke 6 H, di mana pengaruh pengkafiran al-Ghazali masih sangat kentara, pemikiran rasional maupun irasional Syiah sangat di tentang saat itu.
Keaadan ini yang menjadikan Suhrawardi mendapat gelar al-Maqtul yang berarti dibnuh, karena pemikirannya yang bertentangan dengan ideologi negara yang dianut saat itu.
Penaklukkan Ayubiyah atas Fathimiyah yang berarti kemenangan negara Sunni terhadap negara Syiah menjadikan terjadinya gerakan sunnisasi di kawasan sentral Syiah.
Kawasan-kawasan yang mulanya merupakan kawasan perkembangan pemikiran syiah, berhasil dirubah menjadi kawasan sentral pemikiran Sunni, dan kedatangan suhrawardi setelah adanya pergeseran ideologi di kawasan tersebut.
Kutipan dari Kitab al-Tazkari karya Syayid Husain Nasr ini, menunjukan latar belakang pemikiran Suhrawardi adalah untuk mengembalikan ideologi di kawasan Sunni yang dulunya berideologi Syiah.
Suhrawardi juga hidup ketika terjadi perseteruan antara Ayubiyah dan Saljuk dan ketika runtuhnya Abbasiyah di tangan Holako, pada saat itu itegrasi peradaban Islam sudah hampir tidak bisa lagi untuk dipertahankan, peradaban Islam bukan lagi peradaban sentral yang integral.
Negara-negara Islam pada masa ini mulai tidak terpusat, mereka terpecah dan saling bermusuhan.
Negara-negara Islam pada masa ini tidak menyatu dan saling melengkapi lagi, sehingga sangat sulit untuk menyelamatkan peradaban.
Semua bentuk revolusi sosial pada waktu itu tidak lagi bernuansa positif rekonstruktif, orientasi manusia pada saat itu sudah banyak bergeser kepada dunia material.
Suhrawardi sangat mewaspadai terhadap alam materi, alam materi hanya sebuah ilusi, sedang yang utama adalah alam immateri.
Tugas dari kehidupan adalah menyibukkan diri dengan problem ukhrawi bukan mengengelamkan diri pada kehidupan duniawi.
Kondisi semacam itu tidak sepenuhnya menggiring Suhrawardi hanyut pada kondisi realita. Ia sebagai pembaharu umat, tertuntut untuk berupaya menyelasaikan problem-problem tersebut.
Kontruksi pemikirannya tidak sepenuhnya bersifat negatif terhadap fenomena sosial, melainkan terkesan sebagai tawaran solutif terhadap problem-problem itu.
Hal ini terlihat dari formasi pemikirannya yang menceminkan penyatuan kembali disintegrasi peradaban Islam.
Alternatifnya adalah dengan menyatukan kembali semua mainstream pemikiran. Suhrawardi akhirnya, membangun filsafat iluminasinya di atas semua aliran pemikiran.
Suhrawardi mulanya adalah seorang paripatetik yang akhirnya berubah menjadi seorang sufi sejati.
Pergeseran pemikiran tersebut tidak dipandang sebagai perseteruan, melainkan sekedar upaya penyempurnaan.
Filsafat paripatetik sangat kering dari nuansa spiritual, tapi kaya dengan argument rasional.
Pemaduan antara filsafat paripatetik dengan maistream sufistik adalah keharusan dalam menyempurnakan konstruksi pemikiran.
Upaya penyatuan itu dilakukan demi terbentuknya formasi filsafat iluminasi. Iluminasi atau yang dalam bahasa arab disebut sebagai filsafat isyraqi.
Pengaruh Pemikiran Suhrawardi
Sebagaimana ditulis oleh Maulana, M.I dan Arsy, S dalam buku Tradisi Filsafat Iluminasionisme dan Pengaruhnya terhadap Kajian Filsafat Islam.
Dikatakan pemikiran Suhrawardi telah banyak mempengaruhi tradisi berpikir baik dalam bidang filsafat maupun tasawuf di berbagai belahan dunia.
Pengaruh Suhrawardi terhadap tradisi-tradisi terebut antara lain seperti di Persia, yang menjadi tempat di mana Suhrawardi tumbuh dan berkembang secara pemikiran sebagai seorang tokoh pemikir Persia.
Selain itu juga Suhrawardi memiliki peranan penting dalam penafsiran di tradisi Syi’ah. Kemudian di Iran pada periode Qajar yang melahirkan salah satu aliran filsafat yaitu Suhrawardian-Sadrian.
Kemudian di India, di mana karya Hikmah al-Isyraqnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Sankrit di periode Mughal.
Juga dikarenakan berbagai diskusi dan praktik tasawuf yang diselenggarakan mengenai isu-isu kefilsafatan yang menyebabkan terjadinya penyebaran paham Isyraqiyah di India.
Juga beberapa daerah lainnya seperti Syiria dan beberapa negara di wilayah Barat.
Itulah segala lika-liku kehidupan seorang pemikir Islam, karena pendapatnya yang kontoversial, membuat Suhrawardi mati dengan penuh misteri.
Editor : Tasropi