“Saya belajar (ngedit) dari teman saat di rumah tahanan (Rutan),”ujarnya saat dimintai keterangan di Mapolres Demak, kemarin.
Dia menuturkan, dari pembuatan upal itu, total keuntungan yang sudah diraup mencapai Rp 100 jutaan. Ia mengaku, hasil itu diperoleh berkat kerja sama yang baik antara dirinya dengan Muhamad Saerofi alias Doyok (adiknya), Rifqi Rosadi, dan tersangka lainnya.
“Saya kerja sama dengan empat orang, dan tiga orang lainnya termasuk kakak saya (Wono Khoirun) selaku penjual upal,”katanya.
Nasirun mengatakan, ia dan tim upalnya setidaknya telah mencetak dan mengedarkan upal sebesar Rp 618 jutaan. Sekali print bisa memproduksi 40 lembar upal. Upal sudah beredar di wilayah Demak, Kendal, dan daerah sekitar.
“Saya sudah mencetak lebih dari setahun. Saya sendiri kontrak di Kelurahan Mangunjiwan sudah 1,5 tahun,” akunya.
Dia mengaku setelah bebas dari penjara, ia bekerja sebagai nelayan. Selain itu, pernah merantau dan berjualan keliling kue terang bulan. Setelah itu, ia baru memproduksi upal bersama kelompoknya.
“Yang pesan upal lewat FB secara inbox, orangnya tidak bisa diketahui langsung atau fiktif,”katanya.
Sebelum ada kejadian pembunuhan terhadap balita RDW, ia dan timnya sempat berhenti tiga hari tidak mencetak upal.
“Untuk bulan Desember ini setidaknya sudah mencetak 300-an lembar pecahan Rp 50 ribu,”ujarnya. (hib/aro) Editor : Agus AP