RADARSEMARANG.ID, Hari ini, 18 tahun lalu tepatnya tanggal 27 Mei 2006, terjadi gempa bumi besar di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia.
Gempa tersebut berkekuatan 5,9 skala Richter dan mengakibatkan kerusakan yang luas serta banyak korban jiwa. Ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya terluka.
Selain itu, gempa ini menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur, rumah, dan bangunan bersejarah, serta mempengaruhi kehidupan banyak orang di daerah tersebut.
Gempa ini merupakan salah satu bencana alam terbesar yang melanda Indonesia pada dekade tersebut. Menurut data resmi, jumlah korban tewas tercatat lebih dari 5.700 orang.
Selain itu, ribuan orang mengalami luka-luka, dan ratusan ribu rumah serta bangunan rusak parah atau hancur, menyebabkan banyak orang kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan bantuan darurat.
Peristiwa itu begitu penting sebagai pengingat bahwa masyarakat Jogjakarta hidup di atas tanah rawan bencana. Terlebih, jika melihat adanya Sesar Mataram dan Sesar Opak.
Sebagaimana dilaporkan Radar Jogja (Jawa Pos Grup) Koordinator Observasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Budiarta mengatakan, sampai saat ini Sesar Mataram masih dalam hipotesis.
Sehingga, belum ada kepastian apakah sesar itu benar-benar aktif dan mampu untuk memicu bencana gempa di Jogjakarta.
Selebihnya Budiarta meminta masyarakat tetap waspada terhadap berbagai potensi berbagai bencana geofisika. Terlebih jika melihat Sesar Opak yang sampai saat ini masih aktif.
Dia menjelaskan, Sesar Opak merupakan pemicu gempa bumi dengan kekuatan 5,9 skala richter pada 2006 lalu.
Gempa itu memluluhlantakkan sebagian wilayah DIJ dan Jawa Tengah, dengan wilayah terparah di Kabupaten Bantul.
Budiarta menyebut, Sesar Opak sampai saat ini merupakan sesar yang paling aktif di Jogjakarta. Lokasi sesar yang berpusat di Padukuhan Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul, itu bahkan memanjang ke arah timur laut hingga wilayah Klaten, pada sisi selatan.
Sebagaimana diketahui, temuan Sesar Mataram kali pertama diungkapkan oleh peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Danny Hilman Natawidjaja.
Dia menyebut ada sesar lain selain Sesar Opak di wilayah Jogjakarta. Sesar Mataram membentang dari timur ke barat, kemungkinannya dimulai dari wilayah sekitar Prambanan hingga melewati wilayah Kota Jogja Jogja. Sesar itu mulai terpetakan pada medio 2021 lalu.
Keberadaan sesar ini awalnya terdeteksi dengan nama Sesar Dengkeng yang terletak di Klaten. Dari hasil penelitian diketahui, ternyata Sesar Dengkeng masih memiliki patahan hingga arah barat ke wilayah Jogjakarta.
Editor : Tasropi