Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Miras Diteguk Santri Ditusuk, Puluhan Ribu Santri Yogyakarta Demonstrasi Tuntut Pelaku Penusukan Dihukum Setimpal

Falakhudin • Rabu, 30 Oktober 2024 | 16:30 WIB
Puluhan Ribu santri yang berasal dari berbagai pondok pesantren (ponpes) menggelar aksi demonstrasi di depan Polda DIY, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (29/10).
Puluhan Ribu santri yang berasal dari berbagai pondok pesantren (ponpes) menggelar aksi demonstrasi di depan Polda DIY, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (29/10).

RADARSEMARANG.ID, Yogyakarta — Puluhan Ribu santri yang berasal dari berbagai pondok pesantren (ponpes) menggelar aksi demonstrasi di depan Polda DIY, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (29/10). 

Para santri meminta agar penganiayaan dan penusukan santri Ponpes Al Munawwir Krapyak di Jalan Parangtritis, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, DIY, Rabu (23/10) pekan lalu diusut tuntas.

Banyaknya massa membuat arus lalu lintas di depan Mapolda DIY menjadi tersendat.

Bahkan, satu jalur yakni jalur cepat di Ringroad tepatnya di depan Mapolda DIY harus ditutup untuk kendaraan.

Massa mulai berdatangan ke lokasi sekitar pukul 08.20 WIB, dan menggelar orasi sekitar pukul 09.00 WIB. 

Baca Juga: Sejarah, Makna, Tujuan, Tema, Filosofi, Logo, Peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November

Baca Juga: AJIB! Masjid Agung Jawa Tengah Baru An Nuur Magelang Diresmikan, Jadi Destinasi Wisata Religi Baru yang Siap Dikunjungi, Ini Fitur Lengkapnya

Baca Juga: Selamat Hari Seniman Internasional Tanggal 25 Oktober, Ini Deretan Pelukis Indonesia yang Nama dan Karyanya Mendunia

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Umumkan Nama Menteri Kabinetnya: Kabinet Merah Putih

Para santri masih memadati kawasan Polda DIY dan membawa berbagai spanduk.

Aksi ini dilakukan buntut dari kasus penusukan santri Pondok Pesantren Krapyak oleh gerombolan pemuda yang sedang dalam pengaruh minuman keras beberapa waktu lalu.

Para santri membawa poster berisi penolakan terhadap minuman keras dan kecaman atas insiden penusukan santri Krapyak, Kota Yogyakarta, pada 23 Oktober lalu. 

Aksi bertajuk ’Santri Memanggil’ ini sebagai bentuk solidaritas atas tragedi pengeroyokan dan penusukan terhadap dua santri dari Ponpes Krapyak, Yogyakarta oleh sekelompok pemuda mabuk di Kawasan Prawirotaman, 23 Oktober 2024. 

Massa aksi meminta pihak berwajib mengusut tuntas kasus tersebut, sekaligus meminta agar peristiwa kriminal yang dilatarbelakangi akibat minuman keras tidak terulang lagi. 

Caranya dengan mengendalikan peredaran miras melalui penegakan Peraturan Daerah (Perda) tentang minuman keras di DIY. 

”Karena jelas dampaknya minuman keras (miras) sudah sangat terasa. Darah sudah menetes bagi santri, maka hari ini kami memberikan warning. Mari kita bersama-sama memberantas miras agar peristiwa ini tidak terulang kembali,” kata Koordinator Umum Aksi Santri Memanggil, Abdul Muiz, Selasa (29/10). 

Baca Juga: Ini Daftar 48 Nama Menteri dan Kepala Lembaga Presiden H Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih

Baca Juga: GRATIS! Download Foto Presiden H Prabowo Subianto - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Periode 2024-2029 dan Peraturan Pemasangannya

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Lantik 55 Wakil Menteri di Kabinet Merah Putih, Ini Nama-namanya

Para santri datang dengan membawa bendera dan spanduk-spanduk tuntutan membasmi miras, beberapa tulisan poster tampak menarik perhatian seperti “Jiwa Santriku Meronta-ronta Siap Membasmi Kawa-kawa” “Jogja Waras Tanpa Miras,” “Santri Bukan Objek Kekerasan,” “Hanya Pengecut yang Melakukan Kekerasan,” “Miras Diteguk, Santri Ditusuk”, “Stop Kriminal*, Miras Takkan Menggoyahkan Iman, Santri Bergerak Kuatkan Harapan”, “Santri Juga Berhak Aman”, “ Miras X Es Tej Jumbo √” dan “Allah Benci Dosa bukan Pendosa”. 

Sejumlah petugas Polisi mengamankan massa aksi yang meluber ke jalan dengan menutup sebagian ruas jalur Ringroad.

Petugas juga mengalihkan arus dari simpang empat Condongcatur. 

Menurut Muis, pengeroyokan dan penusukan terhadap dua santri Ponpes Krapyak tidak bisa dibenarkan. 

Pihaknya mengutuk keras peristiwa tersebut. 

Apalagi persoalan tersebut dilatarbelakangi akibat mengonsumsi minuman keras sehingga pihaknya memandang perlu menghubungkan kasus tersebut dengan penegakan peredaran miras di kota pelajar. 

Ia menegaskan bahwa peristiwa penusukan santri yang terjadi di Prawirotaman, Yogyakarta beberapa hari lalu murni tindakan kriminal. Tidak ada unsur SARA. 

Karenanya, di tengah aksi tersebut Ia tetap menyuarakan agar semua saling menjaga persatuan dan saling menghormati perbedaan suku, agama, ras, maupun etnis di Yogyakarta. 

Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Nugroho Arianto mengatakan, pihaknya sudah memberikan atensi terkait kasus pengeroyokan dan penusukan santri di Prawirotaman yang menjadi satu di antara tuntunan masyarakat yang mendatangi Polda DIY.  

”Tentang masalah miras, kita juga atensi ya. Dari awal kita sudah ada beberapa kali kita melaksanakan upaya ya, upaya penegakan aturan. Nanti kita akan kerjasama dengan pemerintahan daerah, stakeholder terkait kaitannya dengan peredaran miras yang ilegal,” ujar Nugroho Arianto. 

Pasca aksi, sebagian santri juga sempat ikut membantu membersihkan sampah-sampah yang tercecer dan berserakan di lokasi aksi. 

Baca Juga: Sejarah, Tujuan, Pengertian dan Alasan Pemerintah Menetapkan Hari Santri Nasional 22 Oktober

Baca Juga: Sosok Prof. Dr. Abdul Mu’ti Alumni UIN Walisongo Semarang Yang Jadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Baca Juga: Sosok Profil Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dari Imam Masjid menjadi Menteri Agama Indonesia

Baca Juga: Sosok Profil Gus Miftah dan Tugasnya Sebagai Utusan Khusus Presiden RI

Mereka menyapu hingga kembali bersih. 

Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Aditya Surya Dharma, menyampaikan pihak kepolisian akan menindak tegas aksi kejahatan.

Ia mengatakan tiga orang pelaku telah diamankan pada Jumat (25/10) malam.

Mereka yakni T, Y dan J yang kini telah diperiksa penyidik Satreskrim Polresta Yogyakarta.

Puluhan Ribu santri yang berasal dari berbagai pondok pesantren (ponpes) menggelar aksi demonstrasi di depan Polda DIY, Kabupaten Sleman, DIY
Puluhan Ribu santri yang berasal dari berbagai pondok pesantren (ponpes) menggelar aksi demonstrasi di depan Polda DIY, Kabupaten Sleman, DIY

Dengan demikian total sudah ada lima terduga pelaku yang telah diamankan Polisi, sebab dua di antaranya telah diamankan lebih dulu pasca kejadian.

”Tiga pelaku (penganiayaan santri) memang sudah kami amankan. Jelasnya menunggu rilis,” katanya.

Aditya menegaskan pihak kepolisian sangat serius dalam menangani kasus penganiayaan ini.

Ia menyampaikan masih ada beberapa pelaku yang kini dalam pengejaran aparat kepolisian.

Pengasuh Pondok Pesantren Putra Anak (PPPA) Fatimiyah Al Munawwir Krapyak, Hj Ida Fatimah Zainal buka suara terkait penganiayaan dan penusukan terhadap dua santrinya, pada Rabu (23/10) di Jalan Parangtritis, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta.

Sosok yang akrab disapa Bu Nyai Ida ini membenarkan jika kedua korban yakni S (19) Islam, Pelajar, warga Rembang, Jateng.

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini Sosok Profil Gus Iqdam

Baca Juga: Profil K.H. Taj Yasin Maimoen, dari Santri untuk Negeri, Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024-2029

Baca Juga: Free Download kalender 2025 Vektor: Lengkap Indonesia, Jawa dengan Weton, Neptu dan Bulan Hijriyah Islam

Serta MA (23) warga Pati, Jateng merupakan santri PPPA Fatimiyah Al Munnawir Krapyak.

”Betul, mereka yang jadi korban santri kami. Upaya hukum sudah kami serahkan ke pengasuhnya KH R Haidar Muhaimin,” katanya, saat dihubungi, Kamis (24/10).

Pihak PPPA Fatimiyah Al Munawwir Krapyak mengecam aksi penganiayaan dan penusukan tersebut.

Mereka berharap aparat kepolisian dan pemerintah segera melakukan tindakan tegas terhadap pelaku.

”Mohon Polisi dan pemerintah segera menangani. Ini permasalahan (penganiayaan) sangat meresahkan,” ungkapnya.

Ida Fatimah mengklaim pelaku penusukan terhadap dua santrinya sudah jelas.

Ida juga menegaskan bahwa kedua korban tidak mengenal sama sekali dengan para pelaku.

Waktu itu kedua santrinya membeli sate di Jalan Parangtritis.

Namun entah mengapa mereka tiba-tiba diserang oleh rombongan pelaku.

AM (23), memberikan pernyataan terkait kejadian yang menimpanya. 

”Saya sama temen saya, S (20), jadi korban,” kata AM kepada media, di RS Pratama Yogyakarta, Kamis (24/10).

Ia mengalami luka pada bagian kepala dan patah tulang pada bagian tangan kiri, akibat kejadian yang berlangsung pada Rabu (23/10) malam itu.

Baca Juga: Ini Dia Susunan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029

Baca Juga: Meriah! Karnaval Pembangunan Desa Sumberejo Kecamatan Pabelan Ditonton Ribuan Warga

Baca Juga: Mengenal Sosok Habib Husein Mutahar, Pengarang lagu 17 Agustus 45 Hari Merdeka Sekaligus Pendiri Paskibraka

AM mengaku, sebelum kejadian berlangsung, ia bersama rekannya sedang menyantap sate ayam di warung yang menjadi lokasi kejadian. 

Setelah menyantap makanan itu, mereka memilih bersantai sejenak dan tidak langsung pulang ke Pondok Pesantren Al Munawwir. 

Namun, nahas. Tiba-tiba segerombolan orang tidak dikenal datang dan mengatakan ”ini-ini-ini” sambil menunjuk AM dan S. Kemudian orang-orang tak dikenal itu menyerang mereka berdua.

”Kan enggak tahu apa-apa, kita. Enggak langsung lari juga. Kita cuma bisa bilang enggak tahu apa-apa, enggak tahu apa-apa, tetapi tetap aja diserang,” ujar dia.

Lanjutnya, setelah menunjuk mereka berdua, gerombolan orang tak dikenal itu langsung memukul. 

Tindak pemukulan yang dilakukan ada yang menggunakan helm, kayu, dan sejumlah benda di lokasi kejadian.

”Mereka ambil kursi langsung dihantam (ke AM dan S). terus ada yang ambil helm, kayu, dan benda-benda yang ada di sana terus dihantam ke saya,” ujarnya.

AM sendiri sempat jatuh dan berdiri, namun lagi-lagi dihantam oleh orang-orang tak dikenal tersebut. 

”(AM) enggak sempat melawan soalnya, enggak salah kan. Saya cuma mencari kebenaran,” ujar AM.

Secara pribadi, AM mengaku tidak mengenali orang-orang yang melakukan penyerangan tersebut. 

Bahkan, dia tidak pernah merasa melihat para pelaku penyerangan.

Baca Juga: Asal-Usul dan Makna Malam Tirakatan 17 Agustus, Ternyata Begini Sejarahnya

Baca Juga: Baru Tahu, Ternyata Begini Struktur Organisasi Gerakan Pramuka

Baca Juga: Mengapa Hari Pramuka Diperingati Setiap Tanggal 14 Agustus? Ternyata Begini Sejarahnya

AM pun tidak bisa menghitung secara pasti jumlah pelaku penyerangan tersebut. Namun, dipastikan bahwa jumlah pelaku itu ada lebih dari lima orang.

”Jumlah mereka tadi pagi aku baca berita, ada yang 25 orang, ada yang 15 orang. Tapi, saya enggak tahu kebenarannya berapa. Saya enggak hitung,” ujarnya.

Setelah mendapatkan pukulan, AM tidak mengetahui ke mana arah pergi para pelaku pengeroyokan. 

Kemudian, salah satu warga setempat ada yang langsung menarik AM agar lari dan menjauhi lokasi kejadian.

”Jadi langsung lari aja sebisaku. Yaudah gitu. Minta bantuan warga,” jelasnya.

AM sempat lari dan mendapatkan bantuan dari orang untuk dihantarkan menggunakan sepeda motor kembali ke Pondok Pesantren Al Munawwir. 

”Nah pas aku lari ya pikiran ku di teman ini, gimana nasibnya. Ternyata kena tusuk dibagian perut kiri. Jadi enggak bisa lari dan aku enggak tahu sama sekali (keadaan temannya),” jelasnya.

Setelah sampai di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, AM langsung memberitahu rekan lainnya dan meminta rekan lainnya untuk ke lokasi kejadian.

Baca Juga: Unik! Intip Keseruan Lomba Agustusan Wakul Gantung hingga Pasang Jilbab Segiempat Bapak-bapak di Sarowo Ungaran Timur

Baca Juga: 5 Resep Ikan Bakar Maknyus Bumbu Sederhana, Cocok untuk Acara Kumpul-Kumpul

”Ternyata (temannya yakni S) sudah di RS Pratama Yogyakarta. Terus teman ku (teman yang disuruh AM melihat lokasi kejadian) menelpon dan aku disuruh kesini (RS Pratama Yogyakarta) juga biar sama-sama diobati,” jelasnya.

Diberitakan pada sebelumnya, polisi masih memburu pelaku penusukan seorang santri yang tengah membeli sate di Jalan Parangtritis, Kemantren/Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta.

Berdasar hasil penyelidikan sementara, korban tidak saling kenal dengan para pelaku. Rombongan pelaku yang berjumlah sekitar 25 orang tiba-tiba membuat onar lalu melempar gelas ke jalan. (fal/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#minuman keras #Kawasan Prawirotaman #Ponpes Al Munawwir Krapyak #KH R Haidar Muhaimin #RS Pratama Yogyakarta #Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak #Santri Memanggil #PPPA Fatimiyah Al Munnawir Krapyak #Kombes Pol Nugroho Arianto #Kombes Pol Aditya Surya Dharma #Hj Ida Fatimah Zainal