RADARSEMARANG.ID - Ular Edor menjadi salah satu hewan yang akan banyak kita temui jika berkunjung di pulau Karimunjawa.
Ular Edor ini termasuk pada golongan ular tanah. Ular tanah (Calloselasma rhodostoma) adalah sejenis ular bandotan yang amat berbisa.
Ular ini juga dikenal dengan nama-nama lokal seperti oray lemah, oray gibug (Sd.), ular edor (Karimunjawa), dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Malayan pit viper.
Dikutip dari website puskesmaskarimunjawa, diperkirakan terjadi 700 kasus gigitan ular ini pada manusia setiap tahun, dengan tingkat kematian sebesar 2 persen.
Gigitan ular ini sangat menyakitkan,menimbulkan pembengkakan, dan kadang-kadang terjadi kematian jaringan (gangreen, nekrosis).
Meskipun gigitan fatal jarang terjadi, namun banyak korbannya yang kemudian mengalami kerusakan atau disfungsi anggota badan, atau bahkan harus diamputasi, karena ketiadaan serum anti-bisa atau keterlambatan pengobatan.
Orang menganggap semua ular berbahaya, dan bila bertemu akan berusaha membunuhnya dan jika tergigit, segera melakukan penanganan gigitan yang berlebihan.
Akibatnya cukup fatal serta merugikan manusia sendiri. Demikian pula jika penanganan efek gigitan ular berbisa tinggi dilakukan dengan lambat dan salah, maka dapat menyebabkan dampak yang fatal bagi korban.
Efek gigitan racun ular ke tubuh manusia selain ditentukan oleh kadar bisa/racun itu sendiri juga dipengaruhi daya tahan tubuh manusia yang digigit.
Semakin baik pertahanan alami atau antibody yang dimiliki, dan semakin sehat metabolisme tubuh manusia, efek gigitan akan berkurang rasanya dibandingkan dengan korban yang memiliki imunitas rendah atau sedang dalam kondisi tidak fit karena kecapekan atau sakit.
Hal yang paling utama dalam melakukan pertolongan pada korban gigitan ular berbisa adalah sang penolong tidak boleh Panik dan berusaha menenangkan korban juga agar tidak ikut panik. Lakukan segala tindakan dengan benar dan cepat (tapi tidak tergesa‐gesa).
Sebagai tindakan pertama kita sebaiknya mengetahui prinsip dasar penanganan gawat darurat dengan Metode DR CAB (Danger Response Circulation Airways Breath)
Danger (Bahaya)
Pastikan bahwa posisi penolong dan korban tidak dalam keadaan bahaya. Singkirkan ular dari sekitar kita, agar mencegah ada gigitan yang kedua atau ketiga.
Posisikan penolong dan korban dalam posisi yang tidak membahayakan dari berbagai ancaman.
Response (Respon)
Ajak bicara sang korban untuk mendapatkan respon, sehingga kita tahu bahwa dia dalam keadaan sadar dan dapat merespon apa yang kita lontarkan. Setelah itu mintalah pertolongan.
Circulation (Sirkulasi)
Memastikan sirkulasi darah lancar dengan memastikan ada tidaknya denyut jantung pada korban.
Denyut jantung bisa ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban, caranya dengan meletakkan 2‐3 jari (telunjuk dan jari tengah) ditengah‐tengah leher korban hingga teraba trachea lalu geser ke kiri/kanan kira‐kira 2‐3 cm tekan dengan lembut 5‐10 detik.
Jika denyutan nadi terasa, maka lanjutkan ke langkah berikutnya yaitu airways. Tapi jika tidak ada denyutan nadi maka lakukan bantuan sirkulasi dengan cara :
• Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum).
• Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi.
• Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas telapak tangan yang lainnya, hindari jari‐jari tangan menyentuh dinding dada korban, jari‐jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.
• Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali (dalam 15 detik = 30 kali kompresi) dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 – 2 inci (3,8 – 5 cm).
• Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).
• Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi.
• Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 (Tiap 15 detik = 30 kompresi dan 2 kali tiupan nafas), dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong.
Airways (Jalur Nafas)
Pastikan bahwa sang korban tidak terganggu jalur pernafasannya, jika terjadi gangguan maka harus dibebaskan jalur nafasnya. Perhatikan posisi leher! Posisi leher harus tetap lurus agar tidak menganggu jalur pernafasan.
Breath (Pernafasan)
Setelah memastikan jalur pernafasannya tidak terganggu, maka selanjutnya kita harus memastikan bahwa sang korban bernafas dengan normal. Normalnya manusia akan bernafas 12‐30 kali dalam satu menit.
Jika korban tidak bernafas dengan normal, atau sama sekali tidak bernafas, maka harus diberikan nafas bantuan atau CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).
• Pastikan korban pada berbaring lurus telentang, buka saluran napasnya dengan menempatkan satu tangan di dahinya dan mendongakkan kepalanya perlahan‐lahan ke belakang.
• Singkirkan halangan apa pun dari mulut dan angkat dagunya.
• Jepit lubang hidung korban hingga tertutup. Tarik napas penuh, tempatkan bibir Anda di sekliling mulutnya agar tidak ada celah.
• Hembuskan napas ke dalam mulut korban sampai Anda melihat dadanya naik. Perlu waktu dua detik agar dada mengembang penuh.
• Lepaskan mulut Anda dari mulutnya dan biarkan dadanya turun sepenuhnya, ini memerlukan waktu sekitar empat detik. Ulangi prosedur sekali lagi dan kemudian periksa tanda peredaran darah.
• Jika tidak ada tanda‐tanda pemulihan, misalnya kembalinya warna kulit menjadi normal kembali atau pergerakan apa pun, cobalah lakukan resusitasi jantung paru.
Tetapi jika terdapat tanda‐tanda pemulihan, namun korban belum bernapas, berikan 10 napas bantuan permenit dan periksa tanda peredaran darah setiap 10 napas. Jika korban kembali bernapas spontan, tempatkan dia dalam posisi pemulihan.
Kenali ular yang menggigit
Di Indonesia ini sangat penting dan vital, karena tim medis akan lebih mudah dan cepat menanganinya jika mengetahui jenis bisanya.
Minimnya pengetahuan tim medis akan jenis ular juga biasanya mempersulit penanganan pada korban.
• Jika dapat mengenali ular, sesuaikan tindakan pertolongan sesuai dengan karakter efek bisa nya terhadap manusia.
• Jika luka gigitan terdapat dua titik yang nyata, berarti berbisa tinggi
• Jika luka gigitan membentuk huruf U dengan jumlah luka banyak berarti tidak berbisa.
• Jika tidak dapat mengenali jenis ular, anggap bahwa itu ular yang berbisa tinggi dan mematikan.
Jika anda memiliki telepon selular yang ada kameranya mungkin anda bisa memotretnya.
Hafalkan ciri‐ciri ular tersebut (warna, bentuk tubuh, bentuk kepala, gerak‐gerik, dan perilaku khususnya). (bas)
Editor : Baskoro Septiadi