RADARSEMARANG.ID, Semarang —Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi belakangan ini sedang menuai atensi publik di media sosial.
Banyak sekali berseliweran konten yang menampilkan sepak terjang politik pria yang akrab disapa Kang Dedi itu.
Kini, ada salah satu konten berisi Kang Dedi yang juga kembali mencuri perhatian netizen.
Bukan aktivitas politik atau kegiatan sebagai Gubernur Jawa Barat, konten itu menampilkan bagaimana akting Kang Deddy kala bermain sinetron.
Siapa sangka, Kang Deddy pernah melakoni karakter Kanjeng Watuh di sinetron berjudul 7 Manusia Harimau yang tayang di televisi nasional.
Dalam cuplikan itu, Kang Dedi beradu akting dengan aktor ternama Willy Dozan.
Tentu saja, banyak pengguna media sosial yang kemudian ikut tak menyangka ternyata Kang Dedi pernah bermain sinetron.
Bahkan, ada yang merasa wajar bila Kang Dedi kini bisa sukses menuai atensi publik lewat berbagai konten di media sosial.
Tak sedikit netizen yang meragukan apakah itu benar KDM.
Sebagian lainnya menyebut kemiripannya dengan almarhum Mat Solar sebagai alasan kebingungan mereka.
“Bukannya itu Mat Solar?” tulis @2ndx***.
“Ternyata KDM emang multitalent,” ujar @dinda***.
“Bandananya gk pernah lepas ya,” kata @rvis***.
Sebelum menjadi seorang politisi, ternyata Dedi Mulyadi pernah mencoba terjun di dunia akting lho.
Baru-baru ini viral kembali video lawas Dedi Mulyadi yang beradu akting dengan aktor senior, Willy Dozan.
Penampilan sang Gubernur Jawa Barat di sinetron itu pun membuat banyak orang takjub karena rupanya tak banyak yang tahu kalau politikus yang lagi naik daun itu pernah menjadi pemain sinetron.
Diketahui, dalam sinetron 7 Manusia Harimau, ia berperan sebagai Kanjeng Watu.
Dalam tayangan itu, ia beradu akting dengan Willy Dozan yang memerankan karakter Harimau Tunggal.
Harimau Tunggal itu awalnya memberi salam kepada Kanjeng Watu.
Namun, tokoh yang diperankan Dedi membalas sapaan Harimau Tunggal itu dengan nada dingin dan tatapan tajam.
Kehadiran si Harimau Tunggal itu rupanya membuat Kanjeng Watu marah.
Kemudian, keduanya berkelahi dengan aksi saling menyerang.
Namun, akhirnya Kanjeng Watu berhasil dikalahkan oleh Harimau Tunggal.
Tak banyak yang tahu, Gubernur Jawa Barat itu ternyata pernah menjajal dunia seni peran pada 2014.
Penampilan Dedi Mulyadi yang khas dan berwibawa dalam balutan busana adat Sunda berhasil mencuri perhatian.
Apalagi saat ia beradu akting dengan aktor laga legendaris Willy Dozan.
Kini, potret lawas sang gubernur di sinetron 7 Manusia Harimau tersebut kembali viral dan memicu rasa kagum netizen atas kiprah pria yang akrab disapa Kang Dedi itu di dunia hiburan.
Dalam salah satu adegan, Dedi terlihat mengenakan pakaian adat khas Sunda berwarna cokelat gelap lengkap dengan ikat kepala.
Penampilannya yang berwibawa menggambarkan karakter pendekar penuh kharisma, sejalan dengan nuansa lokal yang diusung dalam sinetron tersebut.
Salah satu potret memperlihatkan momen ketika Dedi berinteraksi langsung dengan tokoh yang diperankan Willy Dozan.
Dengan ekspresi tegas, ia melontarkan kalimat penuh tekanan, “Tidak usah basa-basi.
Kau telah mengganggu ketenanganku. Siapa kau yang sebenarnya?” Ekspresi wajahnya menunjukkan ketegangan dan keberanian dalam menghadapi konflik.
Dalam adegan lainnya, Dedi berdiri dengan tenang di tengah situasi yang memanas, memperhatikan pertarungan sengit yang berlangsung.
Meskipun tidak terlibat langsung dalam duel fisik, sorot matanya yang tajam dan sikapnya yang tenang menunjukkan posisi pentingnya sebagai pemimpin yang dihormati.
Ketegangan memuncak saat karakter Kanjeng Watu, yang diperankan Dedi, terpancing emosinya oleh kemunculan tokoh Harimau Tunggal.
Adegan ini menandai titik puncak konflik antara dua sosok penting, yang akhirnya berujung pada pertarungan dramatis.
Dalam klimaks cerita, karakter Kanjeng Watu mengalami kekalahan.
Dengan lapang dada, ia mengakui kesalahannya kepada Harimau Tunggal dan menyampaikan permintaan maaf atas tindakannya.
Adegan ini menjadi penutup yang kuat dan menunjukkan sisi bijaksana sang tokoh.
Keterlibatan Dedi Mulyadi dalam dunia sinetron menambah warna dalam perjalanan hidupnya.
Ia tak hanya dikenal sebagai sosok politisi dan tokoh budaya Sunda, namun juga memiliki jejak dalam dunia seni peran. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi