“Sekarang ini sudah ada hampir 80 persen penyakit kanker paru akibat penggunaan tembakau. Peningkatan persentase itu tak lepas dari tingkat konsumsi tembakau di Indonesia yang cukup meningkat,” ungkap dr Hasto Nugroho SpP, anggota PDPI Pengurus Cabang Jateng kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Penyakit kanker paru ini ternyata telah menjadi tren kasus. Makanya, penyakit infeksi paru seperti tuberkulosis (TBC) yang masuk tiga besar penyakit di dunia ini tengah menjadi salah satu fokus PDPI Pengurus Cabang Jateng dalam penanganannya.
“Selain kampanye stop merokok, kami juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menaati protokol kesehatan. Walau bagaimanapun pandemi Covid-19 belum berakhir,” sambungnya.
Aksi kampanye itu dilakukan dengan membentangkan sejumlah poster. Selain mengajak masyarakat untuk berhenti merokok, para dokter juga mengajak pentingnya menjaga kesehatan jasmani dengan olahraga teratur dan makan makanan yang sehat.
“Aksi ini sebenarnya masih dalam rangka memeriahkan pelantikan PDPI Pengurus Cabang Jateng Sabtu kemarin (11/12). Namun kami tetap bertangung jawab dan menjadi garda terdepan dalam tata laksana penyakit paru seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik, radang paru (pneumonia), tuberkulosis, dan kanker paru,” terangnya.
Di sisi lain, Ketua PDPI Pengurus Cabang Jateng dr Sofyan Budi Raharjo Sp.P menyampaikan, saat ini penyakit asma telah dialami oleh 334 juta penduduk dunia. Itu karena ada beberapa faktor munculnya penyakit asma. Yakni faktor genetik, polusi udara, infeksi saluran napas, faktor makanan dan lainnya. Selain itu, kanker paru menjadi jenis kanker yang paling banyak dialami oleh pria dewasa. Serta urutan ketiga pada perempuan dewasa.
“Itu terbukti pada 2012, ada sekitar 14 juta kasus kanker paru ditemukan di seluruh dunia. Sekitar 1,6 juta orang meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini,” tegasnya. (dev/ida) Editor : Agus AP