RADARSEMARANG.ID - Pasukan elit militer yang kita kenal kini sangat berbeda dengan bayangan pasukan elit Mangkunegaran yang akan kita bahas.
Berbeda dengan pasukan elit masa kini dengan perlengkapan gear tempur yang lengkap disertai peralatan canggih yang digunakan, pasukan ini dibentuk dari para prajurit Kerajaan Mangkunegaran di masa lalu.
Pasukan ini dikenal dengan nama Legiun Mangkunegaran, yang sejarahnya dibentuk karena Mangkunegaran II terinspirasi oleh pasukan milik Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis era Perang Napoleon.
Bagaimana sejarah terkait pembentukan pasukan tentara elit yang disinyalir merupakan gebrakan baru militerisasi kerajaan pada masa itu di seluruh Asia?, bahkan pasukan ini lebih dahulu lahir dibandingkan ide Restorasi Meiji di Jepang dan Modernisasi militer Thailand.
Sejarah Legiun Mangkunegaran
Legiun Mangkunegaran lahir dari peperangan yang melibatkan Pasukan Gerilya milik Pangeran Sambernyawa melawan Persekutuan Mataram dan Kerajaan Belanda.
Lewat kesepakatan kedua belah pihak, Pangeran Sambernyawa mendapat daerah kekuasaan yang disebut Kadipaten Mangkunegara melalui Perjanjian Salatiga tahun 1757.
Padukan gerilya yang berjuang bersama Pangeran Sambernyawa inilah yang menjadi embrio awal cikal-bakal kelahiran Legiun Mangkunegaran.
Setelah berhasil mengalahkan Belanda dan Mataram, Pangeran Sambernyawa atau bisa kita sebut Mangkunegaran I langsung membangun Pura Mangkunegaran bersama para prajuritnya.
Saat Mangkunegaran I wafat, anaknya yakni Mangkunegaran II mengembangkan Legiun Mangkunegara dengan menggunakan pasukan gerilya yang dulu membantu ayahnya memenangkan perang.
Mangkunegaran II membentuk legiun militer ini karena terinspirasi dari keberhasilan dan ketangguhan pasukan Grandee Armee milik Napoleon Bonaparte yang berkuasa di Prancis.
Pasukan elit ini dididik dengan kurikulum militer Prancis, dan beberapa unsur bangsa Eropa lainnya. Mereka dilatih oleh berbagai perwira Inggris dan Prancis yang didatangkan jauh-jauh untuk melatih Legiun ini.
Baca Juga: Sejarah Barak Bantir Sumowono, Kamp Tentara Bekas Markas Kavaleri Kerajaan Belanda
Mereka tak hanya diajarkan dalam penggunaan senjata tajam seperti keris, pedang dan tombak. Namun juga menggunakan berbagai senjata api yang di masa lalu merupakan senjata mewah.
Legiun Mangkunegaran bahkan memiliki meriam-meriam yang saat itu jarang dimiliki oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Mereka dilatih untuk menjadi special forces yang tahan dalam pertempuran berdurasi lama, dan juga pertempuran gerilya di belantara nusantara.
Selain diisi oleh para pria, Legiun Mangkunegaran juga memiliki divisi yang diisi oleh prajurit perempuan. Para perempuan tangguh ini diajarkan untuk menggunakan senjata serta menjadi divisi musik yang menyambut tamu dari kerajaan lain.
Karena berbagai konflik yang terjadi dalam intrik kerajaan, serta sifat indisipliner para prajurit Mangkunegaran. Pemerintah Kolonial menyarankan agar legiun ini dibubarkan saja.
Namun nyatanya Legiun Mangkunegaran masih eksis hingga sampai kedatangan Jepang yang melarang segala bentuk organisasi politik masyarakat pribumi. Jepang juga melucuti segala persenjataan yang dimiliki oleh Legiun Mangkunegaran.
Kebijakan ini membuat Legiun Mangkunegaran lenyap dan pasukan militer Mangkunegaran hanya secara simbolis berkedudukan sebagai abdi dalem keraton saja.
Source: Universitas Sebelas Maret, Pemerintah Kota Surakarta.
Editor : Baskoro Septiadi