RADARSEMARANG.ID, Semarang – Jago melawak di depan kamera, belum tentu berani menghadapi ular sungguhan. Itulah yang terjadi saat para pemain GJLS Berapi-Api mengikuti special screening di XXI Mall Ciputra Semarang.
Begitu petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang mengeluarkan ular, suasana langsung pecah. Teriakan histeris pun mewarnai acara tersebut.
Kejutan itu bukan sekadar aksi iseng. Para pemain diajak merasakan langsung salah satu tantangan yang biasa dihadapi petugas damkar saat menolong masyarakat. Bedanya, kali ini bukan adegan film. Ular yang dihadapi benar-benar hidup!
Baca Juga: Mahasiswa Koas Ditemukan Meninggal di Kursi Kamar Kos Smearang, Buku-buku Masih Tergeletak
Hifdzi Khoir terang-terangan mengaku ciut nyali. Padahal, selama proses produksi, para pemain sudah mendapat workshop penanganan sejumlah situasi darurat. Mulai dari memadamkan api kecil dan besar hingga memegang buaya yang ditutup karung. Namun, urusan ular ternyata menjadi pengecualian.
“Ular saya yang paling takut. Si ular. Heeh. Saya enggak biasa megang yang banyak-banyak. Ini hebat namanya Damkar,” ujar Hifdzi, masih menunjukkan ekspresi ketakutan.
Film yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 5 November 2026 itu dibintangi Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, Aurra Kharisma, Carissa Perusset. Kali ini, GJLS mencoba keluar dari zona nyaman.
Jika film sebelumnya, GJLS: Ibuku Ibu-Ibu, mengandalkan cerita absurd dan komedi yang lepas, GJLS Berapi-Api menawarkan kisah yang lebih terstruktur. Latar ceritanya pun lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: perjuangan petugas pemadam kebakaran menjalankan tugas di tengah beragam persoalan masyarakat.
Rigen menyebut perubahan konsep itu menjadi tantangan tersendiri. Mereka ingin membuktikan bahwa GJLS tak hanya bisa mengandalkan kelucuan absurd.
“Setelah film pertama selesai tayang, kami ngobrol dan mencoba menantang diri sendiri. Bisa enggak sih GJLS bikin film yang benar-benar berbeda, dengan konsep lebih serius, cerita lebih matang, tetapi tetap lebih lucu?” kata Rigen.
Menurut dia, film pertama memang sengaja dikemas dengan pendekatan tak lazim. Bahkan, adegan bloopersdan cerita absurd menjadi bagian dari sajian komedinya. Kali ini, mereka mencoba menghadirkan alur yang lebih jelas dengan sentuhan drama lebih kuat, tanpa kehilangan ciri khas GJLS.
Hifdzi pun merasakan perbedaan itu. Film terbaru mereka tak sekadar mengundang tawa, tetapi juga menyelipkan momen haru yang membuat penonton larut dalam cerita.
“Kalau yang ini tuh aku benar-benar kayak ada beberapa momen tuh aku nangis. Ada nangis terus ketawa lagi. Ada rasa harunya, rasa hangatnya. Terus juga ada beberapa momen pas nangis tapi sambil ketawa,” tuturnya.
Baca Juga: Suzuki Panggil 9.024 Pemilik Satria F150 dan Satria Pro, Cek Rangka dan Tangki Gratis!
Rispo menambahkan, sejumlah peristiwa dalam film terinspirasi dari kejadian nyata yang berkaitan dengan pekerjaan petugas damkar. Namun, cerita kemudian berkembang ke ranah fiksi yang lebih dramatis.
Salah satunya, keterlibatan para tokoh dalam sindikat penjualan anak. Rispo menegaskan, bagian tersebut merupakan pengembangan cerita untuk kebutuhan film, bukan gambaran kasus nyata yang mereka tangani secara langsung.
“Kalau kejadiannya memang mungkin banyak yang nyata. Cuma di film ini, yang mungkin belum pernah disampaikan, untuk kebutuhan film, kita bertiga akhirnya terlibat dalam sindikat penjualan anak. Itu kan memang cuma ada di film dan di skrip,” jelasnya.
Di balik komedi dan drama yang disuguhkan, film ini juga menjadi pengingat bahwa pekerjaan damkar tak melulu soal memadamkan api. Ada banyak panggilan penyelamatan yang menuntut keberanian, keterampilan, dan kecepatan petugas.
Sekretaris Dinas Damkar Kota Semarang Ade Bakti mengaku terhibur setelah menyaksikan film tersebut. Ia bahkan mengaku terus tertawa sepanjang pemutaran.
“Alhamdulillah. Ini mulutnya enggak bisa mingkem dari tadi, ketawa terus lihat filmnya,” ujarnya.
Ade hadir bersama sejumlah petugas Damkar Kota Semarang yang mengenakan seragam. Kehadiran mereka sekaligus menunjukkan sisi lain profesi yang kerap berhadapan dengan situasi berbahaya.
Menurut Ade, tugas damkar mencakup berbagai layanan penyelamatan atau rescue. Mulai dari penanganan hewan (animal rescue), penyelamatan di air (water rescue), hingga penyelamatan di ketinggian (vertical rescue).
Bahkan, petugas bisa menerima laporan warga yang menghadapi persoalan keluarga dan membutuhkan bantuan. Ade menceritakan pengalaman ketika seorang anak menghubungi petugas melalui pesan langsung. Setelah menelusuri kondisi anak tersebut, petugas memutuskan mendatangi lokasi untuk memberikan pertolongan.
Bagi Ade, pengalaman itu menunjukkan bahwa pelayanan damkar tak selalu bermula dari kobaran api atau sirene kebakaran.
Ada kalanya, petugas harus turun tangan menghadapi persoalan kemanusiaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Lewat GJLS Berapi-Api, perjuangan para petugas itu dibungkus dengan komedi. Namun, pesan di baliknya tetap serius: di balik seragam damkar, ada orang-orang yang siap menghadapi berbagai risiko demi membantu masyarakat. (ifa/zal)
Editor : Baskoro Septiadi