RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pembangunan giant sea wall dinilai menjadi solusi utama untuk mengatasi banjir yang terus berulang di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah (Jateng).
Sepanjang 2026 misalnya, banjir melanda sejumlah daerah seperti Kudus, Pati, Jepara, Kota dan Kabupaten Pekalongan, serta wilayah pesisir lain. Begitu pula tahun sebelumnya, banjir selalu melanda wilayah tersebut.
Kondisi ini mempertegas penanganan banjir Pantura membutuhkan solusi jangka panjang, bukan sekadar bantuan darurat.
Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Tengah Casytha Arriwi Kathmandu menyampaikan masalah kebencanaan menjadi salah satu program yang menjadi bahan diskusi pada Musda ke-16 KNPI Jateng. Sebagai perwakilan dari pemuda, pihaknya telah melakukan pemetaan.
"Untuk bencana kalau kita biasanya dari KNPI provinsi itu meminta kepada teman-teman kabupaten kota untuk bisa turun bersama," kata Casytha di sela-sela Musda KNPI Jateng di MG Setos.
Anak dari Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul ini mencontohkan ketika terjadi bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara. Pemuda saling membantu untuk mengirimkan bantuan kepada para korban.
"Kita meminta tolong bersama-sama dengan teman-teman KNPI Banjarnegara untuk bisa turun ke sana untuk memberikan bantuan. Kemarin itu mereka lebih kepada (bantuan) kompor, kemudian LPG. Jadi memang yang dibutuhkan apa di sana itu kita fasilitasi," ungkapnya.
Casytha yang juga sebagai Anggota DPD RI Jawa Tengah ini mengatakakan tanpa penyelesaian menyeluruh pada akar masalah, banjir akan terus terjadi setiap tahun dan semakin meluas dampaknya.
Pihaknya menilai banjir yang terjadi hampir setiap tahun di Pantura menunjukkan belum tuntasnya penyelesaian pada akar persoalan. Menurutnya, pola penanganan yang hanya berfokus pada bantuan tidak akan menghentikan siklus bencana tersebut.
“Kalau misalnya solusi kita ini hanya bantuan-bantuan terus, ini kan tidak menyelesaikan sumber masalahnya," tegasnya.
Ia menegaskan, karakter wilayah Pantura berbeda dengan daerah lain. Penurunan muka tanah dan kondisi kontur pesisir membuat banjir, terutama rob, terus berulang dari tahun ke tahun.
“Jadi memang satu-satunya cara kalau untuk di Pantura ini, ini adalah dibangun giant sea wall. Karena itu (banjir) adalah bencana yang berulang," ujarnya.
Menurutnya, banjir yang melanda daerah Pantura pada Januari 2026 menunjukkan dampaknya semakin meluas. Wilayah yang sebelumnya jarang terdampak kini mulai mengalami genangan.
“Mulai dari sebelah sana Kota Pekalongan yang (permukaan tanahnya) makin turun, kemudian Pemalang yang saya kira enggak ada banjir, ternyata juga ada banjir. Kemudian Kendal sudah mulai banjir, Demak, Kudus, kemudian Pati juga banjir," bebernya.
Pihaknya menilai menilai kebijakan pemerintah pusat untuk membangun giant sea wall merupakan langkah strategis yang perlu segera direalisasikan.
Proyek tersebut dinilai mampu menjadi solusi jangka panjang untuk menghentikan banjir tahunan di Pantura Jawa Tengah.
“Jadi, memang arah kebijakan presiden ketika menyampaikan untuk membuat giant sea wall di Pantura itu merupakan solusi yang sebetulnya menjadi prioritas untuk di laksanakan," tegasnya.
Pada kesempatan itu Casytha juga menyoroti banjir bandang yang menerjang Kawasan Guci Tegal yang terjadi pada akhir tahun 2025 lalu. Menurutnya kondisi cuaca tak hanya menjadi faktor utama, melainkan ada campur tangan ulah manusia.
"Kalau penebangan liar itu pasti seperti misalnya banjir bandang yang di Guci (Tegal) itu sepertinya kan yang di bagian atasnya itu kan gundul juga, sehingga ada banjir yang ada di Guci," akunya.
Di sisi lain Kawasan Guci Tegal kembali diterjang banjir bandang, Sabtu (24/1) dini hari sekitar pukul 01.30. Kali ini banjir lebih parah, begitu pula dengan kerusakannya bertambah.
Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jateng Alexander Armin Nugroho menyampaikan hujan deras disertai angin kencang di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Gung disebut menjadi pemicu banjir bandang. Aliran sungai meluap dan merusak fasilitas wisata.
"Ini kejadian baru, bukan lanjutan dari peristiwa sebelumnya," ungkapnya.
Ia mengaku titik banjir bandang sama dengan peristiwa sebelumnya, yakni di Pancuran 13. Kendati demikian, dampak kejadiannya lebih besar. Beberapa jembatan dan area wisata mengalami kerusakan parah.
"After effect-nya lebih besar daripada kejadian sebelumnya di Guci," bebernya.
Pihaknya menyebut fasilitas yang terimbas banjir ialah Jembatan Jedor dan Pancuran 13, lalu Pancuran 5 beserta jembatan gantungnya juga mengalami rusak parah. Kini BPBD terus melakukan pemantauan dan pembersihan lumpur.
"TRC (tim reaksi cepat) terus melakukan pemantauan dan koordinasi lintas sektor dengan instansi terkait untuk pemulihan kawasan," tandasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi