RADARSEMARANG.ID, Semarang - Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah.
Terutama puasa sunnah pada hari-hari pertama bulan Dzulhijjah.
Salah satu puasa yang paling utama adalah puasa Arafah.
Baca Juga: Puasa Zulhijah, Tarwiyah, Arafah 2025: Niat, Tata Cara, Keutamaan dan Jadwal Waktu Pelaksanaan
Puasa ini dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, yakni sehari sebelum Idul Adha.
Keutamaan puasa Arafah sangat luar biasa, disebutkan dalam hadits bahwa puasa ini dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Namun, pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat adalah, bolehkah puasa Arafah digabung dengan puasa Qadha Ramadhan?
Baca Juga: Tiga Puasa Sunnah yang Bisa di Amalkan Jelang Idul Adha, Ini Dia Rangkumannya
Dalam arti lain, bagi orang yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan, apakah diperbolehkan melaksanakan puasa Arafah sambil membayar utangnya?
Mayoritas ulama dari berbagai mazhab menyatakan bahwa, boleh hukumnya menggabungkan puasa sunnah dengan puasa wajib termasuk qadha Ramahan.
Selama niat utamanya adalah untuk menunaikan puasa yang wajib.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, dalam salah satu kajian menjelaskan, "Puasa Arafah adalah sunnah dan qadha Ramadhan adalah wajib. Jika seseorang hanya mampu melakukan satu jenis puasa di hari itu, maka utamakan yang wajib. Namun, jika dia niat qadha dan berpuasa pada hari Arafah, maka menurut jumhur ulama, dia tetap bisa mendapatkan pahala puasa Arafah."
Penjelasan ini didukung pula oleh ulama kontemporer seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Syaikh Yusuf al-Qaradawi.
Baca Juga: Kapan Puasa Dzulhijjah 2025? Berikut Jadwal, Tata Cara, serta Keutamaannya
Keduanya menekankan bahwa penggabungan niat diperbolehkan dalam ibadah puasa, selama niat utama difokuskan pada ibadah yang wajib.
Dalam ilmu fikih, praktik seperti ini dikenal sebagai tadakhul an-niyat atau penggabungan niat.
Kaidahnya, jika dua ibadah berasal dari jenis yang berbeda, satu wajib dan satu sunnah, dan dapat dilakukan secara bersamaan tanpa mengurangi rukun ibadah, maka sah dan diperbolehkan untuk menggabungnya.
Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha yang Dalam dan Cocok Buat Dibagikan
Namun para ulama juga mengingatkan, meskipun secara hukum boleh, memisahkan puasa qadha dan puasa sunnah tetap lebih utama jika memungkinkan.
Hal ini agar masing-masing ibadah mendapatkan keutamaan yang sempurna dan tidak saling menumpang.
Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui penjelasan beberapa tokohnya, menyatakan tidak ada larangan menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Arafah.
Asalkan niatnya jelas dan tidak menyamakan kedudukan keduanya.
Puasa qadha tetap harus diniatkan sebagai ibadah pengganti yang wajib.
Sementara puasa Arafah bisa menjadi bonus pahala jika bertepatan waktunya.
"Jika kita berpuasa qadha Ramadhan di hari Arafah, maka utamanya tetap niat qadha. Tapi keutamaan Arafah, insyaAllah tidak akan hilang. Allah Maha Mengetahui usaha dan niat hamba-Nya," ujar Ketua MUI bidang Dakwah, KH. Cholil Nafis.
Bagi umat Islam yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan, tetapi ingin meraih keutamaan puasa Arafah, menggabungkan niat adalah solusi praktis dan sah menurut syariat.
Namun, jika memiliki cukup waktu dan tenaga, maka lebih utama memisahkannya.
Editor : Baskoro Septiadi