Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Setiap Tahun ada 80 Ribu Temuan Kasus TBC di Jateng, Mayoritas Penderita Berusia Produktif

Khafifah Arini Putri • Kamis, 6 Februari 2025 | 18:55 WIB
(kiri-kanan) Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia Supriyanto menyerahkan laporan kegiatan penanganan TBC kepada Kepala Kesbangpol Jateng Haerudin.
(kiri-kanan) Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia Supriyanto menyerahkan laporan kegiatan penanganan TBC kepada Kepala Kesbangpol Jateng Haerudin.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Penyakit Tuberkolis (TBC) masih menjadi tantangan besar bagi Jawa Tengah. Setiap tahun rata-rata ditemukan 80 ribu kasus di provinsi ini.

Meski angka kesembuhannya mencapai 90 persen, masih banyak kendala dalam penanganannya.

Salah satunya karena rendahnya keterbukaan masyarakat dalam melaporkan penyakit TBC.Diketahui TBC ini merupakan penyakit menular.

Selain penanganan bagi penderita, pencegahan juga menjadi prioritas.

“Kasus di Jawa Tengah itu 2023 ke 2024 itu setahun bisa mencapai angka 80 ribu kasus baru. Jadi lumayan tinggi itu. Jadi tiap tahun itu rata-rata 80 ribuan kasus penemuannya,” jelas Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia (MSI) Supriyanto usai Rapat Koordinasi Wilayah Program Eliminasi TBC Komunitas Provinsi Jawa Tengah di Novotel, kemarin.

Dengan demikian di seluruh kabupaten/kota di Jateng rata-rata ditemukan 2000 pasien baru TBC baru setiap tahunnya. Mayoritas penyakit ini pasiennya diumur produktif antara 17 – 45 tahun.

Supriyanto menyebut kasus TBC ini bak fenomena gunung es, di luar kelihatan sedikit namun aslinya banyak masyarakat yang mengidap penyakit ini tapi tidak mau melapor.

Pihaknya pun terus berupaya untuk terus mengejar temuan kasus TBC, sehingga pengobatan menjadi tempat sasaran.

“Tapi kalau TBC itu kan fenomena gunung es. Jadi di luar kelihatan sedikit tapi di bawahnya kan kelihatan banyak. Lah itu yang kita kejar. Jadi semakin banyak yang ketemu semakin baik karena dengan semakin banyak yang ditemukan sasaran untuk yang diobati semakin jelas gitu,” tegasnya.

Targetnya dalam rakor ini ialah merapatkan barisan dengan stakeholder terkait untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap TBC.

Sebab alasan mereka tidak mau melapor ketika terkena TBC karena penyakit ini mempunyai stigma negatif yang merugikan terutama di dunia kerja.

“Pengobatan angka kesembuhan di Jawa Tengah itu di atas 90 persen. Tapi kemudian kenapa kasusnya tetap tinggi, karena itu penemuannya itu yang masih banyak kendala. Karena ya tadi enggak semua orang yang punya gejala TBC mau datang sendiri ke Puskesmas, ke rumah sakit itu kan jarang,” tegasnya.

Sementara Kepala Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah Haerudin yang turut hadir menyampaikan perlu kerja keras lintas sektor dalam penanganan TBC ini.

Sebagai Pembina organisasi Masyarakat pihaknya mendukung penuh kegiatan ini.  Menurutnya ada tiga konsentrasi yang perlu dilakukan, diantaranya menemukan penderita TBC, melakukan pencegahan, dan melaksanakan pendampingan.

“(kolaborasi) Ini kan dibutuhkan kerja keras untuk teman-teman relawan di lapangan, dan tiga hal yang menjadi konsentrasi dari teman-teman, pertama itu mereka menemukan penderita dari TBC, kedua melakukan pencegahan, dan terakhir melakukan pendampingan,” ungkapnya. (kap/bas)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#TBC #jateng #penanganan #Usia #kasus #produktif #tuberkulosis #MSI #Pencegahan #penyakit #JAWA TENGAH