RADARSEMARANG.ID - Sholat hajat merupakan suatau ibadah sunnah, dan dilakukan hambanya untuk memohon kepada Allah SWT agar hajat atau keinginannya dapat terkabul.
Sholat Hajat dapat dikerjakan kapan saja di luar waktu sholat yang telah ditetapkan.
Meski demikian, menurut ulama lebih dianjurkan melakukan sholat hajat pada malam hari atau sepertiga malam terakhir seperti waktu sholat tahajud.
Hal tersebut diketahui berdasarkan firman Allah SWT yang tertuang dalam QS. Al-Muzzammil ayat 6 yang berbunyi :
اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ ٦
Latin : inna nâsyi'atal-laili hiya asyaddu wath'aw wa aqwamu qîlâ
Artinya : “Sesungguhnya bangun malam itu lebih kuat (pengaruhnya terhadap jiwa) dan lebih mantap ucapannya”.
Niat Sholat Hajat
Niat sholat hajat diucapkan dalam hati sebelum takbiratul ihram. Berikut bacaannya:
اُصَليْ سُنةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Latin : Ushallî sunnatal ḫâjati rak‘ataini adâ‘an lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: "Aku niat mengerjakan sholat sunah hajat dua rakaat dengan menghadap arah kiblat, karena Allah Ta’ala”.
Doa Sholat Hajat
Setelah selesai sholat hajat, Anda dianjurkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah SWT sesuai dengan hajat yang dimiliki.
Tidak ada doa khusus yang ditetapkan, namun menurut laman kemenag.go.id, setelah mengerjakan sholat hajat membaca Surat Al-Fatihah.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat-surat pendek (dianjurkan untuk membaca surat Al-Ikhlas dan ayat kursi).
Selanjutnya dianjurkan membaca shalawat dan doa sebagaimana berikut:
سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ العِزَّ وَقَالَ بِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالمَجْدِ وَتَكَرَّمَ بِهِ، سُبْحَانَ ذِي العِزِّ وَالكَرَمِ، سُبْحَانَ ذِي الطَوْلِ أَسْأَلُكَ بِمَعَاقِدِ العِزِّ مِنْ عَرْشِكَ وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ وَبِاسْمِكَ الأَعْظَمِ وَجَدِّكَ الأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ العَامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌّ وَلَا فَاجِرٌ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Latin : Subḫânal-ladzî labisal-‘izza wa qâla bihi. Subḫânal-ladzî ta‘aththafa bil-majdi wa takarrama bihi. Subḫâna dzil-‘izzi wal-kirami, subḫâna dzith-thauli as’aluka bimu‘âqidil-‘izzi min ‘arsyika wa muntahar-raḫmati min kitâbika wa bismikal-a‘dhami wa jaddikal-a‘la wa kalimâtikat-tâmmâtil-‘âmmâtil-latî lâ yujâwizuhunna birrun wa lâ fâjirun an tushalliya ‘ala sayyidinâ Muḫammadin wa ‘ala âli sayyidinâ Muḫammadin.
Artinya : “Mahasuci Zat yang mengenakan keagungan dan berkata dengannya. Mahasuci Zat yang menaruh iba dan menjadi mulia karenanya. Mahasuci Zat pemilik keagungan dan kemuliaan. Mahasuci Zat pemilik karunia. Aku memohon kepada-Mu agar bershalawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dengan garis-garis luar mulia Arasy-Mu, puncak rahmat kitab-Mu, dan dengan nama-Mu yang sangat agung, kemuliaan-Mu yang tinggi, kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dan umum yang tidak dapat dilampaui oleh hamba yang taat dan durjana”.
Sebagaimana diriwayatkan HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim, berikutnya dianjurkan juga untuk membaca doa Rasulullah saw
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الحَلِيمُ الكَرِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ العَلِيُّ العَظِيْمُ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْمِ والحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
Latin : Lâ ilaha illallâhul-ḫalîmul-karîmu, lâ ilaha illallâhul-‘aliyyul-adhîmu subḫânallâhi rabbil-‘arsyil-‘adhîmi wal-ḫamdulillâhi rabbil-‘alamîna.
Artinya : “Tiada Tuhan selain Allah yang santun dan pemurah. Tiada Tuhan selain Allah yang maha tinggi dan agung. Mahasuci Allah, Tuhan Arasy yang megah. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”
Setelah doa-doa tersebut dipanjatkan, berikutnya adalah memanjatkan doa secara khusuk memohon kepada Allah SWT agar urusan atau hajat khususnya itu dapat dikabulkan.
Selain doa di atas, Anda juga bisa berdoa dengan kata-kata sendiri sesuai dengan hajat yang dimiliki, khususnya untuk kebaikan.
Perlu diingat, yang terpenting adalah bersungguh-sungguh dalam berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Wallahu a‘lam Bishawab.
Editor : Baskoro Septiadi