RADARSEMARANG.ID, Kendal – Investasi senilai Rp300 miliar yang digelontorkan PT Maxindo Karya Anugerah di Kabupaten Kendal dipastikan tidak hanya menghadirkan pabrik baru.
Tetapi juga membuka sekitar 1.000 lapangan kerja sekaligus menciptakan pasar baru bagi petani lokal dengan kebutuhan bahan baku mencapai 100 ton umbi-umbian setiap hari.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Grand Opening pabrik ketiga PT Maxindo Karya Anugerah di Kawasan EKonomi Khusus (KEK) Kendal, Kamis (9/7/2026).
Pembukaan akbar itu dihadiri Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, jajaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), manajemen Direktur PT Kawasan Industri Kendal (KIK), VIncent Lee, dan Kepala Administrator KEK Kendal, Tjertja Karja Adil.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menegaskan kehadiran PT Maxindo membawa harapan baru bagi masyarakat Kendal, sebab investasi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi daerah.
"Keberadaan PT Maxindo Karya Anugerah menghadirkan semangat baru bagi masyarakat Kendal, karena di balik setiap mesin dan lini produksi akan ada para pekerja lokal yang tumbuh bersama perusahaan ini," ujarnya.
Menurutnya, investasi terbaik bukan hanya tentang modal dan teknologi, tetapi juga tentang nilai kepercayaan dan kemanusiaan.
"Nah di Kendal ini, kami ingin memastikan setiap investasi tumbuh dengan nilai-nilai itu," ujar Bupati yang akrab disapa Mbak Tika.
Bupati Tika juga menegaskan Pemerintah Kabupaten Kendal berkomitmen memberikan kemudahan bagi investor yang menanamkan modal sekaligus menciptakan iklim investasi yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberadaan PT Maxindo diharapkan memperkuat ekonomi lokal melalui terbukanya lapangan kerja, meningkatnya aktivitas industri, serta tumbuhnya usaha masyarakat di sektor pendukung.
Direktur PT Maxindo Karya Anugerah Garrett Suryo Wijoyokartono mengatakan pabrik di Kendal merupakan fasilitas produksi terbesar ketiga perusahaan setelah dua pabrik sebelumnya beroperasi di Bogor, Jawa Barat.
Ia menjelaskan kebutuhan bahan baku untuk pabrik baru di Kendal ini mencapai sedikitnya 100 ton setiap hari.
Bahan baku tersebut berupa berbagai jenis umbi-umbian, seperti: singkong, ketela, kentang, ubi jalar, talas, dan berbagai jenis umbi lainnya.
Saat ini perusahaan telah menggandeng sejumlah petani dari Kaliwungu Selatan dan Boja sebagai pemasok awal bahan baku produksi.
Garrett berharap ke depan seluruh kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari Kabupaten Kendal.
"Kalau seluruh bahan baku bisa berasal dari Kendal, tentu akan menghemat waktu sekaligus biaya pra-produksi maupun biaya produksi," ujarnya.
Ia mengatakan perusahaan juga menyiapkan tim khusus yang bertugas mendampingi petani mulai dari penyediaan bibit hingga teknik budidaya agar hasil panen memenuhi standar industri.
Selain itu PT Maxindo bekerja sama dengan BRIN untuk mengembangkan bibit singkong unggulan yang memiliki produktivitas lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
"Harapan kami semakin banyak petani Kendal yang bergabung sehingga manfaat investasi ini benar-benar dirasakan masyarakat," katanya.
Garrett menambahkan seluruh bahan baku yang digunakan PT Maxindo berasal dari petani Indonesia sehingga perusahaan berkomitmen memperkuat rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Selain memproduksi merek sendiri, PT Maxindo juga menjadi produsen berbagai merek makanan sehat, termasuk Lemonilo, melalui skema Original Equipment Manufacturer (OEM).
Produk PT Maxindo kini telah diekspor ke sekitar 30 negara yang tersebar di empat benua sehingga kehadiran pabrik baru di Kendal diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok makanan ringan berbahan dasar umbi-umbian tropis di pasar global.
Bupati Dyah Kartika optimistis sinergi antara pemerintah, dunia industri, lembaga riset, dan petani akan menjadikan investasi PT Maxindo sebagai penggerak ekonomi baru yang menghubungkan hasil pertanian Kendal dengan pasar internasional.
"Semoga PT Maxindo semakin sukses, tumbuh menjadi bagian penting industri di Kendal, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa Indonesia," pungkasnya. (adv/bud)
Editor : Baskoro Septiadi