Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sudah Mulai Langka, Inilah 10 Jenis Umbi-umbian Asli Indonesia yang Bisa Jadi Solusi Krisis Pangan

Tasropi • Jumat, 3 Mei 2024 | 04:32 WIB
Petani saat memanen porang. (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
Petani saat memanen porang. (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, INDONESIA kaya dengan keanekaragaman hayati. Berbagai macam tanaman tropis dapat tumbuh subur dan berkembang biak dengan baik.

Termasuk juga tanaman pangan, berbagai macam jenis tanaman dari biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran sampai dengan umbi-umbian tersebar merata di seluruh Indonesia. Kadang ada tanaman endemik yang belum kita kenal tapi sudah terbiasa jadi makanan lokal.

Namun karena dibiarkan liar tidak dibudidaya secara berkesinambungan, adakalanya tanaman pangan asli Indonesia ini sudah mulai langka dan susah ditemukan di pasaran.

Baca Juga: Manfaatkan Jagung dan Umbi Suweg, Diklaim Rendah Gula

Berikut adalah jenis umbi-umbian yang bisa menjadi bahan pangan, karena mengandung cukup nutrisi untuk memenuhi kebutuhan gizi keaneka sehari-hari :

1. Talas

Talas yang mempunyai nama latin Colocasia esculanta ini cenderung mempunyai rasa yang hambar sehingga tidak terlalu nikmat jika dikonsumsi langsung.

Biasanya talas yang dikukus dapat diberikan cocolan berupa gula merah cair. Kabar baiknya, talas cocok dijadikan berbagai olahan makanan.

Diantaranya adalah keripik, ice cream, puding, serta berbagai jenis kue. Selain nikmat, warna ungu dari talas tentu membuat makanan terlihat lebih menarik. Tapi, untuk makanan gurih seperti keripik, sebaiknya gunakan talas yang putih, ya!

2. Suweg

Umbi yang namanya diambil dari bahasa Jawa ini ukurannya lumayan besar, dalam bahasa Inggris disebut sebagai elephant foot yam (Armorphallus paeoniifolius).

Di daerah Jawa Tengah, suweg sering dijadikan sebagai pengganti nasi. Cukup direbus hingga matang, suweg pun siap disantap.

Kandungan gula pada suweg juga rendah lho. Jadi, bisa nih untuk kita yang sedang menjalani program diet.

3. Gadung

Gadung (Dioscrea hispidia Dennst) memang sering diolah menjadi keripik. Rasa gurihnya pas banget untuk kita yang suka ngemil.

Selain itu, gadung juga bisa dikonsumsi setelah direbus lho. Kalau melihat gadung yang belum diolah, kita pasti langsung ingat dengan sirsak.

Soalnya permukaan gadung punya duri-duri tumpul. Tapi, gadung berwarna seperti bengkuang. Untuk mengolah gadung harus dihilangkan kandungan rancunnya terbih dahulu, dengan cara diiris-iris dan direndam di air mengalir, air garam atau cukup direbus saja.

4. Ganyong

Umbi dengan nama latin Canna discolor seupa lengkuas. Akan tapi permukaan ganyong bersisik, berbeda dengan lengkuas yang beruas.

Ganyong sendiri termasuk jenis umbi yang dapat dijadikan makanan pokok. Selain itu, ganyong juga bisa diolah menjadi kerupuk. Soal rasa dan tekstur, ganyong mirip seperti ubi jalar.

5. Uwi

Uwi yang bernama latin Dioscorea alata ini punya ukuran yang besar dan berduri. Berbeda dengan gadung, uwi tidak hanya terdiri dari satu jenis saja.

Ada uwi berwarna putih, gading, serta ungu. Rasa umbi uwi memang cenderung hambar, tapi teksturnya pulen. Kita dapat mengukus uwi dan menjadikannya sebagai kudapan yang mengenyangkan.

6. Kentang Jawa

Jenis kentang berwarna hitam ini bernama latin Plectranthus rotundifolius, merupakan umbi-umbian dari tanaman terna (berbatang lunak), anggota famili Lamiaceae.

Tumbuh tegak atau agak menjalar dengan tinggi tanaman mencapai dengan tinggi 20-75 cm.

Batang Kentang Jawa bersegi, lunak, dan berwarna hijau. Daun Kentang Jawa (Plectranthus rotundifolius) tunggal berselang-seling, bentuknya jorong dengan ujung tumpul, pangkal bertoreh, dan tepi daun beringgit.

Panjang daun sekitar 3-6 cm dengan lebar 2-4 cm. Pertulangan menyirip, permukaan agak berbulu, dan berwarna hijau.

Bunga tanaman ini majemuk berangkai bulir, dan bertangkai panjang. Perbungaan muncul di ujung batang.

Bunga berukuran kecil, berwarna ungu dengan kelopak berbentuk bintang dan mahkota berbentuk bibir.

Buah berbetuk bulat, ditutupi selaput buah, berwarna hijau. Biji berbentuk bulat, berukuran kecil, berwarna hitam.

Akar serabut membentuk umbi. Umbi berukuran kecil dengan panjang hanya 2-4 cm. Kulit umbi berwarna coklat atau hitam dengan daging umbi berwarna putih. Umbi inilah yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

7. Gembili

Umbi gembili (Dioscorea esculenta L)  berbentuk hampir menyerupai tabung. Sayangnya, umbi ini tidak begitu tenar.

Biasanya sih gembili banyak dikonsumsi di daerah Gunung Kidul. Di pasar-pasar tradisional Jawa Tengah meski jarang dan terbatas gembili masih bisa ditemui.

Ada banyak cara lho untuk mengolah gembili. Mulai dari dikukus, direbus, digoreng, hingga dibakar.

8. Garut atau Angkrik

Dalam bahasa Inggris, umbi ini disebut sebagai arrowroot (Maranta arundinacea) karena bentuknya mirip seperti busur panah.

Soal tekstur, angkrik ini memiliki tekstur lembut dan mudah dicerna. Selain itu, garut juga mengenyangkan lho. Jadi kita bisa mengonsumsinya sebagai pengganti nasi.

Selain itu, garut bisa dijadikan bahan baku emping, dodol, serta kue semprit.

9. Lobak

Umbi-umbian dengan nama latin Raphanus sativus ini memang memiliki kalori yang cukup rendah, yakni 18 kkal dalam 100 gram. Hal ini disebabkan sebagian besar kandungan lobak tersusun atas air.

Meski begitu, lobak juga mengandung mineral yang diperlukan tubuh, seperti kalsium, kalium, dan fosfor.

Anda juga bisa mendapatkan asupan folat dan vitamin C dari umbi ini. Lobak juga mengandung senyawa bernama isotiosianat yang bersifat antikanker. Meski begitu, manfaat ini baru diteliti pada sel kanker di laboratorium, bukan pada manusia.

Umbi lobak diolah sebagaimana layaknya sayuran, bisa ditumis, dijadikan salad, maupun diawetkan seperti kimchi.

10. Porang

Porang (Armorphallus muelleri) merupakan contoh umbi yang menjadi salah satu sumber makanan serat larut air bernama glukomanan.

Glukomanan merupakan jenis serat larut air yang memiliki berbagai manfaat. Serat ini membantu melunakkan feses sehingga BAB pun lancar. 

Selain itu, glukomanan pada porang membantu membuat kenyang lebih lama sehingga rasa lapar pun berkurang. Anda pun bisa menjaga nafasu makan sehingga berat badan terkendali.

Glukomanan juga memperlambat penyerapan gula dan kolesterol di usus sehingga kadar gula darah dan kesehatan jantung pun terjaga.

Umbi-umbian asli Indonesia ini kadang masih bisa kita temui. Namun karena pengolahan dan pemanfaatannya belum begitu banyak jarang orang dengan sengaja membudidayakannya sehingga suatu saat menjadi langka dan susah ditemui di pasaran.

Kalau umbi-umbi ini dimanfaatkan dengan baik dengan cara mengolahnya menjadi makanan yang bervariasi, tentu bisa menjadi solusi krisis pangan yang sekarang mulai melanda di berbagai belahan dunia.

Lebih bijak lagi jika umbi-umbian ini menjadi bahan pangan alternatif selain beras.

Editor : Tasropi
#kebutuhan gizi #gunung kidul #Umbi umbian #solusi krisis pangan #Keanekaragam Hayati