RADARSEMARANG.ID, Kendal — Menyala abangku, kalimat penyemangat viral itu beberapa kali selalu tampil di akun instagram Dico M Ganinduto di @dicoganinduto.
Baik di postingan maupun unggahan ulang dan komentar di setiap unggahannya oleh para netizen.
Menyala abangku merupakan ungkapan kekaguman terhadap seseorang yang dianggap keren dan memiliki bakat gemilang di masa depan.
Tapi, kalimat itu justru berbanding terbalik, pasalnya saat ini justru karir politiknya tengah diterpa banyak badai.
Bahkan bisa jadi bisa mengakibatkan Dico meredup dini di usianya yang masih muda.
Terlebih lagi setelah usaha terakhirnya untuk mendaftarkan diri sebagai calon bupati dan wakil bupati (cabup-cawabup) Kendal gagal.
Majelis Musyawarah Bawaslu Kendal baru saja memutuskan untuk menolak permohonannya sebagai cabup-cawabup Kendal dalam perkara sengketa pendaftaran.
Alasannya, Bawaslu menilai permohonan untuk menjadi cabup-cawabup berpasangan dengan Ketua Dewan Syuro PKB Kendal, KH Ali Nurudin tidak berdasar.
Pasalnya, PKB telah lebih dulu mendaftarkan paslon lain, yakni Dyah Kartika Permanasari dan Benny Karnadi bersama PDI Perjuangan Kendal.
Dengan alasan tersebut, menurut Ketua Bawaslu Kendal, Hevy Indah Oktaria, PKB tidak mendaftarkan paslon lain dengan cara mencabut dukungan yang telah didaftarkan kepada KPU sebelumnya.
Pasalnya sesuai PKPU 8 Tahun 2024, Pasal 100 telah tegas mengatur mekanisme pendaftaran cabup-cawabup yang diusung oleh parpol maupun gabungan parpol.
Dimana satu parpol hanya bisa mengusulkan, mendukung dan memberikan rekomendasi kepada satu paslon.
Setelah paslon didaftarkan KPU, parpol tidak dapat mencabut dukungan atau mengalihkan dukungan ke paslon lain.
“Pun termasuk, jika Parpol pengusung mencabut dukungan kepada paslon sebelumnya yang telah didaftarkan, maka oleh KPU dalam Pemilu Serentak 2024 ini tetap dianggap mendukung paslon pertama,” kata Hevy.
Hal tersebut juga berlaku bagi paslon yang mendaftar atau didaftarkan parpol, dimana sejak berkas pendaftaran diterima KPU, maka paslon tidak dapat mundur.
“Jika paslon yang telah didaftarkan mundur, maka parpol pengusung tidak bisa mengusulkan paslon lain,” tegasnya.
Dengan dalil tersebut, menurut bawaslu telah jelas dan terang benderang bagi KPU untuk menguatkan keputusan KPU sebelumnya untuk menolak pendaftaran Dico-Ali.
Dengan keputusan tersebut, pupus sudah harapan Dico untuk melanggengkan kekuasan politiknya yang telah dibangunnya selama ini.
Penolakan Bawaslu ini justru tidak membuat ‘menyala abangku’, yang terjadi nyatanya justru ‘meredup abangku’.
Pasalnya, 2024 ini Dico mengalami banyak rintangan di karir politiknya, apa saja itu? Yuk kita ulas sebentar:
1. Koyak di Bursa Pilgub Jateng 2024
Meski baru di Jateng, Dico terbilang karirnya cukup melesat, bahkan dengan percaya diri suami artis Chacha Frederica ini memberanikan diri mengikuti bursa bakal calon gubernur di Pemilu Serentak 2024.
Ia membuat banyak manuver dengan memampang gambarnya hampir di seluruh wilayah kabupaten kota di Jateng.
Bahkan, Dico secara aktif menggelar dialog dan podcast dengan Bupati dan Wali Kota yang dikenalnya di Jateng.
Dico semakin percaya diri, ia mulai disegani oleh politisi senior-senior di Jateng.
Dico membuat banyak reklame dengan memasang bertuliskan tagar #JatengLebihBaik.
Dari itulah, sosok Dico dikenal. Dia dianggap sebagai mercusuar politisi muda yang berhasil.
Tapi ternyata kehendak penguasa politik berkata lain, Dico justru tidak direkomendasi Partai Golkar.
Partai berlambang pohon beringin itu seperti diketahui telah mengeluarkan rekomendasinya kepada Eks Kapolda Jateng, Ahmad Luthfi yang berpasangan dengan Taj Yasin.
2. Kandas di Bursa Pilwakot Semarang 2024
Pasca tidak berhasil mencalonkan diri di Pilgub Jateng, Dico dengan rasa masih dengan rasa percaya diri ingin mengikuti bursa Pilwakot Semarang.
Dico membuat manuver lagi dengan tagar #DicotaSemarang.
Dico bahkan telah melakukan deklarasi dan membuat dialog dengan para kaula muda di Kota Atlas.
Dia turun dan menyapa pemuda kota Semarang dengan jargon Majukan Kota Semarang Sama-sama.
Tapi justru kegiatannya itu malah membuat blunder, sebab tanpa alasan jelas Dico menyebut Kota Semarang sebagai daerah yang tertinggal.
Hal itu menuai banyak kritikan pedas kepada Dico, banyak Netizen yang mempertanyakan keberhasilan Dico di Kendal.
Pernyataan itu membuat warga asli Kota Semarang geram.
Imbasnya, Dico lagi-lagi harus koyak untuk menjadi calon walikota semarang. Sebab tak ada parpol yang memberikan rekomendasi kepadanya.
Bahkan Partai Golkar justru memberikan rekomendasi Yoyok Sukawi -Joko Santoso (Joko Joss), Dico kembali patah arang.
3. Amblas di Pilbup Kendal 2024
Setelah gagal dalam bursa bakal calon di Pilgub Jateng dan Pilwakot Semarang, Dico berniat kembali ke Kendal.
Alih-alih ingin tetap melanggengkan kekuasaannya, nyatanya Partai Golkar justru merekomendasikan kepada paslon lain, Mirna Annisa-Urike Hidayat yang diusung oleh koalisi Partai Gerindra.
Dico masih mencoba peruntungan dengan bermanuver menggunakan PKB.
Ia mencoba merebut rekomendasi PKB sebagai partai pemenang di Kendal untuk kendaraan politiknya.
Tapi lagi-lagi alam berkata lain. Meski rekomendasi didapatnya, tapi PKB sudah terlanjur mencalonkan pasangan Dyah Kartika Permanasari-Benny Karnadi.
Alhasil, saat menit-menit terakhir pendaftaran Dico bersama KH Ali Nurudin ditolak KPU Kendal.
Dico kembali nyungsep dan mengalami nasib tragis di akhir masa jabatannya sebagai Bupati Kendal.
Nasi sudah menjadi bubur, andai saja sejak awal tidak terlalu PeDe untuk maju di Pilgub Jateng, atau Pilwakot Semarang mungkin nasib berkata lain.
Asalkan Dico dari awal fokus untuk menata Kendal lebih dulu, tidak tergesa-gesa ingin karirnya politiknya segera melesat tinggi.
Mimpi yang tinggi, tapi yang didapat justru kini karir politiknya meredup dini di usianya yang masih muda.
Semoga serangkaian peristiwa ini bisa diambil hikmahnya untuk Dico kedepan lebih berhati-hati dalam berpolitik.
Sebab di politik tidak ada kawan dan lawan abadi, karena yang abadi hanya kepentingan semata. (bud/bas)
Editor : Baskoro Septiadi