RADARSEMARANG.ID, Kendal - Viral Video berdurasi 25 detik yang beredar di media sosial memperlihatkan perlakuan kasar terhadap pasangan pedagang kaki lima (PKL) oleh oknum petugas keamanan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal.
Dalam video itu, sepasang suami istri terlihat mencoba mengemasi barang dagangannya setelah lapaknya diobrak-abrik saat penertiban.
Alih-alih diajak berdialog, keduanya justru dihujani cacian dan makian oleh seorang pria berseragam yang diduga komandan security.
“Manusia bukan, heh manusia bukan kalian ini? Kalau manusia harusnya punya otak,” ucap pria itu dengan nada tinggi sambil menendang lapak dagangan.
Sang istri terlihat gemetar ketakutan dan jatuh saat mencoba menyelamatkan dagangan, namun tak ada satu pun petugas yang menolong.
Tak ada empati sedikitpun untuk PKL. Dengan tatapan dingin, komandan security itu justru berbalik arah meninggalkan PKL yang jatuh tersebut.
Momen memilukan itu terekam jelas, memicu kemarahan publik dan membanjiri kolom komentar media sosial dengan kecaman terhadap tindakan tak manusiawi tersebut.
“Sungguh memilukan, mereka bukan pencuri, hanya berjualan demi makan, tapi diperlakukan seolah-olah sampah,” kata Mastur, tokoh masyarakat Kaliwungu.
Ia menyebut bahwa perlakuan seperti itu menunjukkan bagaimana rakyat kecil kerap menjadi korban di tengah megahnya pembangunan.
“Ini pribumi jadi tamu di rumah sendiri, sementara pendatang justru seperti raja, sangat menyedihkan,” lanjutnya.
Pihak PT Kawasan Industri Kendal (KIK) pun angkat bicara dan menyayangkan tindakan berlebihan yang dilakukan oleh petugas keamanan.
“Kami tidak membenarkan cara-cara seperti itu,” ujar Executive Director PT KIK, Juliani Kusumaningrum.
Juliani menegaskan bahwa KIK tidak anti terhadap PKL dan justru mendukung pengusaha lokal serta UMKM.
Namun ia mengingatkan bahwa seluruh aktivitas di kawasan KIK harus mematuhi tata tertib yang sudah ditentukan.
“Kami sudah siapkan lokasi khusus untuk PKL, tinggal dipatuhi saja aturan mainnya,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bahwa pembangunan tanpa empati hanya akan menciptakan luka dan ketimpangan.
Rakyat kecil yang seharusnya mendapat ruang hidup, justru ditekan, ditindas, bahkan ditendang di tanah kelahirannya sendiri.
Penertiban bukan berarti menghilangkan rasa kemanusiaan, dan peraturan tak boleh menjadi tameng untuk arogansi. (bud/bas)
Editor : Baskoro Septiadi