RADARSEMARANG.ID– Prosedur vasektomi dinilai sebagai salah satu metode kontrasepsi paling aman dan efektif bagi pria. dr Dimas S. Wibisono SpU, Subs. And.(K), FICS seorang ahli urologi menjelaskan, tindakan ini tidak hanya menawarkan efektivitas hampir 100 persen, tetapi juga memiliki risiko kesehatan yang sangat rendah.
Hal ini disampaikan mengomentari program KB Vasektomi yang dicanangkan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk) dengan intensif Rp 1 juta bagi pria yang mau mengikuti program tersebut.
Menurutnya, kekhawatiran masyarakat terhadap operasi sering kali berlebihan. Ia menegaskan bahwa secara medis vasektomi adalah prosedur yang sederhana.
“Vasektomi ini sederhana, aman, dan sangat efektif,” jelas dr Dimas yang juga Staf Urologi, Bagian Bedah FK Undip Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) dan dokter Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND), Jumat (14/11/2025).
Ia memaparkan, dari aspek medis, vasektomi termasuk kategori prosedur bedah kecil dengan komplikasi minimal.
“Vasektomi ini resikonya termasuk yang kecil atau ringan. Hanya berupa perdarahan sedikit atau hanya infeksi,” ungkapnya.
Meskipun menggunakan metode tanpa pisau (non-scalpel vasectomy, Red), ia menyebut tetap ada luka kecil yang harus diperhatikan.
Selama 2–3 hari, akseptor atau pria yang akan menjalani vasektomi disarankan tidak melakukan aktivitas berat untuk mencegah perdarahan.
Penting diingat, program KB ini tidak berisiko menurunkan kejantanan pria. Ia mematahkan stigma tersebut.
Bahkan dr Dimas menjelaskan bahwa beberapa pria justru menjadi lebih percaya diri setelah vasektomi.
“Jadi sama sekali tidak. Justru lebih PD atau lebih 'ganas' lah istilahnya ya karena tahu bahwa pasangannya tidak hamil,” katanya.
Meski begitu, ia mengingatkan agar perubahan perilaku itu tetap berada dalam hubungan yang sehat. “Memang harus dipastikan ya hubungannya sama istrinya saja,” tambahnya.
Ia melanjutkan, dalam mengikuti program ini, secara medis vasektomi dianjurkan bagi pria berusia di atas 35 tahun. Dengan catatan yang telah memiliki minimal dua anak dengan usia anak bungsu sekitar dua tahun.
“Selain itu juga harus sukarela, enggak boleh dipaksa dan ada persetujuan dari istri yang sah,” tuturnya.
Tindakan ini juga bersifat permanen. Namun apabila akseptor mau kondisi kembali seperti awal atau tidak vasektomi, bisa dilakukan melalui prosedur reversal. Namun dari sisi medis, keberhasilannya tidak dijamin. Justru, tambahnya, prosedur penyambungan jauh lebih rumit dan biaya mandiri dapat mencapai lebih dari Rp 20 juta.
“Bisa disambung kembali, tetapi angka keberhasilannya memang tidak 100 persen,” ucapnya.
Ia juga buka suara dari aspek layanan kesehatan, dirinya memastikan bahwa dokter urologi maupun dokter bedah umum di Indonesia telah terlatih untuk melakukan vasektomi. “Semua ahli urologi di Indonesia insyaallah bisa mengerjakan vasektomi,” ujarnya.
Adanya program itu, ia dan tenaga kesehatan komitmen dalam mendukung program KB pria. Ia mengingatkan program ini memiliki risiko yang rendah, tidak memengaruhi fungsi seksual, serta dilakukan oleh tenaga medis terlatih, vasektomi dinilai menjadi pilihan kontrasepsi pria yang aman secara kesehatan. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi